Saya pernah merasa gelisah hanya karena melihat notifikasi. Bukan karena ada hal penting, tapi karena takut melewatkan sesuatu.
Entah itu kabar terbaru, tren yang sedang ramai, atau sekadar unggahan teman yang terlihat seru. Dari situ saya mulai sadar: mungkin ini yang disebut FOMO.
Awalnya terdengar sepele, tapi semakin saya jalani, perasaan ini ternyata lebih dalam dari sekadar takut ketinggalan. Ada sesuatu yang lebih personal di baliknya.
Selalu Ingin Tahu, Tapi Tidak Pernah Puas
Setiap kali membuka media sosial, saya seperti masuk ke dunia yang tidak ada habisnya. Selalu ada yang baru, selalu ada yang menarik.
Saya terus scroll, berharap menemukan sesuatu yang “cukup”. Tapi anehnya, rasa itu tidak pernah benar-benar datang. Justru yang ada, saya semakin merasa kurang.
Entah kurang update, kurang cepat, atau kurang “ikut”. Dan tanpa sadar, saya jadi terus mengejar sesuatu yang bahkan tidak jelas ujungnya.
Membandingkan Hidup Tanpa Henti
FOMO sering datang bersamaan dengan kebiasaan membandingkan. Saya melihat teman yang jalan-jalan, yang sudah mencapai sesuatu, atau yang terlihat punya hidup yang menyenangkan.
Di satu sisi, saya tahu itu hanya potongan kecil dari realita. Tapi di sisi lain, tetap saja terasa nyata. Saya mulai bertanya-tanya: kenapa hidup mereka terlihat lebih seru? Kenapa saya seperti tertinggal?
Padahal, mungkin saya tidak benar-benar tertinggal. Saya hanya terlalu sering melihat ke arah orang lain tanpa menyadari apa yang sebenarnya sudah saya dapatkan.
Takut Tertinggal atau Takut Tidak Punya Tempat?
Semakin saya refleksi, saya mulai sadar kalau FOMO bukan hanya soal ketinggalan tren atau informasi. Lebih dari itu, ada rasa takut tidak menjadi bagian dari sesuatu.
Saya takut tidak dianggap, tidak dilibatkan, atau bahkan tidak diingat. Ada kekhawatiran diam-diam tentang bagaimana kalau saya tidak ada di lingkaran itu? Bagaimana kalau saya sendirian?
Dan mungkin, itu yang sebenarnya paling saya takutkan, menjadi sendirian di tengah dunia yang sangat sibuk.
Selalu Online, Tapi Tetap Merasa Kosong
Ironisnya, meskipun saya selalu terhubung secara digital, rasa kosong itu tetap ada. Saya bisa tahu banyak hal tentang orang lain, tapi tidak benar-benar merasa dekat.
Saya bisa ikut tertawa di kolom komentar, tapi tidak benar-benar merasa terhubung. Semakin sering saya online, semakin saya merasa lelah.
Seperti terus berada di keramaian, tapi tidak benar-benar punya tempat untuk pulang. Seperti memiliki dunia, tapi juga sekaligus merasa kesepian.
Belajar Melepas, Meski Tidak Mudah
Menghadapi FOMO bukan hal instan. Saya tidak langsung bisa berhenti membandingkan atau merasa cukup. Tapi saya mulai mencoba hal kecil.
Mengurangi waktu di media sosial, tidak selalu membuka setiap notifikasi, dan memberi ruang untuk diri sendiri tanpa distraksi.
Awalnya terasa aneh, seperti ada yang hilang. Tapi lama-lama, saya mulai merasakan sesuatu yang jarang saya dapat sebelumnya: tenang.
Saya mulai menikmati momen. Saya mulai melakukan sesuatu bukan karena ingin terlihat, tapi karena memang ingin.
Menemukan Makna “Cukup” Versi Sendiri
Salah satu pelajaran terbesar yang saya dapat adalah tidak semua hal harus saya ikuti. Tidak semua tren harus saya coba. Tidak semua momen harus saya hadiri. Dan tidak semua hal yang orang lain lakukan relevan untuk saya.
Saya mulai belajar menentukan apa yang benar-benar penting untuk hidup saya sendiri. Dan dari situ, saya perlahan menemukan arti “cukup”—bukan dari luar, tapi dari dalam diri saya sendiri.
Tidak Ikut Semua, Bukan Berarti Tertinggal
FOMO mungkin tidak akan benar-benar hilang. Di era digital seperti sekarang, godaannya selalu ada. Tapi saya percaya, kita bisa belajar mengelolanya karena pada akhirnya hidup bukan tentang ikut semua hal agar terlihat “ada”.
Hidup adalah tentang memilih apa yang benar-benar berarti. Dan mungkin, sesekali kita perlu bertanya ke diri sendiri: saya benar-benar takut tertinggal atau sebenarnya hanya takut sendirian?
Jawabannya bisa jadi tidak nyaman, tapi dari situlah kita mulai lebih jujur dan mengenal diri sendiri.
Tag
Baca Juga
-
Kapan Nikah? Bukan Sekadar Basa-basi, Melainkan Beban Ekspektasi Tak Kasat Mata
-
Tidur Sekasur tapi Rasanya Seperti Teman Sekamar? Kenali 5 Tanda Pernikahan Sedang Sekarat
-
Hubungan Sempurna di Medsos Cuma Ilusi? Ini Bukti Gen Z Mulai Sadar!
-
Skincare Routine ke Beauty Consumerism: Self-Care Dijadikan Alasan Belanja?
-
Single Life Bukan Kegagalan: Saat Perempuan Tak Lagi Takut Hidup Melajang
Artikel Terkait
-
FOMO Beli HP Mahal: Rela Utang Demi Gengsi
-
Usia 20-an dan Rasa Cemas soal Masa Depan: Mengupas Makna Lagu Takut
-
Korban FOMO Merapat! Eksotisnya Wajah Sungai Bogowonto Purworejo Saat Surut
-
Gen Z dan FOMO Nonton Konser: Bukan Cuma Hiburan, Tapi Membeli Pengalaman
-
81 Tahun Indonesia Merdeka, Mengapa Kita Masih Takut Menatap Masa Depan?
Kolom
-
Karier atau Kesehatan Mental, Haruskah Selalu MemilihThe more I see things like this, Salah Satunya?
-
Membongkar Rapuhnya Pendidikan Indonesia: Masihkah Kita Mau Menyangkal?
-
Kapan Nikah? Bukan Sekadar Basa-basi, Melainkan Beban Ekspektasi Tak Kasat Mata
-
Boro-boro Financial Freedom, Gen Z Masih Paycheck to Paycheck
-
Mekanisme Reshuffle Kabinet: Hak Prerogatif atau Batas Konstitusi?
Terkini
-
Menilik Sisi Rapuh Stray Kids Lewat Lagu Sorry, I Love You, Bikin Nyesek!
-
SSS-Class Revival Hunter Dapat Adaptasi Anime, Tayang Januari 2027
-
Kulit Bebas Breakout! 5 Low pH Cleanser Tea Tree yang Ramah Skin Barrier
-
Review Practical Magic: The Book of Magic: Saat Perempuan Menulis Takdirnya
-
VR46 Rilis Buku Baru, Marc Marquez Ngaku Baru Mau Baca Kalau Sudah Pensiun