Pada Kamis (27/8/2026), Malioboro kembali menjadi panggung perlawanan. Massa Forum BEM Se-DIY bergerak dari DPRD DIY menuju Gedung Agung hingga Titik Nol Kilometer. Ada yang berorasi lantang, ada yang berdebat dengan polisi, dan ada pula yang memilih cara yang sedikit berbeda.
Spartan, mahasiswa Universitas Sanata Dharma, menggunakan bahasa Inggris ketika berorasi agar wisatawan yang berada di Malioboro memahami apa yang sedang terjadi di Indonesia. Pada kesempatan lain, ia justru menggunakan bahasa Jawa. Dua bahasa, dua sasaran, satu tujuan, yakni menyampaikan pesan politik.
Di tempat lain dalam aksi yang sama, mahasiswa berdebat dengan polisi mengenai pemasangan spanduk. Ketika aparat tetap melarang spanduk ditempelkan di pagar, salah seorang mahasiswa bahkan menyindir agar polisi saja yang memegangnya. Bukan kompromi. Bukan pula kemenangan besar. Hanya sebuah cara kecil untuk menyiasati situasi ketika ruang gerak mereka sedang dibatasi.
Adegan-adegan kecil semacam ini mengingatkan saya pada satu buku lama yang masih terasa menyebalkan karena relevan, yaitu buku “Weapons of the Weak: Everyday Forms of Peasant Resistance” karya James C. Scott. Buku yang pertama kali diterbitkan Yale University Press pada 1985 ini berangkat dari penelitian Scott terhadap masyarakat petani di Sedaka, Malaysia.
Scott ingin menunjukkan bahwa politik perlawanan tidak hanya dapat ditemukan dalam pemberontakan besar, revolusi, atau gerakan massa. Ia juga hidup dalam tindakan-tindakan kecil yang dilakukan orang-orang yang tidak memiliki kekuatan sama sekali.
Kita sering memiliki definisi perlawanan yang terlalu dramatis. Seolah-olah seseorang baru bisa disebut melawan kalau sudah turun ke jalan, membawa poster, mengepalkan tangan, lalu berteriak sampai serak tak berkesudahan.
Kalau tidak melakukan semua itu, kita dianggap sedang mencari aman. Padahal, Scott justru mengajak kita melihat politik dari tempat yang jauh lebih rendah, yaitu dari orang-orang yang tidak memiliki modal, jabatan, senjata, atau akses langsung kepada kekuasaan.
Dalam penelitian Scott, kelompok yang lemah menggunakan apa yang ia sebut sebagai weapons of the weak atau senjata kaum lemah. Bentuknya dapat berupa penghindaran, pura-pura patuh, mengulur pekerjaan, gosip, pembangkangan kecil, hingga berbagai tindakan simbolik yang sulit dibaca sebagai pemberontakan terbuka.
Yale University Press menyebutnya sebagai perjuangan yang berlangsung terus-menerus dan penuh kehati-hatian, sementara teknik penghindaran dan resistensi tersebut dapat menjadi bagian penting dari perjuangan kelas dalam jangka panjang.
Yang menarik, Scott tidak sedang mengajarkan orang untuk menjadi pengecut. Ia justru sedang menunjukkan bahwa suatu kekuatan yang besar tidak selalu harus dilawan dengan kekuatan yang sama besarnya pula. Orang kecil tidak harus memiliki meriam untuk mengganggu benteng. Kadang mereka hanya membutuhkan celah.
Karena itu, orasi Spartan menarik dibaca melalui perspektif tersebut. Bahasa Inggris yang digunakannya bukan sekadar gaya agar terlihat keren di tengah demonstrasi. Ia secara sadar mengatakan bahwa bahasa tersebut ditujukan kepada warga asing di Malioboro agar mereka mengetahui situasi Indonesia dan membawa cerita itu ke jaringan mereka. Sementara ketika menggunakan bahasa Jawa, ia berbicara dengan bahasa yang lebih dekat kepada masyarakat lokal.
Satu orang, dua bahasa, dua arena komunikasi. Kalau bahasa Inggris membuka jendela ke luar, bahasa Jawa membuka pintu ke dalam. Perlawanan ternyata tidak selalu soal siapa yang paling keras berteriak. Kadang persoalannya adalah siapa yang paling cermat menentukan kepada siapa pesan harus disampaikan dan melalui bahasa apa.
Begitu pula dengan spanduk yang diperdebatkan mahasiswa dan polisi. Mahasiswa tidak memiliki kewenangan untuk menentukan bagaimana aparat mengatur kawasan Gedung Agung. Mereka juga tidak bisa memaksa polisi menerima tafsir mereka begitu saja. Tetapi mereka masih memiliki ruang untuk bernegosiasi, menyindir, mempertanyakan dasar hukum, dan memainkan simbol di tengah situasi tersebut. Itulah salah satu hal yang membuat gagasan Scott menjadi menarik, politik tidak berhenti ketika kita tidak memiliki kekuasaan.
Dan mungkin di sinilah buku Scott menjadi relevan bagi kita semua hari ini. Kita tidak semuanya aktivis. Tidak semua orang punya waktu untuk mengikuti konsolidasi sampai tengah malam. Tidak semua orang sanggup berdiri berjam-jam di bawah matahari sambil membawa poster. Sebagian dari kita mungkin hanya pekerja yang berangkat pagi, pulang sore, lalu menghabiskan malam dengan badan yang sudah remuk.
Lantas apakah kita otomatis tidak peduli? Tidak juga. Membaca buku yang kritis bisa menjadi cara mempertahankan akal sehat. Menyebarkan informasi yang benar bisa menjadi cara melawan kebodohan. Mendukung orang yang sedang memperjuangkan sesuatu bisa menjadi bentuk solidaritas. Mengkritik kebijakan ketika semua orang memilih diam juga merupakan tindakan politik. Bahkan menolak ikut menormalisasi sesuatu yang jelas-jelas salah adalah sebuah bentuk perlawanan.
Tetapi Scott juga memberi peringatan penting, bahwa jangan menganggap setiap tindakan kecil otomatis akan menghasilkan revolusi. “Weapons of the Weak” justru menunjukkan bahwa resistensi sehari-hari bekerja dalam ruang yang penuh keterbatasan. Ia bisa berhasil, gagal, tersembunyi, atau bahkan tidak mengubah struktur secara langsung. Kajian-kajian setelah Scott pun terus memperdebatkan batas dan efektivitas konsep tersebut.
Namun setidaknya ada satu hal yang dapat kita pelajari: “ketiadaan revolusi bukan berarti ketiadaan perlawanan.” Mungkin kita memang tidak perlu menjadi pahlawan setiap hari. Terlalu melelahkan, lagipula cicilan dan deadline tetap menunggu. Tetapi kita masih bisa menemukan celah-celah kecil untuk tidak sepenuhnya tunduk pada keadaan.
Sebab sebagaimana ditunjukkan Scott, orang-orang yang lemah pun memiliki senjatanya sendiri. Hanya saja, bentuknya mungkin tidak selalu terlihat seperti senjata.
Baca Juga
-
Nggak Lagi Ragu Ganti Provider, Saatnya Beralih ke XL yang Terbukti Juara
-
Koruptor Kaya, Pemuda Merana: Menantang Impunitas lewat RUU Perampasan Aset
-
Pemasangan Spanduk Dilarang di Gedung Agung, Mahasiswa dan Polisi Berdebat
-
250 Polisi Kawal Demo Forum BEM DIY, Massa Diperkirakan 100 Orang
-
Forum BEM DIY Demo di Jogja, Bawa 10 Tuntutan ke Pemerintah
Artikel Terkait
Ulasan
-
Dari Puisi Kampus hingga Renungan Cendekiawan: Membaca Dari Waktu ke Waktu
-
Dibalik Aksi Copet Massal, Ada "Arsip Zaman" Skena Musik Indonesia di Film Operasi Pesta Copet
-
Review Film Motor City: Sengaja Mengorbankan Cerita demi Gaya
-
Lagi Capek-capeknya Hidup? Lagu 'Bersenja Gurau' Raim Laode Ini Wajib Kamu Dengar
-
Jangan Asal Buka Kiriman Misterius! Review Paket Santet: Petaka Belanja Online Mistik yang Kejam
Terkini
-
Bye Iritasi! 4 Physical Sunscreen Probiotic Jaga Microbiome Kulit Sensitif
-
Vivo X500 Series Resmi Meluncur September 2026, Usung Kamera 200 MP dan Video Sinematik
-
Siap-siap War! Tiket Konser BIGBANG di Jakarta Dijual Mulai Rp1,5 Juta, Cek Harganya di Sini
-
Rekomendasi 7 Sepatu Gunung Terbaik dan Awet: Mulai 500 Ribuan Aja!
-
SEVENTEEN Akan Hiatus untuk Wajib Militer, Sisa 5 Member yang Tetap Aktif