Sihir dalam film Practical Magic: The Book of Magic lebih menarik ketika dibaca sebagai bahasa lain untuk membicarakan kehidupan perempuan. Di balik mantra, buku sihir, kutukan keluarga, dan hubungan dengan dunia supernatural, film ini menyimpan cerita tentang perempuan yang terus berusaha menentukan jalan hidupnya sendiri di tengah takdir masa lalu yang seolah-olah sudah menetapkan nasib mereka sejak lahir.
Practical Magic: The Book of Magic yang rilis di bioskop Indonesia sejak 9 September 2026 merupakan film drama fantasi Amerika Serikat produksi Alcon Entertainment, Di Novi Pictures, Fortis Films, dan Blossom Films, dengan Warner Bros. Pictures sebagai distributornya. Film ini disutradarai Susanne Bier dan ditulis Akiva Goldsma, Georgia Pritchett, serta Kelly Marcel.
Sandra Bullock dan Nicole Kidman kembali sebagai Sally Owens dan Gillian Owens, ditemani Joey King sebagai Kylie, Maisie Williams sebagai Antonia, Lee Pace, Xolo Maridueña, Solly McLeod, Dianne Wiest sebagai Aunt Jet, serta Stockard Channing sebagai Aunt Frances. Ceritanya mengambil pijakan dari novel The Book of Magic karya Alice Hoffman yang terbit pada 2021.
Film ini membawa penonton kembali pada keluarga Owens hampir tiga dekade setelah kisah sebelumnya. Sally dan Gillian sudah memasuki fase kehidupan yang berbeda. Sally masih membawa luka dari kehilangan orang yang dicintainya, sementara Gillian tetap jadi sosok yang lebih bebas dan berani menghadapi sisi magis keluarganya.
Kutukan lama keluarga Owens masih membayangi hubungan cinta para perempuan di garis keturunan mereka, dengan laki-laki yang dicintai perempuan Owens selalu berhadapan dengan konsekuensi tragis. Ketika Kylie, putri Sally, berhadapan dengan dampak kutukan tersebut setelah kekasihnya jatuh koma, rahasia mengenai sihir keluarga kembali terbuka.
Kylie kemudian mengambil sebuah buku sihir penting dan pergi ke Inggris demi menemukan jalan untuk mematahkan kutukan. Sally dan Gillian menyusul untuk menyelamatkannya, sekaligus menghadapi kembali akar persoalan yang selama ini membayangi keluarga mereka.
Tambah seru ceritanya, deh!
Ketika Darah Keluarga Bukan Lagi Sebuah Takdir
Di sini, keluarga Owens ibarat mewarisi aturan hidup yang sudah ditulis jauh sebelum generasi baru sempat memilih. Perempuan-perempuan di dalamnya tumbuh dengan pengetahuan: cinta bisa membawa kehilangan. Pilihan untuk mencintai pun akhirnya selalu berhadapan dengan ketakutan pada akibatnya.
Sally jadi gambaran paling jelas mengenai kondisi tersebut. Setelah kehilangan, dia memilih menjauh dari sihir dan berusaha melindungi anak-anaknya. Niatnya masuk akal, hanya saja perlindungan semacam itu juga berpotensi berubah jadi bentuk lain dari pengendalian. Anak-anaknya tetap harus berhadapan dengan (anggaplah kutukan) yang sama ketika kebenaran akhirnya muncul. Film ini memperlihatkan, menyembunyikan masa lalu belum tentu mampu memutus pengaruhnya.
Kylie kemudian menjadi gambaran generasi yang memperoleh kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri. Dia memang mewarisi sihir, kutukan, dan sejarah keluarganya, tapi dia juga punya keberanian untuk mencari jalan keluar dengan caranya sendiri. Perjalanan menuju Inggris akhirnya seperti perjalanan untuk merebut kembali hak menentukan nasibnya. Sihir yang semula terlihat sebagai beban perlahan berubah jadi alat untuk memahami siapa dirinya dan dari mana kekuatannya berasal.
Gagasan tersebut membuat Practical Magic: The Book of Magic terasa dekat dengan pengalaman perempuan yang sering ditempatkan dalam berbagai aturan nggak tertulis. Keluarga menentukan batas, lingkungan menentukan pilihan, pengalaman buruk menentukan rasa takut, lalu semua itu perlahan kayak kelamaan takdir.
Film ini menawarkan gagasan menarik lain terkait (warisan masa lalu) boleh dihormati tanpa harus selalu ditaati. Sayangnya, gagasan itu masih harus berbagi ruang dengan nostalgia yang cukup dominan. Kembalinya Bullock, Kidman, Wiest, dan Channing memang ngasih dampak emosional, sayangnya rasa nostalgia itu sangat dominan.
Meski begitu, inti temanya tetap menarik. Practical Magic: The Book of Magic akhirnya bukan cuma cerita tentang perempuan yang memiliki kemampuan menggunakan sihir. Film ini juga ngebahas tentang perempuan yang belajar dari keluarga, trauma, dan kutukan masa lalu, boleh jadi bagian dari dirinya tapi nggak perlu mengatur seluruh bagian hidupnya.
Baca Juga
-
Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar
-
Review Last Seen: Thriller yang Menekan Emosi, Bukan Cuma Twist Saja
-
Review Why Did I Get Married Again?: Biasa dan Mudah Ditebak
-
Review Cold Storage: Ketika Ruang Penyimpanan Berubah Jadi Perangkap
-
Simbolisme Angel dan Lucifer, Detective Conan: Fallen Angel of the Highway
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review Serial The Gentlemen Season 2: Pengkhianatan Berdarah Keluarga Glass
-
UlasanA Bona Fide Killer: Ketika Ibu Rumah Tangga Menyimpan Identitas sebagai Pembunuh
-
Petualangan ke Dunia Tanpa Titik Akhir di Buku Princess, Bajak Laut & Alien
-
Review Film I Want Your Sex: Saat Batas Antara Seni, Eksploitasi, dan Obsesi Menjadi Kabur
-
4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!
Terkini
-
VR46 Rilis Buku Baru, Marc Marquez Ngaku Baru Mau Baca Kalau Sudah Pensiun
-
Sepatu Ajaib Menyeberangi Sungai
-
Boro-boro Financial Freedom, Gen Z Masih Paycheck to Paycheck
-
Hwang Minhyun Diincar Gantikan Lee Jong Suk dalam Drama Iseop's Romance
-
Berkaca dari Konten Maudy Ayunda, Mengapa Stoikisme Sangat Relevan Menjaga Kewarasan?