Di tengah gonjang-ganjing ekonomi yang kian sulit, kehadiran gadget kelas atas selalu berhasil menyedot perhatian publik.
Apple baru saja meluncurkan lini terbarunya, iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max. Harganya yang melambung tinggi bahkan sudah setara dengan satu unit sepeda motor gres dari dealer.
Fenomena ini sejatinya bukan hal baru. Belum lama ini, pada 22 Juli 2026 lalu, Samsung juga lebih dulu merilis Galaxy Z Fold8, sebuah ponsel lipat canggih yang dibanderol dengan harga yang tak kalah selangit untuk ukuran alat komunikasi.
Menariknya, meski harganya bikin elus dada, linimasa media sosial justru dipenuhi riuh antusiasme netizen. Tidak sedikit yang secara terbuka mengaku tertarik, tergiur, hingga berburu pre-order agar bisa menjadi pemilik pertama.
Pertanyaannya, apakah kita memang sebutuh itu dengan teknologi super canggih tersebut, atau ini sekadar dahaga gengsi yang tak pernah tuntas?
Gaya Hidup Setinggi Langit, Pendapatan Sebatas UMR
Fenomena ini terasa kian menyentil ketika kita membenturkannya dengan realita ekonomi masyarakat Indonesia. Bagi pekerja dengan upah setara UMR, memboyong HP seharga motor tentu bukan keputusan yang tepat.
Pendapatan senilai Rp5,7 juta per bulan itu harus bertarung dengan banyaknya kebutuhan yang harus terpenuhi.
Sayangnya, kemudahan akses keuangan digital di era modern kerap kali membius logika sehat. Bukan rahasia lagi jika banyak yang memaksakan diri membeli ponsel canggih nan mahal menggunakan fitur pay later, kartu kredit, atau berbagai fasilitas "utang digital" lainnya.
Kalau dilihat, cicilan per bulannya mungkin tidak terlalu besar, tapi kalau dipikir-pikir, uang sebanyak itu bisa untuk memenuhi kebutuhan lain yang lebih penting.
Mencicil barang seharga belasan hingga puluhan juta rupiah demi perangkat yang fungsi utamanya sebatas untuk scrolling media sosial, berkirim pesan, dan mengambil foto sehari-hari jelas menjadi gambaran nyata bagaimana gengsi telah mengalahkan naluri bertahan hidup.
Lain halnya bagi para influencer atau figur publik yang memang membutuhkan perangkat canggih yang bisa menunjang karier mereka di industri hiburan, kalau cuma sekedar karyawan dengan gaji pas-pasan, membeli ponsel seharga satu buah unit motor rasanya kurang bijak.
Jebakan Status Sosial di Era Digital
Batas antara "kebutuhan" dan "gengsi" di masa kini memang semakin samar dan sulit dibedakan. Media sosial menciptakan standar gaya hidup semu yang membuat seseorang merasa tertinggal (FOMO) jika tidak menggenggam gawai dengan logo apel atau ponsel layar lipat terbaru.
HP yang dulunya hanya alat komunikasi, kini telah bergeser fungsi menjadi simbol status sosial untuk memperlihatkan citra diri yang sukses secara finansial.
Bukan fenomena aneh lagi jika sebagian orang rela mengorbankan kestabilan finansial dan hidup dalam bayang-bayang kejaran cicilan utang hanya demi pujian sesaat atau validasi di dunia maya.
Pada kenyataannya, gaya hidup “orang have” yang terlihat bahagia itu tak selamanya bisa dijadikan patokan di dalam kehidupan pribadi kita. Hidup itu sawang sinawang, begitu pepatah Jawa bilang.
Tidak ada yang salah dengan memiliki barang mewah jika kondisi finansial kita memang memadai dan membelinya secara bijak. Namun, fenomena gadget mahal dan utang digital ini menjadi tamparan keras bagi kita semua.
Teknologi seharusnya hadir untuk memudahkan kehidupan dan menunjang produktivitas, bukan justru menyeret kita ke dalam tekanan finansial akibat mengejar standar hidup orang lain.
Sebelum memutuskan untuk ikut-ikutan beli gadget mahal, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: apakah kita benar-benar membutuhkannya, atau kita hanya sedang membeli gengsi agar bisa terlihat seperti orang lain?
Baca Juga
-
Serial Crazy Rich Asians Resmi Digarap, Michelle Yeoh Bakal Comeback
-
Sinopsis The Exorcist: Martyrs, Scarlett Johansson Hadapi Pembunuh Berantai
-
The Conjuring: Unspoken, Game Horor Interaktif Berburu Hantu di Netflix
-
Warner Bros. dan Paramount Resmi Merger, Lahirkan Skydance
-
Dari Slasher hingga Thriller, Ini 8 Film Horor Netflix di Bulan Halloween
Artikel Terkait
-
Pre-order iPhone 18 Pro Dibuka Hari Ini, Ada Bonus Aksesori hingga Rp3 Juta
-
Gonta-Ganti HP Cuma Buat Gengsi? Awas, Kelas Sosial dari Layar Gadget Seringnya Cuma Ilusi!
-
Sering Terjebak FOMO? Ini 3 Langkah Tepat Membedakan Kebutuhan dan Keinginan
-
Urutan Zodiak yang Paling Susah Ditaklukkan Hatinya dan Gengsi Tinggi, Kamu Termasuk?
-
4 HP Warna Burgundy yang Lebih Murah dari iPhone 18 Pro, Performa Terbaik!
Kolom
-
Terorisme Ekologi Bernama Karhutla: Saat Rakyat Terpaksa Berhenti Bernapas
-
Tak Harus Nunggu Teman: Seni Menemukan Ketenangan Lewat Solo Date
-
Fenomena Gamer Rage: Saat Caci Maki dan Perundungan di Gim Dianggap Wajar
-
Perundungan Bukan Sekadar Candaan, Dehumanisasi Terus Terjadi pada Korban
-
Jalur Migrasi Terputus Akibat Kebun, Bencana Besar Mengintai Populasi Gajah Kita
Terkini
-
7 Dekade Berlalu, Ini 4 Alasan Mengapa Kritik Novel '1984' Makin Relevan Hari Ini
-
Tujuh Hari Sebelum Aku Menghilang
-
Tidak Semua Luka Terlihat, Ini Pentingnya Menjadi Pendengar Tanpa Menghakimi
-
Menanti Kejelasan Laporan Insiden Prambanan, PSHT Minta Adil dan Transparan
-
Dugaan Cacat Prosedur Tersangka Insiden Prambanan, Kuasa Hukum Buka Suara