Kamu Gen Z dan akrab dengan istilah "baper", "bucin", atau "cegil"? Ternyata, fenomena ini muncul dari kebiasaan komunikasi sehari-hari Gen Z yang dipengaruhi oleh sosial media. Istilah-istilah unik lahir dari kreativitas, budaya populer, dan internet sebagai bagian dari kehidupan modern generasi muda. Menariknya, beberapa istilah muncul dari gabungan beberapa kata yang membentuk arti baru. Lantas, apa saja ciri khas slang Gen Z yang membuatnya terdengar unik? Yuk, simak 5 daftarnya berikut ini!
1. Gemar Menyingkat 2 Kata atau Lebih Jadi Satu
Salah satu ciri khas slang Gen Z adalah penggunaan singkatan dan akronim dalam percakapan sehari-hari. Contohnya, OTW merupakan singkatan dari on the way yang berarti sedang dalam perjalanan. Dalam bahasa Indonesia, ada istilah seperti "gercep" atau gerak cepat yang berarti harus melakukan sesuatu hal dengan segera. Selain itu, ada pula istilah candaan yang muncul secara spontan seperti "ygy" atau ya guys ya untuk menegaskan suatu kalimat.
Menariknya, singkatan dan akronim tidak hanya berfungsi untuk mempersingkat pesan. Penggunaannya juga dapat menjadi ciri khas suatu kelompok atau komunitas. Istilah tertentu terkadang hanya dipahami oleh orang-orang yang mengikuti tren atau terbiasa berinteraksi dalam lingkungan tersebut.
2. Mencampur Beberapa Bahasa
Salah satu ciri khas slang Gen Z adalah kebiasaan mencampur bahasa atau code-mixing, yaitu menggunakan unsur dari dua bahasa atau lebih dalam satu tuturan. Yang paling baru adalah istilah "orang have" yang berarti orang yang mapan secara finansial. Istilah ini memiliki variasi lain, seperti "orang had" atau orang yang pernah kaya dan "orang haven't" atau orang yang belum mapan. Frasa ini menggabungkan unsur bahasa Indonesia dan Inggris.
Kebiasaan tersebut tidak terlepas dari paparan bahasa Inggris melalui internet, film, musik, gim, dan media sosial. Beberapa istilah bahkan terasa lebih praktis atau lebih mewakili perasaan tertentu dibandingkan padanan katanya dalam bahasa Indonesia.
3. Mengadopsi Istilah Pop Culture
Film, serial, musik, dan gim bukan hanya menjadi hiburan bagi Gen Z, tetapi juga memengaruhi cara mereka berkomunikasi. Banyak istilah yang awalnya digunakan dalam komunitas penggemar atau pemain gim kini muncul dalam percakapan sehari-hari, seperti NPC, main character, nerf, atau AFK.
Penyebaran istilah tersebut tidak terlepas dari media sosial seperti TikTok dan YouTube, serta komunitas gaming dan penggemar budaya populer. Lewat sosial media, orang yang tidak bermain game pun tetap bisa mengetahui istilah-istilah tersebut.
4. Muncul dari Konteks Tersirat
Slang Gen Z tidak selalu bisa dipahami hanya dengan melihat arti sebuah kata. Dalam banyak situasi, maknanya justru bergantung pada konteks percakapan, cara penyampaian, dan tren yang sedang berkembang. Karena itu, orang yang tidak terbiasa dengan istilah tersebut terkadang bisa salah menangkap maksudnya.
Misalnya istilah "slay", secara harfiah, dalam bahasa Inggris kata ini berarti membunuh. Namun, maknanya menjadi tergeser ketika digunakan dalam konteks ungkapan pujian untuk seseorang setelah berhasil mendapatkan sesuatu. Ungkapan "You slay it!" bisa diartikan "kamu keren banget!" dalam konteks ini.
5. Memiliki Satu Kata untuk Mengungkapkan Banyak Emosi
Menurutmu, kata "anjir" apa artinya? Kata ini cukup sering digunakan dalam berbagai percakapan untuk mengekspresikan banyak perasaan, seperti kaget, senang, kecewa, bahkan sedih. Meskipun kadang tidak dijelaskan untuk apa, tapi kamu langsung paham konteksnya.
Meski bentuk katanya sama, emosi yang disampaikan berbeda. Perbedaan tersebut dapat dipahami melalui konteks pembicaraan, intonasi, dan respons lawan bicara. Karena sudah cukup akrab dalam percakapan informal, kata seperti "anjir" juga bisa menjadi reaksi spontan ketika seseorang tidak tahu harus merespons sesuatu dengan cara apa.
Slang Gen Z memperlihatkan bagaimana bahasa terus berkembang mengikuti kebiasaan penuturnya. Mulai dari mencampur bahasa Indonesia dan Inggris, menyingkat kata, hingga menciptakan istilah baru, setiap kebiasaan tersebut menunjukkan cara anak muda menyesuaikan bahasa dengan kebutuhan komunikasi mereka. Kamu paling sering pakai istilah yang seperti apa?
Baca Juga
-
Gen Z Suka Code-Mixing, Memperkaya atau Justru Merusak Bahasa Indonesia?
-
Review Film Ditto (2022): Panggilan dari Masa Lalu dan Spoiler Masa Depan
-
Dilema Pekerja Hari Ini: Pilih Menganggur atau Tahan Overwork dengan Gaji Kecil?
-
Klara dan Sang Matahari: Misi sebuah Robot Mengubah Kehidupan seorang Gadis
-
Pengorbanan Seorang Kakak untuk Mimpi Adik Tulinya di Hear Me: Our Summer
Artikel Terkait
-
Dari Cegil hingga Rizz: Fenomena Algoritma Medsos Mengubah Gaya Bahasa Gen Z
-
Menjembatani Jurang Generasi: Cara Pendidik Memahami Logika Berbahasa Gen Z
-
Saat Gen Z Bertemu 'Polisi Bahasa': Butuh Ruang Diskusi, Bukan Penghakiman
-
Gen Z Suka Code-Mixing, Memperkaya atau Justru Merusak Bahasa Indonesia?
-
Menjaga Taji Bahasa Indonesia di Tengah Gempuran Konten dan Dikte Algoritma
Kolom
-
Saat Gen Z Bertemu 'Polisi Bahasa': Butuh Ruang Diskusi, Bukan Penghakiman
-
Dari Cegil hingga Rizz: Fenomena Algoritma Medsos Mengubah Gaya Bahasa Gen Z
-
Bahaya Laten Diskon Ongkir: Jangan Korbankan Nasib Perusahaan demi Sekadar Persaingan
-
Pernikahan: Antara Komitmen, Tuntutan Ekonomi, dan Perubahan Zaman
-
Kupu-Kupu Jarang Terlihat, Apa yang Terjadi pada Lingkungan?
Terkini
-
Review Film Siti Si Vampir: Satir Kelas Sosial yang Kurang Menggigit?
-
Trauma Nyata Perempuan Korban Perang Dunia I dalam Buku Testament of Youth
-
Review Film Wonderland: Dunia Kecil untuk Mereka yang Belum Rela Kehilangan
-
The One About Matthew Perry: Menguak Sisi Lain Bintang Friends Lawan Kecanduan
-
Terjebak di Sarang Penjahat: Petualangan Menegangkan yang Mengajarkan Arti Keberanian