Belakangan ini, keluhan soal hidup yang semakin mahal rasanya semakin marak. Ada yang sudah bekerja sambil mengambil pekerjaan sampingan, tetapi untuk menabung saja masih harus kesulitan.
Menariknya, keluhan semacam ini sering dikerdilkan dengan narasi bahwa generasi sekarang dianggap kurang tahan banting, terlalu banyak mengeluh, atau kurang bekerja keras.
Padahal, orang-orang yang mengeluh itu bukan sedang duduk diam menunggu kehidupan berubah. Banyak yang bekerja, belajar keterampilan baru, mengejar karier, bahkan mencari penghasilan tambahan di luar pekerjaan utama.
Di balik keluhan yang bermunculan, ada kondisi ekonomi yang ikut menentukan sejauh mana kerja keras tersebut bisa membawa perubahan. Upah tertinggal, hidup makin mahal, sementara tuntutan untuk terus meningkatkan diri tidak pernah berhenti. Lalu, benarkah kemalasan masih layak dijadikan alasan?
Kita Disuruh Berlari, Tapi Garis Finish-nya Dipindah
Ada banyak hal yang dituntut dari anak muda agar dianggap punya masa depan yang bagus. Pendidikan harus tinggi, pengalaman harus banyak, kemampuan harus terus ditambah, koneksi perlu dibangun, bahkan punya side hustle pun mulai dianggap biasa.
Sayangnya, setelah semua usaha tersebut dijalani, hasilnya kadang tidak sepadan. Penghasilan memang bisa bertambah, tetapi kebutuhan juga ikut mengejar. Uang yang tadinya ingin disimpan untuk masa depan harus dipakai untuk membayar kebutuhan yang semakin mahal.
Akhirnya, kerja keras seperti siklus yang tidak ada habisnya. Dalam kondisi seperti ini, sulit rasanya mengatakan bahwa seseorang kurang berusaha hanya karena belum mampu mencapai standar hidup yang dianggap ideal.
Kerja keras seharusnya bisa membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik. Namun, kalau pendapatan terus tertinggal dari biaya hidup, kerja keras justru bisa berubah menjadi cara untuk sekadar bertahan hidup.
Kemiskinan Makin Dipersonalisasi
Ketika seseorang kesulitan secara ekonomi, tak jarang orang lain "menyerang" secara personal. Dibilang kurang rajin, salah memilih pekerjaan, tidak pandai mengatur uang, terlalu banyak mengikuti gaya hidup, sampai dianggap kurang berusaha mencari penghasilan tambahan.
Padahal, ada banyak hal yang berada di luar kendali individu. Seseorang bisa memilih pekerjaan dengan pertimbangan matang, tetapi tetap tidak bisa menentukan seberapa tinggi perusahaan menghargai tenaga dan waktunya.
Tentu saja, keputusan pribadi tetap punya peran. Namun, rasanya tidak adil kalau semua persoalan ekonomi dibebankan kepada individu, seolah-olah mereka punya kendali penuh atas keadaan. Ada kondisi yang ikut menentukan seberapa jauh usaha seseorang bisa membawa perubahan dalam hidupnya.
Oleh karena itu, label “malas” rasanya perlu dipikirkan lagi. Jangan sampai kita terlalu cepat menyalahkan orang yang belum berhasil memperbaiki hidupnya, tanpa melihat apakah kerja keras yang mereka lakukan memang mendapat imbalan yang cukup.
Rakyat Diminta Kuat, Sistem Dibiarkan
Di tengah kondisi seperti ini, pemerintah juga kerap mendorong anak muda untuk lebih mandiri, membuka usaha, dan menciptakan lapangan kerja sendiri.
Dorongan untuk berwirausaha tentu bukan sesuatu yang buruk. Masalahnya, narasi seperti ini bisa terasa janggal kalau pekerjaan dengan upah layak saja masih sulit didapat. Anak muda seolah diminta menciptakan jalan keluarnya sendiri dari masalah ekonomi yang sebenarnya jauh lebih kompleks.
Begitu pula dengan nasihat untuk terus meningkatkan skill, mencari pemasukan tambahan, sampai memanfaatkan ekonomi digital. Semua terdengar seperti solusi yang masuk akal.
Namun, kalau setiap masalah akhirnya dikembalikan kepada kemampuan individu untuk beradaptasi, pemerintah jadi lebih mudah lepas tangan dari persoalan upah, lapangan kerja, harga kebutuhan, dan perlindungan pekerja.
Padahal, pemerintah punya peran untuk memastikan orang yang sudah bekerja keras memang punya kesempatan hidup lebih layak. Tidak semua orang harus menjadi pengusaha, punya side hustle, atau bekerja tanpa henti hanya supaya bisa memenuhi kebutuhan dasar.
Baca Juga
-
Stop Sikap Overproud: Pejabat Bukan Raja, Kenapa Masih Disambut Berlebihan?
-
Tone Deaf Berkedok Self-Care: Tak Semua Orang Bisa Menjauh dari Bad News
-
Through the Darkness: Mengurai Criminal Profiling dan Psikologi Kejahatan
-
Behind Every Star: Sisi Gelap Ambisi di Balik Gemerlap Industri Hiburan
-
Pemerintah Rajin Membuat Program, Apakah Hidup Rakyat Makin Membaik?
Artikel Terkait
Kolom
-
Skincare Routine ke Beauty Consumerism: Self-Care Dijadikan Alasan Belanja?
-
Stop Sikap Overproud: Pejabat Bukan Raja, Kenapa Masih Disambut Berlebihan?
-
Tone Deaf Berkedok Self-Care: Tak Semua Orang Bisa Menjauh dari Bad News
-
Ironis! Guru Dipaksa Jadi "Pencicip Racun" Akibat Amputasi Logika Program MBG
-
Disebut "Jamet" hingga Difatwa Haram, Mengapa Sound Horeg Tetap Digemari?
Terkini
-
Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026
-
Bebas Kemerahan, 5 Sunscreen Korea Cica yang Bikin Kulit Calm dan Lembap
-
Manga You Are a Four Leaf Clover Diadaptasi ke Anime
-
Bertabur Bintang! Kim Yeon Koung, Lee Junho, dan Kazuha Resmi Jadi Staf Baru di Kian's Bizarre B&B 2
-
Bukan Hanya Romance: Bagaimana Trilogi 'Before' Memotret Realisme Hubungan