Beberapa waktu lalu, jagat media sosial dihebohkan oleh kehebohan atas konten video milik seorang figur publik terkemuka, Maudy Ayunda. Dalam videonya yang membahas cara menjaga kesehatan mental melalui praktik mindfulness dan membatasi asupan berita buruk, timbul gelombang respons kritis yang cukup masif.
Niat awalnya yang tampak murni untuk menawarkan ruang tenang bagi publik justru berakhir memicu ruang debat baru. Fenomena ini membawa saya pada sebuah perenungan mendalam tentang satu konsep sosiologis yang sangat nyata, yakni privilege blindness.
Jalan menuju kekecewaan publik memang kerap kali dibangun oleh niat yang baik. Di atas kertas, ajakan untuk mempraktikkan Stoikisme seperti mematikan gawai, menyaring berita buruk, dan memfokuskan energi pada hal-hal yang berada di bawah kendali kita adalah saran psikologi yang dapat dipahami. Namun, ketika nasihat tersebut disampaikan dari atas menara gading yang kedap suara, resonansinya berubah total di mata masyarakat.
Saya mencoba menempatkan diri pada posisi mereka yang merasa terusik oleh narasi tersebut. Bagi kelompok yang hidup dalam kestabilan finansial dan rasa aman, krisis mungkin sering kali berwujud deretan notifikasi di layar gawai yang memicu rasa lelah emosional. Tombol log off atau pilihan untuk melakukan digital detox adalah perisai yang sangat efektif.
Akan tetapi, situasi ini berbalik bagi masyarakat akar rumput. Berita buruk bukanlah sekadar lanskap informasi yang bisa dimatikan kapan saja, melainkan realita hidup yang menghimpit secara fisik. Bencana alam, ancaman kebakaran hutan yang menutup ruang napas, hingga beban ekonomi yang diperberat oleh korupsi bukanlah konten negatif yang merusak suasana hati, melainkan perjuangan harian untuk bertahan hidup.
Di sinilah titik patahan empati yang memicu fenomena privilege blindness. Tanpa disadari, konsep mindfulness atau kesehatan mental dapat berubah menjadi bentuk toxic positivity ketika diterapkan tanpa memahami konteks ketimpangan struktural. Meminta masyarakat yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan pokok untuk sekadar berdamai dengan keadaan dan mengatur napas dapat terasa menyudutkan. Pendekatan semacam ini berisiko memperlakukan masalah sistemik seolah-olah sebagai kegagalan regulasi emosi individu semata.
Namun, menurut saya, persoalannya bukan terletak pada mindfulness itu sendiri. Menjaga kesehatan mental tetap merupakan kebutuhan yang penting, terutama ketika seseorang terus-menerus terpapar informasi yang membuat cemas dan lelah. Kita memang tidak mungkin menyelesaikan seluruh persoalan dunia hanya dengan membaca berita sepanjang hari. Ada kalanya kita perlu mengambil jarak agar tidak mengalami kelelahan emosional.
Persoalannya adalah ketika kemampuan untuk mengambil jarak tersebut dianggap sebagai solusi universal. Tidak semua orang memiliki kemewahan untuk berhenti memikirkan krisis. Bagi sebagian orang, krisis justru berada di depan rumah, di tempat kerja, di meja makan, atau bahkan menentukan apakah mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup pada hari berikutnya.
Saya meyakini bahwa fenomena ini bukan lahir dari niat jahat, melainkan dari kebutaan sosiologis akibat ruang hidup yang terpisah dari ketimpangan riil. Ketika edukasi kesehatan mental dipisahkan dari realita sosial-ekonomi, sebuah pesan motivasi yang diniatkan untuk merangkul justru bisa menampar pengikutnya.
Menjaga kesehatan mental dan memiliki kepedulian sosial seharusnya bukan dua hal yang saling bertentangan. Kita boleh beristirahat dari media sosial, tetapi bukan berarti harus menutup mata terhadap penderitaan yang terjadi di sekitar. Kita boleh menjaga kewarasan diri, tetapi tetap bisa mempertahankan kepekaan terhadap orang lain.
Menjaga ketenangan dan kewarasan di tengah ketidakpastian situasi tentu merupakan hak setiap individu. Namun, tameng mindfulness idealnya tidak membuat kita berlepas diri dari realita yang dihadapi publik. Tingkat empati tertinggi bukan sekadar mengimbau orang lain untuk menerima penderitaan dengan ikhlas, melainkan keberanian untuk tetap menginjakkan kaki di Bumi dan peka terhadap perjuangan sesama.
Baca Juga
-
Kesegaran Komedi Pengusutan Misteri dalam Film 'The Sheep Detective'
-
Ujian Hubungan Jangka Panjang: Mengapa "Before Midnight" Adalah Film Paling Jujur Tentang Pernikahan
-
Bukan Hanya Romance: Bagaimana Trilogi 'Before' Memotret Realisme Hubungan
-
Ketika Cinta Bertemu Realitas: Ulasan Film Before Sunset yang Mengiris Hati
-
Menjelajahi Kedalaman Cerita dan Visual dalam Film Moana (2026)
Artikel Terkait
Kolom
-
Paranoia Kolonial di Tanah Suci: Membedah Politik Haji Pada Masa Penjajahan
-
Jalan Teknokratis Suahasil Nazara Menuju Kursi Menteri Keuangan
-
Karhutla Jadi Sorotan Dunia, Mengapa Respons Pemerintah Masih Santai?
-
Membaca, Memahami, dan Merefleksi: Seni Menjaga Fokus di Tengah Serbuan Gawai
-
BGN Siapkan Sistem Marketplace MBG: Kejar Pengadaan, Keracunan Terabaikan?
Terkini
-
Masjid Lawang Songo, Jejak Arsitektur Jawa yang Tetap Terjaga di Lirboyo
-
Review Film Practical Magic: The Book Of Magic, Nostalgia Sihir yang Indah!
-
Review Film Budi Pekerti: Ketika Satu Video Mengubah Segalanya
-
Pelajaran Memaafkan di Buku Panduan Jalan-Jalan Aman Bersama Mama Macan
-
Kesegaran Komedi Pengusutan Misteri dalam Film 'The Sheep Detective'