Tidak semua orang mengenal pendidikan sebagai sesuatu yang sejak kecil hadir dalam kehidupan mereka. Bagi Tara Westover, sekolah justru merupakan dunia yang sama sekali asing. Melalui Educated (Terdidik): Sebuah Memoar, Tara mengisahkan perjalanan hidupnya dari lingkungan keluarga yang tertutup hingga menjadi perempuan berpendidikan tinggi yang berhasil meraih gelar doktor di University of Cambridge. Memoar ini bukan hanya cerita tentang pencapaian akademik, tetapi juga pergulatan seseorang dalam menentukan identitas dan kebebasan berpikirnya sendiri.
Saya tertarik membaca buku ini terutama karena rasa penasaran setelah melihat keterangan bahwa buku tersebut masuk daftar buku terlaris The New York Times. Dengan jumlah halaman sekitar 520, awalnya saya sempat membayangkan proses membacanya akan terasa panjang. Namun, ternyata setiap bagian menghadirkan pengalaman dan sudut pandang yang membuat saya terus ingin mengetahui perjalanan Tara.
Fakta bahwa cerita ini berasal dari pengalaman hidup nyata juga menjadi alasan lain yang membuat saya terdorong menyelesaikannya. Saya bahkan sulit membayangkan bagaimana rasanya berada di posisi Tara yang harus berusaha keras melepaskan diri dari kehidupan keluarganya.
Tara tumbuh sebagai anak terakhir dari tujuh bersaudara di wilayah pegunungan Idaho, Amerika Serikat. Keluarganya menganut pandangan survivalisme Mormon fundamentalis yang membuat mereka sangat tidak percaya terhadap pemerintah, sekolah, bahkan pengobatan modern. Ayahnya memandang berbagai institusi tersebut sebagai ancaman terhadap keluarga. Akibatnya, Tara tidak memperoleh pendidikan formal hingga berusia 17 tahun. Ia juga tidak memiliki akta kelahiran dan tidak mendapatkan perawatan medis ketika mengalami kecelakaan serius saat membantu pekerjaan di tempat rongsokan milik keluarga.
Sejak kecil, kehidupannya lebih banyak diisi dengan pekerjaan keluarga. Ia membantu ayahnya mengolah besi tua, sementara ibunya mengurus pengobatan herbal dan menjalankan praktik sebagai bidan tanpa izin. Situasi rumah pun tidak selalu aman. Tara menghadapi kekerasan fisik dan emosional dari salah satu kakaknya, sementara anggota keluarga lainnya tidak benar-benar mengakui ataupun melindunginya. Beberapa saudara Tara akhirnya memilih meninggalkan rumah dan mengejar pendidikan, termasuk Tyler yang kemudian menjadi salah satu inspirasinya.
Keinginan untuk mengetahui dunia di luar lingkungannya membuat Tara mulai belajar secara mandiri. Ia mempelajari berbagai pengetahuan dasar tanpa bimbingan sekolah, kemudian memberanikan diri mengikuti tes masuk perguruan tinggi pada usia 17 tahun. Ia diterima di Brigham Young University (BYU). Perpindahan tersebut menjadi pengalaman yang mengguncang karena banyak hal yang dianggap biasa oleh mahasiswa lain justru merupakan sesuatu yang baru baginya.
Perjalanan akademiknya kemudian berkembang jauh melampaui dugaan. Pendidikan membuka akses Tara terhadap berbagai gagasan dan perspektif hingga akhirnya ia memperoleh Gates Cambridge Scholarship untuk melanjutkan studi di University of Cambridge dan kemudian menjadi visiting fellow di Harvard.
Namun, pencapaian tersebut juga membawa konsekuensi menyakitkan. Semakin Tara mempercayai ilmu pengetahuan dan membangun pandangannya sendiri, semakin besar pula jarak antara dirinya dan keluarganya. Pilihannya bahkan membuat sebagian keluarganya menganggap dirinya telah dipengaruhi kekuatan jahat.
Bagi saya, inti terpenting buku ini bukanlah tentang bagaimana Tara memperoleh gelar doktor, melainkan bagaimana ia belajar menjadi pemilik atas pikirannya sendiri. Pendidikan dalam memoar ini terasa seperti proses pembebasan, di mana kemampuan untuk melihat dunia dari perspektif yang lebih luas, mempertanyakan keyakinan yang selama ini dianggap mutlak, dan menentukan identitas tanpa sepenuhnya dikendalikan masa lalu.
Buku ini juga menunjukkan bahwa perubahan memiliki harga. Meninggalkan lingkungan yang membatasi mungkin berarti kehilangan kedekatan dengan orang-orang yang dicintai. Namun, seseorang tetap memiliki hak untuk menentukan masa depannya, bahkan ketika keputusan tersebut bertentangan dengan harapan keluarga.
Educated akhirnya mengajak pembaca memahami bahwa menjadi “terdidik” bukan sekadar memiliki ijazah atau belajar di universitas bergengsi. Pendidikan sejati adalah keberanian untuk berpikir kritis, membedakan fakta dari dogma, melepaskan rasa bersalah yang tidak semestinya, dan mengambil kembali kendali atas kehidupan. Tara tidak menghapus masa lalunya, tetapi ia belajar menerimanya sambil memilih sendiri siapa yang ingin ia jadikan dirinya.
Identitas Buku
Judul: Educated (Terdidik): Sebuah Memoar
Penulis: Tara Westover
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786020650357
Baca Juga
-
UlasanA Bona Fide Killer: Ketika Ibu Rumah Tangga Menyimpan Identitas sebagai Pembunuh
-
Ulasan Novel Mirai Karya Mamoru Hosoda: Belajar Memahami Arti Keluarga
-
Review Film Budi Pekerti: Ketika Satu Video Mengubah Segalanya
-
Karhutla Jadi Sorotan Dunia, Mengapa Respons Pemerintah Masih Santai?
-
Kontradiksi Gaya Komunikasi Prabowo: Singa Domestik, Kucing Imut di Panggung Internasional?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Bedah MV Penggantine Happy Asmara: Angkat Pesona Kediri Lewat Bus Bagong hingga Jalan Dhoho
-
Bad Memory Eraser: Eksperimen Menghapus Ingatan Demi Mengubah Kehidupan
-
Kisah Orang Tua yang Berjuang untuk Pendidikan Anak di Novel Ibuk
-
Review Film Get Out: Saat Rasisme Dikemas Menjadi Teror yang Mencekam
-
Kupas Lagu Teh Hijau Tulus, Sulitnya Mencari Rasa yang Hilang
Terkini
-
Membongkar Ketimpangan Patriarki Tanpa Harus Membenci Laki-Laki, Bisakah?
-
Anti Sumpek dan Lengket, Ini 4 Andalan Moisturizer Lotion untuk Kunci Hidrasi Wajah
-
Jangan Asal Ikut-ikutan Resign! Beda Kasta Antara Privilege Finansial dan Perjudian Ekonomi
-
5 Peptide Sheet Mask untuk Samarkan Garis Halus dan Bikin Kulit Kenyal
-
Di Balik Lucunya Anak Ayam Warna-warni: Nyawa Rentan yang Dijadikan Mainan Murah