Sekar Anindyah Lamase | Sherly Azizah
ilustrasi kuliah sambil kerja (pexels/Andrea Piacquadio)
Sherly Azizah

Coba jujur sama diri sendiri, berapa lama kalian kuliah, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk balik modal setelah lulus? Kalau jawabannya "entahlah, masih dihitung sampai sekarang", selamat, kalian bukan sendirian. Ada satu generasi yang hidupnya persis seperti itu, dijejali narasi bahwa ijazah S1 adalah tiket emas menuju masa depan cerah, tapi begitu tiket itu dicairkan, yang keluar cuma gaji setara ongkos parkir mal sebulan.

Data Badan Pusat Statistik jadi saksi paling jujur soal ini. Dalam rentang 2014 sampai 2023, biaya kuliah rata-rata nasional naik 50,8 persen, dari sekitar Rp703 ribu menjadi Rp1,06 juta per bulan. Bandingkan dengan inflasi kumulatif nasional di periode yang sama, yang menurut BPS hanya sekitar 30 persen.

Artinya, biaya pendidikan tinggi melaju jauh lebih kencang daripada harga kebutuhan pokok lainnya. Sementara itu, gaji fresh graduate menurut Sakernas BPS masih berkutat di angka rata-rata Rp2,94 juta per bulan, angka yang kalau dipakai hidup di kota besar bahkan susah dipakai untuk sekadar ngopi tanpa mikir dua kali.

Di sinilah letak ironi generasi yang belakangan disebut overqualified underpaid. Gelar sarjana sekarang jadi standar minimum, bukan lagi keistimewaan. Banyak perusahaan mensyaratkan ijazah S1 untuk posisi yang dulu cukup dilamar lulusan SMA, tapi kompensasinya tidak ikut naik kelas.

Fenomena ini punya nama akademisnya sendiri, overeducation, yaitu ketika tingkat pendidikan seseorang lebih tinggi daripada kebutuhan pekerjaannya. Jurnal Kompeten: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Bisnis menjelaskan bahwa overeducation dan pasangannya, undereducation, adalah dua wajah dari kesenjangan yang sama antara dunia pendidikan dan dunia kerja, sebuah gap yang sudah lama dibahas tapi tak kunjung mengecil.

Kalau masih ragu ini bukan sekadar keluhan anak muda yang gengsi kerja kasar, LPEM FEB UI baru saja mengonfirmasinya lewat Labor Market Brief Volume 7 Nomor 7 edisi Juli 2026. Berdasarkan data Sakernas Agustus 2025, tercatat sekitar 8,01 juta lulusan minimal S1 di Indonesia bekerja di kelompok jabatan yang secara klasifikasi berada di bawah level pendidikan mereka, mulai dari tenaga tata usaha, pekerja jasa dan penjualan, sampai pekerja kasar. Delapan juta orang.

Itu bukan angka orang malas cari kerja, itu angka orang yang sudah kerja keras kuliah, tapi pasar kerjanya tidak menyediakan cukup tempat yang setara dengan ijazah yang mereka pegang.

Yang bikin situasi makin runyam, status pengangguran pun ikut mengintai para sarjana ini. BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka pada Februari 2026 berada di angka 4,86 persen, setara dengan 7,24 juta orang, dan porsi lulusan pendidikan tinggi di dalamnya justru melonjak dalam dua tahun terakhir. Jadi ceritanya bukan cuma soal kerja tapi gaji kecil, melainkan juga soal sudah capek kuliah, eh malah menganggur karena dianggap kelebihan kualifikasi untuk posisi entry level. Terlalu besar untuk posisi kecil, terlalu minim pengalaman untuk posisi besar. Serba salah, serba sempit.

Kalau tren ini terus dibiarkan, jangan heran kalau makin banyak orang tua yang mikir dua kali sebelum menyekolahkan anak sampai jenjang S1, atau makin banyak sarjana muda yang akhirnya banting setir berjualan daring karena itung-itungannya terasa jauh lebih masuk akal daripada menunggu promosi jabatan yang entah kapan datangnya.

Pendidikan tinggi memang tetap penting sebagai bekal hidup, tapi kalau ongkosnya terus meroket setiap tahun sementara hasilnya jalan di tempat, wajar saja kalau generasi ini mulai bertanya-tanya pelan-pelan, sebenarnya kita ini sedang berinvestasi untuk masa depan, atau justru sedang membeli mimpi yang harganya naik terus setiap tahun ajaran baru dimulai?

Bukan berarti solusinya lantas berhenti kuliah sama sekali, sebab data juga menunjukkan lulusan perguruan tinggi tetap punya peluang lebih besar dibanding yang tidak, hanya saja peluang itu kini datang dengan syarat yang jauh lebih berat: koneksi, pengalaman magang, sertifikasi tambahan, bahkan keberuntungan soal waktu melamar kerja.

Yang perlu diubah barangkali bukan semangat untuk kuliah, melainkan cara kita, kampus, dan pasar kerja saling bicara, supaya ijazah tidak lagi sekadar formalitas yang mahal harganya tapi kosong nilainya di dunia kerja.