Hayuning Ratri Hapsari | Sukatman Sukatman
​Ilustrasi ruang sidang dan deretan kursi kosong dalam forum internasional. (Pexels/David Henry)
Sukatman Sukatman

Kapan terakhir kali Anda melihat sebuah kursi kosong berbicara lebih keras daripada pidato berapi-api? Aksi walk out (WO) massal yang dilakukan delegasi Indonesia bersama puluhan negara lain saat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melangkah ke podium Sidang Majelis Umum PBB, baru-baru ini menjadi sorotan dunia. Di atas kertas, aksi meninggalkan ruangan ini adalah tamparan diplomasi yang telak. Namun, mari kita rehat sejenak dari riuh tepuk tangan di media sosial dan mengajukan pertanyaan yang lebih dingin: setelah kursi-kursi itu ditinggalkan kosong, siapa sebenarnya yang diuntungkan?

Antara Gertakan Moral dan Ruang Tembak yang Ditinggalkan

Sikap tegas Indonesia tentu wajib diacungi jempol. Langkah ini menegaskan konsistensi politik luar negeri kita yang terus membela hak-hak rakyat Palestina. Aksi walk out memancarkan sinyal moral yang jernih: dunia muak dengan pengabaian hukum internasional dan krisis kemanusiaan yang terus berlarut.

Namun, diplomasi tingkat tinggi tidak hanya berputar di poros moralitas, melainkan juga persaingan taktik. Ketika delegasi Indonesia dan puluhan negara lain memilih angkat kaki, sebuah ruang hampa mendadak tercipta di dalam aula utama PBB. Peta narasi seketika berubah. Netanyahu melenggang bebas menguasai panggung utama, membedah argumentasinya tanpa interupsi, dan mendikte sudut pandang kamera ke seluruh pelosok dunia tanpa ada gestur sanggahan langsung di tempat.

Bayangkan sebuah debat terbuka di mana lawan bicara Anda tiba-tiba walk out. Apakah Anda merasa kalah, atau justru merasa mendapat panggung gratis untuk berbicara sesuka hati?

Panggung Tunggal dan Bahaya Narasi Tanpa Tandingan

Sisi rapuh dari aksi walk out murni adalah penyerahan arena. Ketika negara-negara kritis memilih keluar, panggung utama PBB sepenuhnya dipenuhi oleh narasi tunggal. Rekaman video pidato tersebut menyebar ke berbagai media global sebagai sebuah presentasi yang utuh, tanpa ada konfrontasi argumen substantif yang langsung memotong klaim-klaimnya di arena yang sama.

Protes moral memang berhasil mencuri perhatian headline berita. Akan tetapi, efeknya kerap kali menguap seiring meredanya liputan media. Di sinilah tantangan bagi diplomasi Indonesia: bagaimana mengubah energi protes yang simbolis menjadi daya tekan (leverage) politik yang substantif dan terukur?

Memadukan Protes Diplomatik dan Counter-Engagement

Indonesia tidak perlu menghentikan aksi walk out sebagai instrumen tekanan moral. Namun, aksi tersebut tidak boleh lagi berdiri sendiri. Untuk melipatgandakan efektivitasnya, diplomasi Indonesia perlu memadukan diplomatic protest dengan substantive counter-engagement.

Artinya, saat delegasi melangkah keluar dari pintu aula PBB, langkah tersebut harus langsung disambut dengan manuver taktis di koridor luar. Indonesia dapat menginisiasi penerbitan position paper resmi secara simultan atau menggelar counter-briefing (konferensi pers tandingan) tepat beberapa menit setelah aksi WO dilakukan.

Dengan begitu, wartawan internasional yang meliput tidak hanya mendapatkan foto kursi kosong, tetapi juga lembaran fakta, data, dan narasi tandingan yang tajam dari pihak Indonesia. Arena panggung berita global pun tidak lagi dikuasai satu pihak, melainkan diimbangi oleh argumen tandingan yang sama kuatnya.

Mengubah Simbol Menjadi Solusi

Simbolisme dalam diplomasi memang penting untuk menjaga nyala api solidaritas. Namun, perjuangan membela kemanusiaan membutuhkan lebih dari sekadar gestur angkat kaki. Indonesia memiliki modal politik yang sangat besar sebagai pemimpin tidak resmi Global South untuk melangkah lebih jauh dari sekadar protes pasif.

Lantas, akankah kita puas hanya dengan menjadi penonton yang meninggalkan ruangan, atau siap menjadi sutradara yang merancang narasi tandingan di panggung dunia?