M. Reza Sulaiman | Atalie June Artanti
Jaringan bernomor yang vibran di permukaan beton di luar ruangan. (Pexels/Jan Van der Wolf)
Atalie June Artanti

Angka biasanya hanya kita ketahui sebagai tanda untuk menunjukkan jumlah atau usia. Namun, dalam budaya Jawa, beberapa angka memiliki cara penyebutan yang terasa spesial. Kata-kata seperti sewelas, selikur, selawe, seket, dan sewidak tidak hanya menunjukkan angka, tetapi sering dipahami sebagai pengingat tentang berbagai tahap kehidupan manusia.

Keunikan tersebut membuat angka dalam bahasa Jawa terasa memiliki cerita sendiri. Sejak masa seseorang mulai mengenal rasa, tumbuh dewasa, membangun keluarga, hingga menyadari bahwa hidup memiliki batasnya.

Filosofi itu biasanya terkait erat dengan angka 11, 21, 25, 50, dan 60.

Sewelas: Ketika Rasa Mulai Tumbuh

Angka 11 dalam bahasa Jawa disebut sewelas. Dalam pemahaman masyarakat saat ini, kata ini sering dikaitkan dengan ucapan “duwe rasa welas”, yang berarti mulai merasa kasihan atau memiliki perasaan welas asih.

Usia 11 tahun memang berada di masa peralihan. Anak mulai bergerak menuju masa remaja. Cara mengenali diri sendiri, lingkungan sekitar, dan cara berhubungan dengan orang lain mulai berubah perlahan.

Dalam filosofi itu, usia 11 tahun kemudian diartikan sebagai masa ketika seseorang mulai mulai mengenal berbagai perasaan, termasuk rasa tertarik pada orang berlawanan jenis.

Tentu, makna ini adalah interpretasi budaya, bukan batas psikologis yang berarti setiap orang pasti mengalami hal yang sama tepat pada usia 11 tahun. Pesan yang disampaikan justru lebih luas lagi, yaitu manusia mulai memahami dunia perasaan yang semakin rumit.

Selikur: Mulai “Duduk di Kursi” Kehidupan

Saat usia mencapai 21 tahun, dalam bahasa Jawa disebut selikur. Salah satu filosofi yang sering dibahas terkait dengan ungkapan “seneng lingguh kursi”.

"Kursi" dalam artian tersebut menjadi tanda atau lambang dari posisi, tanggung jawab, atau peran yang mulai diambil alih oleh seseorang. Usia 21 tahun biasanya dianggap sebagai masa di mana seseorang mulai menjalani kehidupan dewasa dan menghadapi tanggung jawab yang lebih besar.

Setelah menyelesaikan masa sekolah dan masa remaja, seseorang mulai menghadapi pilihan-pilihan hidup yang lebih nyata. Pendidikan, pekerjaan, kemandirian, hingga tanggung jawab atas diri sendiri adalah bagian dari perjalanan hidup.

Pesan yang tersirat bukan berarti seseorang harus sudah dewasa pada usia 21 tahun. Setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda. Filosofinya lebih cocok dibaca sebagai gambaran mengenai masa ketika seseorang mulai duduk dan mengambil peran dalam hidupnya sendiri.

Selawe: Ketika Cinta Tak Lagi Sekadar Rasa

Angka 25 disebut selawe. Dalam filosofi yang umum diterima di masyarakat Jawa, istilah ini terkait dengan "senenge lanang lan wedok", yang menggambarkan rasa bahagia atau ketertarikan antara pria dan wanita.

Tidak aneh jika usia 25 tahun sering dikaitkan dengan masa di mana orang mulai membangun hubungan yang lebih serius dan berencana membentuk keluarga.

Namun, filosofi itu bukan berarti seseorang harus menikah ketika berusia 25 tahun. Pernikahan adalah keputusan pribadi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor.

Yang menarik dari filosofi selawe justru adalah gambaran perubahan rasa. Jika sewelas dimaknai sebagai masa ketika rasa mulai tumbuh, selawe menggambarkan rasa yang mulai berhadapan dengan pilihan dan tanggung jawab.

Seket: Saat Hidup Mulai Mengajak Menoleh ke Belakang

Ada satu angka yang memiliki makna yang cukup kuat dalam filosofi Jawa, yaitu 50 atau seket.

Penyebutan kata seket sering terkait dengan ucapan “seneng kethunan”. Dalam pemahaman umum, kethunan terkait dengan kethu, yaitu bagian atas kepala yang digunakan sebagai penutup. Makna itu kemudian menjadi tanda bahwa seseorang mulai masuk ke tahap kehidupan yang lebih banyak diisi dengan pemikiran mendalam dan semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.

Usia 50 tidak berarti kehidupan selesai. Justru sebaliknya, fase ini bisa dianggap sebagai kesempatan untuk berhenti sebentar dan melihat perjalanan yang sudah ditempuh.

Apa yang sudah dicapai? Apa yang masih ingin diperbaiki? Apa yang akan kita berikan kepada anak dan generasi mendatang?

Di tengah masyarakat Jawa, orang yang sudah tua juga memiliki peran sosial yang tergantung pada pengalaman dan pengetahuan yang mereka miliki. Pengalaman hidup yang cukup banyak membuat mereka bisa menjadi sumber jawaban bagi generasi muda.

Menginjak usia 50 tahun tidak selalu berarti tanda kehilangan kemampuan atau kekuatan. Ia bisa diartikan sebagai undangan untuk hidup dengan lebih tenang, bijak, dan menyadari bahwa waktu terus bergerak.

Sewidak: Pengingat bahwa Hidup Ada Batasnya

Kemudian ada angka 60 atau sewidak.

Filosofi populer menghubungkan kata sewidak dengan frasa "sejatine wis wayahe tindak", yang artinya sekitar bahwa seseorang telah memasuki fase di mana perjalanan hidupnya semakin mendekati akhir.

Maknanya memang terdengar dalam. Namun, kata "tindak" tidak selalu berarti seseorang akan meninggal tepat di usia 60 tahun. Ini lebih cocok dianggap sebagai pengingat filosofis bahwa manusia memang memiliki batas usia dan tidak pernah benar-benar tahu berapa lama waktu yang dimilikinya.

Kesadaran seperti ini bisa membuat seseorang lebih menghargai waktu yang dimiliki.

Tidak hanya mencari apa yang belum dimiliki, tetapi mulai bertanya apakah hidup yang dijalani sudah memberikan manfaat bagi orang lain.

Bukan Tentang Takut Menjadi Tua

Jika diperhatikan, rangkaian angka tersebut sebenarnya mirip dengan sebuah perjalanan.

  • Sewelas berbicara tentang rasa yang mulai tumbuh.
  • Selikur menjelaskan cara seseorang memasuki dunia yang penuh tanggung jawab.
  • Selawe mengingatkan tentang cinta dan kehidupan berpasangan.
  • Seket mengajak seseorang melakukan refleksi.
  • Sementara itu, sewidak menjadi pengingat bahwa kehidupan memiliki batas.

Menariknya, filosofi itu tidak harus diartikan sebagai prediksi tentang hal-hal yang pasti terjadi di setiap usia. Manusia tentu memiliki jalan hidup yang berbeda.

Nilainya yang lebih penting justru ada pada pesan yang membuat orang berpikir ulang.

Seiring bertambahnya usia, manusia seharusnya tidak hanya semakin tua, tetapi juga semakin memahami hal-hal yang lebih dalam.

Menuju Tuhan dengan Hati yang Lebih Tenang

Pada masa tua, memikirkan kembali perjalanan hidup bisa jadi semakin penting. Seseorang mulai mengingat kembali hubungan dengan keluarga, hal-hal yang pernah dicapai, kesalahan, atau kebaikan yang sudah dilakukan.

Dalam pandangan spiritual, masa ini juga bisa jadi kesempatan untuk mempererat ikatan dengan Tuhan. Ibadah, doa, pengajian, serta kegiatan keagamaan bisa menjadi tempat untuk mencari ketenangan dan tetap menjaga tali persaudaraan.

Spiritualitas bisa memberikan pedoman bagi seseorang dalam menghadapi perubahan dan keterbatasan yang muncul saat proses penuaan berlangsung. Namun, ini tidak berarti semua lansia pasti mengalami masalah psikologis yang sama atau bahwa agama adalah satu-satunya cara untuk menghadapi proses penuaan.

Yang paling penting adalah bagaimana seseorang bisa menemukan artinya, tetap menjaga hubungan baik dengan orang-orang di sekitarnya, dan selalu merasa punya tujuan dalam hidupnya.

Pada akhirnya, filosofi angka dalam bahasa Jawa seolah mengajak kita untuk memahami usia bukan hanya sebagai bilangan.

Ada sewelas yang mengajarkan tentang rasa. Ada selikur tentang tanggung jawab. Ada selawe tentang cinta. Ada seket tentang perenungan. Dan ada sedikit kesadaran bahwa setiap perjalanan pada akhirnya memiliki batasnya.

Mungkin itulah makna terdalam dari angka-angka itu: usia terus bertambah, tetapi yang seharusnya ikut berkembang adalah cara kita memahami kehidupan.