M. Reza Sulaiman | Tika Maya Sari
ilustrasi sumur timba (Unsplash/Pavlo Simenuik)
Tika Maya Sari

Ada yang pernah menimba air di sumur timba? Atau justru masih memiliki fasad sumur timba di rumahnya?

Menurut KBBI, sumur atau perigi adalah sumber air buatan dengan cara menggali tanah. Fasadnya kemudian disempurnakan dengan tembok sumur setinggi satu meteran, katrol, tali, dan ember guna memudahkan masyarakat. Sumur timba sendiri telah eksis sejak dahulu, sebelum kini masyarakat beralih ke pompa air atau menggunakan layanan PDAM. Dan, artikel ini lahir dari ide spontan saya ketika sedang menimba air.

Pernah Menjadi Simbol Kekayaan SDA

Air adalah manifestasi terpenting dan krusial dalam kehidupan manusia. Nggak ada air, otomatis nggak bakal ada kehidupan. Well, masyarakat tempo dulu memanfaatkan air sumur untuk segala lini kehidupan mereka. Mulai dari masak, minum, mencuci, sampai mandi.

Namun, tidak semua sumur memiliki kelimpahan air yang sama. Ada tipe sumur yang mengikuti musim, yaitu kaya air di musim hujan dan kering kerontang di musim kemarau. Ada juga yang selalu megung (kaya) alias tidak terpengaruh musim. Airnya banyak, bahkan tidak terlalu dalam sehingga mudah diambil.

Teknologi Katrol dan Senggot yang Ikonik

Sumur timba tentu saja memiliki ciri khas dengan teknologi katrolnya. Dengan tali kita menurunkan timba hingga ke air sumur, kemudian menarik tali yang melewati katrol untuk mengangkat air. Hal ini sukses menjadi praktik nyata terhadap pelajaran IPA tentang tema Pesawat Sederhana.

Namun, rupanya ada teknologi lebih tua lagi ketimbang katrol lho. Contohnya di Dusun Tejo, Desa Nyawangan, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, ibu saya masih menjumpai teknologi senggot. Tidak seperti katrol yang bekerja dibantu tali, senggot murni menggunakan tenaga manusia. Teknologi ini memanfaatkan bambu panjang dan ember, yang kinerjanya mirip gayung raksasa.

Sebelum eksistensinya mulai lenyap dan digantikan katrol karena dirasa lebih efisien.

Nostalgia Cosplay Pengibar Bendera

Saya rasa, hampir seluruh anak yang pernah hidup berdampingan dengan sumur timba pernah melakukan hal ini. Yaitu menimba air sambil membayangkan sedang mengibarkan bendera. Kita tidak hanya sekadar berimajinasi, tetapi menyelaraskan panjang lagu Indonesia Raya dengan perjalanan ember dari bawah ke atas.

Hal ini semata-mata sebagai imajinasi, sekaligus latihan mandiri karena terkadang menjadi petugas upacara di sekolah. Kalau dipikir-pikir, hal itu cukup seru karena saya sendiri sering gagal menyelaraskan durasi lagunya.

Memori yang Dibabat Waktu dan Zaman

Bicara soal sumur timba, saya justru kembali mengingat masa lalu. Dulu, di kawasan rumah saya ada beberapa pemilik sumur timba. Namun setelah mereka meninggal dan tanah dijual, pembeli yang baru memilih menghapus fasad sumur timba dan menggantinya dengan pompa air guna mempertahankan mata air.

Saya bahkan masih ingat kegiatan menimba Mbah Ni, Mbah Leginem, Mbah Darkun, hingga Mbah Rum. Namun, kini mereka sudah berpulang kecuali Mbah Ni, kendati sedang sakit keras.

Nah, fasad sumur timba di rumah saya masih bertahan hingga sekarang. Sehari-hari kami memanfaatkan airnya untuk mencuci, masak, hingga menyiram tanaman. Funfact-nya, sumur itu dibuat sekira tahun 70-an atau 80-an, dengan anggaran senilai Rp1 juta, menurut pengakuan Mbah Mis selaku pemilik tanah pertama sebelum berpindah tangan beberapa kali.

Makanya, sewaktu beliau berkunjung ke rumah dan menengok sumur timba tersebut, saya dapati ekspresi haru dan mata yang berkaca-kaca.

Tantangan Fasad Sumur Timba di Era Sekarang

Bagi saya pribadi, sumur timba merupakan teknologi klasik yang unik, mengemban memori zaman, dan bisalah dijadikan workout simpel yang bisa mengasah kekuatan lengan. Namun, di era serba cepat seperti sekarang, prosesnya dianggap melelahkan dan makan banyak waktu. Apalagi ditunjang dengan teknologi pompa air, maupun layanan PDAM.

Fasadnya lantas dianggap kuno, bahkan nggak jarang dikaitkan dengan fenomena spiritual. Pun keberadaannya sudah hampir punah diterpa kemajuan zaman.

Hal lain yang cukup krusial adalah climate change dan kedatangan El Nino yang berdampak signifikan. Sumur timba di rumah saya sejak dahulu tidak pernah mengering dan selalu megung (kaya air) tanpa peduli musim. Namun begitu dihantam El Nino dahsyat tahun 2015 dan 2023, airnya kering kerontang. Alhamdulillahnya, selepas El Nino berakhir, sumur kembali memancarkan mata air.

Keberadaan sumur timba mungkin mulai jarang karena zaman yang serba cepat demi efisien waktu. Namun, memorinya tetap mengendap dengan tenang, dan fasad-fasad yang masih tersisa tentulah berguna sebagai kapsul waktu yang epic. So, gimana menurut kawan-kawan?