Kalau diberi opsi menganggur dan bekerja di bawah tekanan dengan gaji di bawah standar, kamu akan pilih yang mana? In this economy, beberapa orang memilih opsi kedua demi mendapat pemasukan setiap bulannya. Mereka rela bekerja lembur dengan upah di bawah ekspektasi karena takut menganggur dan tak berpenghasilan.
Persaingan sikut-sikutan, lowongan terbatas, dan persyaratan yang semakin beragam membuat banyak orang harus berpikir ulang sebelum menolak tawaran kerja. Bahkan, tidak sedikit yang akhirnya menerima pekerjaan dengan gaji kecil dan beban kerja yang terasa berlebihan.
Dengan beban kerja seperti ini, kenapa masih banyak orang yang tertarik? Apakah mereka benar-benar ingin bekerja atau karena tak ada pilihan lain?
Beban Kerja Berat + Gaji Kecil = Eksploitasi SDM?
Beban kerja yang tinggi tidak selalu berarti sebuah perusahaan melakukan eksploitasi. Ada pekerjaan yang memang menuntut tanggung jawab besar, terutama ketika menghadapi tenggat atau periode sibuk. Namun, persoalan muncul ketika tuntutan tersebut terus bertambah tanpa diimbangi kompensasi yang layak dan kondisi kerja yang memadai.
Masalahnya, tuntutan berlebihan ini kadang dilabeli sebagai loyalitas untuk perusahaan. Pekerja seolah dipaksa untuk memperlihatkan dedikasinya untuk pekerjaan. Padahal, profesionalisme tidak berarti seseorang harus selalu mengorbankan waktu pribadi atau menerima tanggung jawab tambahan tanpa batas. Masih banyak ditemukan perusahaan yang meminta pekerjanya untuk totalitas, namun tak sebanding dengan upah yang ditawarkan.
Pekerja Memilih Bertahan karena Takut Menganggur
Namun, tidak semua orang bisa dengan mudah terlepas dari jeratan eksploitatif ini. Bagi sebagian pekerja, penghasilan bulanan yang tetap dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup, membayar cicilan, atau membantu keluarga. Dalam kondisi seperti ini, mengundurkan diri tanpa memiliki pekerjaan pengganti justru bisa menimbulkan masalah baru.
Selain itu, posisi menganggur juga lepas dari omongan orang-orang sekitar yang kurang diharapkan. Mereka seakan menganggap orang yang sedang menganggur hanya bermalas-malasan dan memilih-milih pekerjaan. Padahal, ada hal lain yang mungkin tidak kelihatan, seperti mempertimbangkan beban kerja antar perusahaan, kesesuaian dengan kompetensi, atau hanya sekadar mengambil jeda sejenak.
Pengalaman Kerja Lebih Penting Dibanding Kesejahteraan
Persaingan kerja yang sangat ketat dengan lowongan terbatas dan pelamar yang tak terbatas, kebanyakan orang berlomba-lomba untuk stand out di antara para pencari kerja. Salah satu caranya adalah sederet pengalaman yang tertera di CV. Mereka tidak terlalu memedulikan upah atau kesejahteraan yang ditawarkan oleh sebuah perusahaan. Yang terpenting, pengalaman dan portofolio hasil karya pekerjaannya. Hal ini biasanya kerap ditemui pada fresh graduate atau lulusan baru.
Namun, pengalaman kerja tidak otomatis menjamin masa depan karier yang lebih baik. Seseorang bisa saja menghabiskan waktu bertahun-tahun di lingkungan kerja yang tidak mendukung perkembangan keterampilannya. Belum lagi jika beban kerja yang berlebihan justru membuatnya kelelahan dan tidak memiliki waktu untuk meningkatkan kemampuan di luar pekerjaan.
Di tengah kondisi ekonomi yang terus menurun, situasi lapangan pekerjaan juga ikut merosot. Hal ini terlihat dari ketidakpedulian pekerja dengan kesejahteraannya sendiri demi tanggung jawab besar dengan upah tak seberapa. Ironisnya, perusahaan justru banyak mengambil keuntungan dari situasi "kepepet" ini. Kalau kamu, lebih memilih untuk menganggur atau overwork?
Baca Juga
-
Klara dan Sang Matahari: Misi sebuah Robot Mengubah Kehidupan seorang Gadis
-
Pengorbanan Seorang Kakak untuk Mimpi Adik Tulinya di Hear Me: Our Summer
-
Bagaimana Cara Penguasa Memutarbalikkan Fakta Lewat Bahasa di Animal Farm?
-
5 Tanda Donat Overproof, Adonan Terlalu Mengembang hingga Kempes
-
Jadi Cewek Gak Enakan, Intip Penampilan Mawar de Jongh di Film People Pleaser
Artikel Terkait
-
Riset Greenpeace Indonesia: Krisis Iklim Hancurkan Daya Beli Pekerja
-
Kemenperin Siapkan 11 Ribu Kapasitas Pelatihan Vokasi untuk Pekerja Migran
-
Perkuat Vokasi Global, KP2MI dan Kemenperin Perluas Kerja Sama Lewat SMK Go Global
-
Perpres Ojol dan Problem Kemitraan: Saat Negara Lepas dari Kewajiban Buruh
-
Damai di Polsek, Laporan Penyerangan Petugas Satpol PP di Bulungan Dicabut
Kolom
-
Ironi Ruang Publik: Spanduk Protes Ditertibkan, Bendera Partai Dibiarkan
-
Fenomena Brain Drain: Mengapa Talenta Terbaik Indonesia Lebih Pilih Berkarier di Luar Negeri?
-
Dari Curhat hingga Sindiran: Menelaah Sisi Gelap Akun Menfess Kampus
-
Pajak Dibayar, Jalan Tak Layak: Potret Beban Ganda Rakyat Desa
-
Paradoks Antara Kedaulatan Rakyat vs Monopoli Partai di Pencalonan Presiden
Terkini
-
TEMPEST Akhiri Aktivitas Grup, Hyuk Segera Wamil dan LEW Tinggalkan Agensi
-
Klara dan Sang Matahari: Misi sebuah Robot Mengubah Kehidupan seorang Gadis
-
Sindiran Upin Ipin soal Kabut Asap Indonesia Picu Reaksi Warganet
-
Tak Gentar! Jorge Martin Yakin Bisa Kalahkan Marc Marquez di Akhir Musim
-
Praktis Reapply! 4 Sunscreen Spray Collagen Kulit Kenyal Bebas Garis Halus