Apa jadinya kalau sebuah robot memiliki perasaan? Selama ini, teknologi lebih sering dibicarakan karena kemampuannya membantu pekerjaan atau meniru cara manusia berpikir. Namun, bagaimana jika sebuah robot juga mampu menunjukkan kesetiaan dan pengorbanan kepada seseorang yang disayanginya?
Pertanyaan ini menjadi inti cerita dari novel karya Kazuo Ishiguro yang berjudul Klara dan Sang Matahari.
Cerita berpusat pada Klara, sebuah robot pendamping anak-anak dan remaja atau Artificial Friend (AF) yang menunggu pembelinya di sebuah toko. Suatu hari, seorang gadis bernama Josie tertarik dengannya dan berniat menjadikannya AF.
Dari sini, kisah keduanya akan berkembang. Kita juga akan melihat bagaimana sebuah robot berinteraksi dan menggunakan perasaannya selayaknya manusia.
Misi Klara untuk Menyembuhkan Josie
Kehidupan Klara berubah ketika Josie memilihnya sebagai Artificial Friend (AF). Berbeda dari robot lain yang hanya menjalankan fungsi pendamping, Klara memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap dunia di sekitarnya. Ia mengamati perilaku, perubahan suasana hati, serta hubungan antarmanusia di sekitarnya.
Klara pun mengetahui kondisi kesehatan Josie yang cukup buruk. Sebagai AF-nya, ia bertekat untuk menyembuhkan Josie dari penyakitnya. Klara juga berusaha menjadi teman yang selalu hadir untuk Josie dan berharap bisa membantunya melewati masa-masa sulit.
Menariknya, Klara adalah robot dengan tenaga surya. Ia percaya sinar matahari adalah sumber energi dan memiliki kekuatan untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Karenanya, Klara meyakinkan Josie akan hal ini dan mendorongnya untuk selalu berada di bawah sinar matahari.
Rela Mengorbankan Dirinya Demi Kesembuhan Josie
Klara yang meyakini matahari memiliki kekuatan untuk menyembuhkan penyakit Josie, harus melakukan sebuah hal nekat. Mesin cootings yang terus menimbulkan polusi menghalangi sinar matahari untuk sampai ke Bumi. Klara yang mengetahui sumber masalah ini, berniat untuk menghancurkan mesin cootings tersebut.
Masalahnya, ia harus menggunakan cairan dari kepalanya yang mendukung jalannya robot AF. Karena pengorbanannya ini, robot AF Klara sudah tidak sesempurna sebelumnya. Kemampuan kognitif dan ingatannya berkurang. Bahkan, Klara juga terancam rusak lebih cepat dari seharusnya. Meski tahu risikonya, ia tetap bersikukuh untuk kesembuhan Josie.
Josie Berhasil Tumbuh Dewasa dengan Sehat dan Klara Berakhir di Yard
Usaha Klara yang membahayakan dirinya ternyata tak sia-sia. Josie berhasil melewati masa sakitnya dan tumbuh dewasa. Namun, keberhasilan tersebut juga menandai perubahan dalam hubungan mereka. Josie mulai menjalani kehidupannya sendiri, sementara Klara tidak lagi memiliki peran yang sama seperti ketika mereka masih bersama.
Klara sudah dianggap tidak dibutuhkan lagi sehingga ia ditempatkan di pelataran. Di sana, ia menghabiskan waktunya dengan mengingat kembali pengalaman bersama Josie dan menikmati sinar matahari sepanjang hari.
Novel ini bukan sekadar kisah seorang gadis dengan robot yang menemaninya. Klara dan Sang Matahari juga mempertanyakan apa yang membuat seseorang begitu berarti bagi orang lain.
Saya menganggap apa yang dilakukan oleh Klara yang bukan manusia ini, beyond humanities. Selain itu, saya juga agak tersentil dengan apa yang dilakukan si Ibu dan Josie yang membuang sesuatu setelah ia tidak berguna tanpa mengingat bagaimana sesuatu tersebut membantu. Menurutmu, novel ini happy ending atau sad ending?
Baca Juga
-
Pengorbanan Seorang Kakak untuk Mimpi Adik Tulinya di Hear Me: Our Summer
-
Bagaimana Cara Penguasa Memutarbalikkan Fakta Lewat Bahasa di Animal Farm?
-
5 Tanda Donat Overproof, Adonan Terlalu Mengembang hingga Kempes
-
Jadi Cewek Gak Enakan, Intip Penampilan Mawar de Jongh di Film People Pleaser
-
Apakah Mitos di Waduk Salmokji Seseram di Film Salmokji: Whispering Water?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Mini Series Carrie: Ketika Perundungan Digital Membangkitkan Teror
-
East of Eden: Potret Adaptasi Sastra Paling Indah Karya John Steinbeck
-
Belajar Memaknai Perjuangan Orang Tua Lewat Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu
-
It Didn't Start with You: Menelusuri Luka Keluarga yang Membentuk Diri Kita
-
Ulasan A Piece of Your Mind: Merawat Ingatan, Berdamai dengan Kehilangan
Terkini
-
Ironi Ruang Publik: Spanduk Protes Ditertibkan, Bendera Partai Dibiarkan
-
TEMPEST Akhiri Aktivitas Grup, Hyuk Segera Wamil dan LEW Tinggalkan Agensi
-
Fenomena Brain Drain: Mengapa Talenta Terbaik Indonesia Lebih Pilih Berkarier di Luar Negeri?
-
Dari Curhat hingga Sindiran: Menelaah Sisi Gelap Akun Menfess Kampus
-
Sindiran Upin Ipin soal Kabut Asap Indonesia Picu Reaksi Warganet