Jika ada kompetisi program lingkungan paling minim evaluasi di negeri ini, penanaman mangrove massal pasti keluar sebagai juaranya. Setiap minggu, anggaran negara maupun dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) habis dibuang ke pesisir pantai.
Skenarionya selalu sama: rombongan pejabat datang, spanduk dibentangkan, potret bibit ditancapkan, lalu rilis berita disebar. Besoknya? Lokasi itu ditinggal total. Tiga bulan kemudian, bibit-bibit tadi sudah hilang disapu ombak atau membusuk terlilit sampah plastik.
Menurut saya, fenomena ini tidak lebih dari sekadar panggung sandiwara lingkungan. Banyak pihak terjebak dalam delusi bernama "euforia menanam". Ada anggapan keliru bahwa dengan menancapkan sebatang bibit ke lumpur, kewajiban terhadap lingkungan otomatis selesai.
Keberhasilan konservasi pesisir secara sepihak hanya dihitung dari berapa ribu bibit yang sukses dibeli dari penangkar, bukan berapa banyak pohon yang berhasil tumbuh besar sampai rindang. Saya melihat proyek seperti ini bukan sedang menyelamatkan bumi, melainkan sedang menyelamatkan laporan pertanggungjawaban anggaran di atas meja birokrat.
Mengapa Bibit Mangrove Selalu Mati Massal?
Tragedi kematian bibit pasca-seremonial ini bukan misteri alam, melainkan akibat dari kecerobohan manusia dalam memilih lokasi. Banyak panitia yang buta ekologi dasar dengan nekat menanam mangrove di pantai berpasir dengan ombak terbuka yang arusnya sangat kuat. Mereka sama sekali tidak membangun Alat Pemecah Ombak (APO) terlebih dahulu. Logika sederhananya, jangankan bibit kecil tak berakar, manusia saja bisa terseret arus di sana. Maka jangan heran kalau air pasang pertama datang pada malam hari, seluruh bibit tersebut langsung hanyut tak berbekas.
Masalahnya kian rumit karena panitia sering kali salah kaprah soal jenis tanaman yang dibawa. Mangrove bukan tanaman tunggal; mereka punya zonasi yang sangat ketat. Ada jenis Avicennia (api-api) yang kuat di garis terluar, ada Rhizophora (bakau) yang butuh lumpur di zona tengah, dan ada Bruguiera di zona terdalam yang dekat air tawar. Karakteristik tanah pantai yang akan ditanam sering kali diabaikan.
Sudah jelas, pemilihan jenis bibit pada akhirnya hanya didasarkan pada lokasi mana yang aksesnya paling mudah dicapai oleh mobil pejabat dan latarnya bagus untuk foto bersama. Alam sengaja dikorbankan demi kepraktisan dokumentasi.
Faktor paling fatal dari kegagalan ini adalah hilangnya anggaran untuk biaya perawatan atau pengawasan berkala. Bibit mangrove itu makhluk hidup yang sangat ringkih di dua tahun pertama masanya. Batang mudanya mudah patah tertimpa sampah plastik bawaan laut, dan daun mudanya adalah makanan empuk bagi hama kepiting.
Ketika sebuah proyek hanya membiayai pengadaan bibit dan konsumsi nasi kotak saat acara, tetapi nol rupiah untuk menggaji pengawas pasca-penanaman, maka proyek itu sejak awal memang didesain untuk gagal.
Modali Perawatan, Bukan Pembelian
Strategi konservasi ini harus dirombak total mulai dari perencanaan keuangannya. Mengalokasikan dana miliaran rupiah hanya untuk membeli bibit baru tanpa biaya perawatan adalah kesalahan struktural yang bodoh. Alokasi dana itu jauh lebih efektif jika diubah menggunakan skema 20-80.
Artinya, gunakan 20 persen saja untuk penanaman awal, sedangkan 80 persen sisanya wajib dikunci untuk membiayai pemeliharaan, pembersihan sampah berkala, serta penyulaman bibit yang mati secara konsisten selama minimal tiga tahun.
Distribusi uang pemeliharaan ini juga tidak boleh salah sasaran dengan menyerahkannya kepada kontraktor kota. Dana tersebut harus diserahkan langsung kepada kelompok nelayan dan masyarakat lokal setempat karena merekalah yang setiap hari berada di garis pantai dan paling paham karakter ombak di sana.
Ketika masyarakat pesisir diberikan hak kelola, insentif yang layak, dan pemahaman bahwa hutan mangrove yang lebat akan menjaga sumur mereka dari intrusi air asin serta menggandakan populasi kepiting bakau, mereka akan menjaganya tanpa perlu diperintah.
Menyelamatkan ekosistem tidak bisa selesai dalam durasi tiga jam acara seremonial. Bumi sudah lelah dengan drama kepedulian instan yang hanya berumur sependek jepretan kamera. Sudah saatnya kita menyudahi kekeliruan ini. Berhentilah memamerkan berapa banyak yang sudah kita tanam, dan mulailah mempertanggungjawabkan berapa banyak yang berhasil kita rawat hingga tumbuh menjadi benteng hijau yang kuat.
Baca Juga
-
Beautiful Pain: Kisah Nyata Perjuangan Perempuan Bangkit dari Luka KDRT
-
Bahasa Indonesia Diminati Kampus Dunia, Kok Kita Malah Bangga Pakai Slang?
-
Dua Wajah Indonesia: Sibuk Kejar Dolar Turis, Lalai Urus Kabut Asap
-
Review In My Prime: Kisah Bayi Tertukar yang Mengubah Nasib Dua Keluarga
-
Review Tenzing: Kisah Nyata Perjuangan Pendaki Korban Diskriminasi Everest
Artikel Terkait
-
Advokat Amin Fahrudin Usul LHKPN Dipakai untuk Telusuri Kekayaan Tak Wajar Pejabat
-
Harta Pejabat di Luar LHKPN Diusulkan Bisa Dirampas Negara: Bagaimana Batas Hukumnya?
-
Pejabat BUMN Tak Bisa Lagi Minta Perlakuan Istimewa, Nggak Lagi Pakai Patwal
-
KPK Usul Harta Pejabat yang Tak Dilaporkan di LHKPN Bisa Dirampas Negara
-
Prabowo Sering Dapat Laporan Ekonomi RI Baik-baik Saja, Purbaya: Pejabat Lapor Asal Bapak Senang
Kolom
-
Internet Mati, Hidup Tiba-Tiba Lumpuh: Mengapa Aplikasi Kita Ringkih?
-
Literasi Digital Indonesia: Jago Scroll, Gampang Terkecoh
-
Bahasa Indonesia Diminati Kampus Dunia, Kok Kita Malah Bangga Pakai Slang?
-
Protein Hewani Mahal: Ketika Negara Maritim Gagal Memenuhi Gizi Rakyatnya
-
Slang Lokal ke Tren Global: Peluang Bahasa Indonesia Kuasai Algoritma Dunia
Terkini
-
Bosan Slasher? Ini 9 Film Folk Horror yang Cocok Ditonton saat Halloween
-
Beautiful Pain: Kisah Nyata Perjuangan Perempuan Bangkit dari Luka KDRT
-
King's Proposal Diadaptasi Anime TV, Rie Takahashi Isi Suara Karakter Utama
-
Sinopsis Eugenia, Drama Misteri Jepang Terbaru Kishii Yukino dan Kiryu Mai
-
Mengapa Pikiran Memengaruhi Keadaan Kita? Review Buku The Law of Attraction