Lintang Siltya Utami | Agustian Pamungkas
In My Prime. (iQIYI)
Agustian Pamungkas

In My Prime (Sheng Feng Qi Shi / ) merupakan drama terbaru asal Tiongkok bergenre period slice-of-life yang terdiri dari 26 episode. Drama garapan Lin Yan ini diadaptasi dari novel Close Neighbors karya Han Shisan.

Berlatar di kota tambang Qingwu pada era 1980-an hingga 1990-an, serial ini menggambarkan kehidupan dua keluarga tetangga yang terhubung oleh sebuah peristiwa tak terduga.

Aktor muda Guan Xiaotong dan Wang Ziqi dipasangkan sebagai pemeran utama dalam drama keluarga ini. Penampilan mereka didukung penuh oleh barisan aktor senior legendaris seperti Liu Lin, Guo Tao, dan Guo Xiaodong. Kolaborasi lintas generasi ini berhasil membangun pondasi konflik rumah tangga yang emosional, berbobot, dan mengalir sepanjang cerita berjalan.

Bayi Tertukar yang Mengubah Takdir selama Tiga Dekade

Potret keluarga dalam drama In My Prime. (iQIYI)

Awal 1980-an di Kota Qingwu, keluarga Qi hidup hangat walau serba pas-pasan. Di sebelah mereka, Cao Dongfang berjuang mengurus rumah tangga sendiri setelah istrinya meninggal dunia. Takdir mempertemukan kedua keluarga ini saat kedua istri mereka melahirkan di rumah sakit yang sama pada hari yang sama.

Kecerobohan pihak rumah sakit membuat kedua bayi mereka, Qi Shi dan Cao Xin, tidak sengaja tertukar. Saat rahasia ini terungkap bertahun-tahun kemudian, kedua tetangga ini sepakat memilih jalan damai demi masa depan anak-anak. Keputusan haru ini akhirnya mengikat nasib kedua keluarga hingga tiga dekade ke depan.

Qi Shi (Guan Xiaotong) tumbuh menjadi cewek unik karena terlahir dengan kondisi fisik albinisme. Waktu kecil, dia sering melakukan aksi konyol seperti memakai rambut palsu dan minum kecap agar bisa membaur dengan temannya. Penolakan sosial yang ia terima justru membentuknya menjadi sosok perempuan yang berkepala batu, pemberani, dan mandiri.

Sebaliknya, Cao Xin (Wang Ziqi) tumbuh menjadi murid teladan dan anak emas kebanggaan lingkungan. Namun, predikat sempurna itu bikin dia stres karena tercekik oleh tekanan keras ayahnya yang menuntutnya selalu nomor satu. Konflik batin ini mulai menguji ketahanan ikatan kedua keluarga saat anak-anak mereka beranjak dewasa.

Review Serial In My Prime

Silsilah keluarga yang tertukar. (iQIYI)

Nonton serial ini sampai tamat rasanya campur aduk, apalagi ceritanya membumi banget dan nggak neko-neko. Sinematografinya punya tone hangat, ditambah latar kota pabrik jadul yang sukses membawa kita bernostalgia seolah kembali ke masa lalu.

Walaupun ide anak tertukar mungkin terdengar seperti cerita sinetron pada umumnya, eksekusinya rapi sampai episode 26. Ceritanya juga fokus pada cara setiap orang berdamai dengan kenyataan pahit yang harus mereka hadapi.

Dari segi akting, Guan Xiaotong layak mendapat dua jempol karena berani keluar dari zona nyamannya. Dia tampil polos tanpa makeup, dengan rambut dan bulu mata yang sepenuhnya putih demi memerankan karakter dengan albinisme. Sisi Qi Shi yang tangguh, tetapi sebenarnya rapuh di dalam, berhasil dia bawakan lewat tatapan mata yang ekspresif. Penampilannya membuat penonton ikut merasakan kesedihan saat karakternya mendapat perlakuan tidak adil.

Di sisi lain, Wang Ziqi juga sukses menggambarkan betapa melelahkannya menjadi anak emas yang batinnya tersiksa. Lewat ekspresi wajah yang datar dan tatapan kosong, dia memperlihatkan tekanan yang dirasakan karakternya akibat tuntutan keras sang ayah yang selalu menginginkannya menjadi nomor satu.

Nilai plus lainnya datang dari penampilan aktor senior, Liu Lin dan Guo Tao, sebagai orang tua era 90-an yang bawel, tetapi rela berkorban mati-matian demi anak-anak mereka. Kehadiran mereka membuat hubungan orang tua dan anak dalam cerita terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Hubungan antar tetangga juga digambarkan dengan cukup dekat dengan kehidupan nyata, mulai dari patungan saat ada yang kesusahan sampai ikut senang ketika tetangga mendapat rezeki. Kehadiran para aktor senior ini benar-benar membantu menjaga ritme cerita agar tetap menarik sampai babak final.

Namun, kalau boleh jujur, serial ini tetap punya beberapa kekurangan. Di pertengahan cerita, alurnya sempat melambat dan agak diulur-ulur untuk membangun suasana melankolis. Beberapa keputusan karakter dari generasi tua juga kadang bikin yang geleng-geleng karena masih saja mempertahankan cara pandang patriarki yang kolot.

Meski begitu, kekurangan tersebut tidak sampai merusak penutup ceritanya. Krisis keluarga yang dibangun sejak awal berhasil diselesaikan dengan penuh haru dan damai. Bahkan, aku mendapat pelajaran berharga bahwa orang yang membesarkan dan menyayangi kita sejak kecil punya arti yang jauh lebih besar daripada sekadar hubungan darah.

Kesimpulannya, In My Prime tetap menjadi salah satu serial bertema keluarga tahun 2026 yang layak direkomendasikan, terutama buat kamu yang ingin menikmati tontonan tentang keluarga, kasih sayang, dan hubungan antarmanusia di waktu luang.