Satu unggahan tentang idol Korea bisa mengubah suasana media sosial dalam hitungan menit. Awalnya cuma membahas penampilan, lagu baru, atau kemenangan di ajang penghargaan. Tiba-tiba, kolom komentar dipenuhi sindiran, saling serang, bahkan hinaan yang menyeret kehidupan pribadi orang lain.
Buat sebagian penggemar K-pop, adu argumen seperti itu sudah terasa biasa. Fanwar, sebutan untuk perang antar penggemar, bahkan kadang dianggap bagian dari keseruan mendukung idola. Padahal, ketika membela artis berubah menjadi alasan untuk merendahkan orang lain, ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar perbedaan selera musik.
Saat Fandom Berubah Jadi Kubu yang Harus Dibela
Banyak orang mengenal K-pop lewat lagu yang menemani perjalanan, video musik yang ditonton berulang kali, atau pertemanan yang berawal dari kesamaan idola. Komunitas penggemar bisa menjadi tempat mencari teman, berbagi kegembiraan, dan merasa diterima. Namun, ketika identitas sebagai penggemar melekat terlalu kuat, kritik terhadap idola bisa terasa seperti serangan terhadap diri sendiri.
Coba lihat percakapan yang sering muncul di media sosial. Seseorang menganggap penampilan grup A lebih bagus daripada grup B, lalu penggemar grup B membalas dengan menyebut prestasi grup A yang dianggap kurang membanggakan. Perdebatan yang semula soal musik berubah menjadi adu harga diri, lengkap dengan serangan terhadap penampilan fisik, kemampuan, sampai kehidupan pribadi sang artis.
Yang dipertaruhkan bukan lagi kualitas lagu, melainkan posisi kelompok masing-masing. Siapa yang lebih populer, siapa yang punya pencapaian lebih tinggi, dan siapa yang dianggap paling pantas disebut penggemar sejati.
Penelitian Atiqah Abd-Rahim yang terbit dalam Journal for Undergraduate Ethnography pada 2019 menemukan bahwa persaingan antar fandom dapat membentuk identitas sekaligus hierarki di dalam komunitas penggemar K-pop. Artinya, perselisihan bukan selalu soal ketidaksukaan terhadap grup lain. Ada kebutuhan untuk membuktikan bahwa kelompok sendiri lebih unggul dan lebih layak mendapat pengakuan.
Ketika identitas kelompok menjadi ukuran harga diri, mengalah dalam perdebatan bisa terasa seperti kekalahan pribadi. Penggemar akhirnya lebih sibuk mempertahankan kubu daripada menikmati karya yang mereka sukai.
Algoritma Mempertemukan Emosi, Fandom Mengubahnya Jadi Perang
Fanwar tumbuh subur karena media sosial memberi ruang bagi emosi antar fanbase untuk menyebar dengan cepat. Satu komentar pedas bisa mendapat ribuan balasan, sementara unggahan yang mengajak berdiskusi dengan tenang belum tentu mendapat perhatian serupa.
Sistem rekomendasi platform juga cenderung mempertemukan pengguna dengan konten yang sesuai minat dan interaksinya. Penggemar yang sering membicarakan grup tertentu akan lebih mudah menemukan konten terkait grup tersebut, termasuk perdebatan yang melibatkan fandomnya.
Ketika sebuah unggahan memancing kemarahan, pengguna bisa terdorong untuk membalas, mengutip, atau menyebarkannya. Interaksi itu membuat konten semakin terlihat, sehingga lebih banyak orang ikut masuk ke percakapan. Bukan berarti algoritma sengaja menciptakan fanwar, tetapi cara konten beredar bisa membuat konflik terasa lebih besar daripada percakapan sehari-hari.
Penelitian Marlyna Maros dan Fara Nadia Abdul Basek dalam jurnal 3L: Language, Linguistics, Literature pada 2022 menemukan bahwa aktivitas fandom K-pop di Twitter dapat melibatkan penyebaran informasi palsu dan provokasi perang antar fandom. Penelitian berbasis wawancara terhadap 30 peserta itu juga mengingatkan bahwa aktivitas semacam ini berpotensi memicu perundungan siber dan merusak kualitas interaksi sosial.
Contoh sederhananya terlihat ketika kabar yang belum terverifikasi tentang seorang idol dibagikan dengan narasi yang menyudutkan grup lain. Penggemar yang sudah punya prasangka bisa langsung percaya, lalu menyebarkan kabar tersebut sebagai bahan serangan. Ketika klarifikasi muncul, unggahan pertama mungkin sudah telanjur menyebar jauh.
Ada pula tekanan dari sesama anggota fandom. Penggemar yang memilih diam saat grupnya diserang bisa dianggap tidak loyal. Akibatnya, sebagian orang ikut membalas bukan karena punya pendapat sendiri, melainkan karena takut dikucilkan dari komunitasnya.
Media sosial memang memberi penggemar kekuatan untuk mendukung idola. Namun, kekuatan yang sama bisa berubah menjadi tekanan untuk terus membela kelompok, bahkan ketika tindakan yang dilakukan sudah melewati batas.
Menjadi Penggemar Tanpa Kehilangan Akal Sehat
Kita perlu membedakan loyalitas dengan fanatisme yang merugikan. Mendukung idola berarti menikmati karya, mengapresiasi pencapaian, dan ikut membangun komunitas yang positif. Loyalitas tidak harus dibuktikan dengan menyerang orang yang menyukai grup berbeda.
Penelitian Derek A. Laffan dalam Psychological Reports pada 2021 terhadap 1.477 penggemar K-pop dari 92 negara menemukan bahwa keterikatan sebagai penggemar berkaitan dengan kebahagiaan, harga diri, dan rasa terhubung secara sosial. Temuan ini mengingatkan bahwa fandom bisa menjadi ruang yang memberi manfaat psikologis, bukan sekadar tempat berdebat.
Sayangnya, manfaat itu bisa terganggu ketika komunitas berubah menjadi lingkungan yang menormalisasi hinaan. Penggemar yang awalnya mencari teman justru bisa merasa harus selalu waspada, membela diri, atau ikut menyerang agar tetap diterima.
Kebiasaan sederhana bisa membantu memutus rantai tersebut. Periksa sumber sebelum membagikan kabar, bedakan kritik terhadap karya dengan penghinaan terhadap orang, dan jangan merasa wajib membalas setiap komentar yang memancing emosi. Jika sebuah percakapan sudah berubah menjadi serangan pribadi, meninggalkannya bukan berarti kalah.
Pengelola fanbase juga punya tanggung jawab untuk membangun budaya komunitas yang sehat. Mereka bisa menegaskan aturan anti-perundungan, menghapus unggahan yang menyebarkan informasi palsu, dan mengingatkan anggota bahwa dukungan terhadap idola tidak perlu dibuktikan lewat kebencian kepada orang lain.
Kita boleh punya grup favorit, berdebat soal musik, bahkan berbeda pendapat dengan penggemar lain. Namun, ketika nama idol dipakai sebagai alasan untuk merendahkan manusia, yang sedang dibela bukan lagi karya musik, melainkan ego kelompok.
K-pop seharusnya menjadi ruang untuk menikmati musik dan membangun pertemanan lintas batas. Jangan sampai lagu yang membuat kita bahagia justru menjadi alasan untuk membuat orang lain merasa tidak aman di ruang digital.
Baca Juga
-
Uang Pajak Kita ke Mana? Transparansi yang Masih Bikin Bingung
-
Pajak Pembayaran Digital: Negara Jangan Bikin Rakyat Makin Waswas
-
Buku untuk Belajar Kok Masih Kena Pajak? Ini yang Perlu Dikritik
-
5 Exfoliating Toner Lokal yang Affordable dan Ramah untuk Kulit Sensitif
-
Di Balik Pahitnya Matcha, Ada Ancaman Gula Berlebih yang Bikin Tubuh Menjerit!
Artikel Terkait
-
Sadar Nggak? Kamu Sedang Diperbudak Algoritma Lewat Skandal Artis
-
Aksi Boikot Raffi Ahmad: Menyoal Efektivitas Cancel Culture di Media Sosial
-
Saya Kira Saya Malas, Ternyata Otak Saya Disetel Ulang untuk Gagal Fokus
-
Wacana Blokir Medsos Anak: Solusi Aman atau Bikin Anak Makin Penasaran?
-
Parah Jadi Para, Gaji Jadi Gajih: Ketika Satu Huruf Mengubah Makna Bahasa
Kolom
-
Pendidikan: Bukan Sekadar Nilai, tetapi Membentuk Karakter
-
Sadar Nggak? Kamu Sedang Diperbudak Algoritma Lewat Skandal Artis
-
Uang Pajak Kita ke Mana? Transparansi yang Masih Bikin Bingung
-
Ketika Buzzer Lebih Sibuk Membela Pemerintah daripada Memahami Gizi
-
Tren Renting Generation: Mengapa Anak Muda Pilih Sewa Dibanding Setor KPR?
Terkini
-
Review Buku Chapterhouse: Dune, Seni Mengubah Musuh Jadi Sekutu
-
Keranjang Penuh Tapi Nggak Dicheckout? Kamu Nggak Sendirian, Ini Kata Riset!
-
Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2026: Saatnya Cinta Jadi Tindakan Nyata
-
Tak Apa-Apa Tak Sempurna: Belajar Menerima Diri dan Menjalani Hidup dengan Lebih Bahagia
-
Nayeon TWICE Ungkap Judul Lagu Utama dan Jadwal Teaser Single Baru, NA-sty