Hayuning Ratri Hapsari | Dini Sukmaningtyas
Ilustrasi booth jajanan (magnific)
Dini Sukmaningtyas

Realita sering kali menampar kita di tempat yang tidak terduga, salah satunya di lorong supermarket atau pasar tradisional. Ketika mulai rutin belanja dan memasak sendiri, kita baru benar-benar paham nilai uang yang sebenarnya.

Satu porsi makanan viral yang habis dalam hitungan menit ternyata setara dengan beberapa ikat sayur, telur, dan bumbu dapur untuk makan beberapa hari. Seketika itu juga, niat untuk sekadar ikut-ikutan jajan rasanya mendadak hilang.

Namun, menahan diri jelas bukan hal yang mudah. Di tengah gempuran tren kuliner kekinian yang terus berganti setiap minggu di media sosial, banyak anak muda merasa terombang-ambing. Ada dorongan kuat untuk mencoba agar tidak merasa ketinggalan, tetapi ada pula tuntutan ekonomi yang memaksa untuk makin realistis.

Kita berada di fase di mana keputusan konsumtif sekecil apa pun butuh pertimbangan matang, sebab menjaga kebutuhan bulanan jelas jauh lebih krusial daripada memuaskan gengsi sesaat.

Lantas, bagaimana pertarungan antara kesadaran finansial dan gengsi kuliner ini membentuk cara pandang baru anak muda dalam mendefinisikan arti kebahagiaan sesungguhnya?

Jebakan Validasi Bernama Self Reward

Beberapa tahun terakhir, istilah self-reward rasanya sering salah kaprah. Apresiasi diri yang tadinya cukup dengan istirahat atau makan masakan rumah favorit, sekarang berubah jadi keharusan buat beli apa pun yang lagi wara-wiri di FYP.

Tanpa sadar, kita sering terjebak antara ingin melepas penat atau sekadar takut ketinggalan tren (FOMO). Kita beli makanan mahal bukan karena benar-benar ingin tahu rasanya, tapi supaya merasa tetap relevan dengan apa yang lagi di-hype orang banyak.

Ujung-ujungnya, siklus mental ini bikin capek sendiri. Kita penasaran, beli, senang sebentar pas makan, tapi langsung menyesal pas sadar dompet menipis.

Keluar dari jebakan ini bukan berarti kita tidak boleh jajan sama sekali. Kita hanya sedang belajar membedakan mana self-reward yang benar-benar dari hati, dan mana yang hanya menuruti algoritma media sosial. Kalau kita udah bisa bodo amat dengan standar medsos, tekanan untuk ikut-ikutan tren akan hilang dengan sendirinya.

Hitung-hitungan Baru Bernama Belanja Bulanan

Sadar atau tidak, kedewasaan itu datang pas kita mulai rutin belanja kebutuhan dapur sendiri. Waktu kita sudah biasa mengecek harga beras, minyak goreng, atau selisih harga bumbu di pasar, cara pandang kita soal uang langsung berubah drastis.

Struk belanjaan mendadak jadi pengingat yang cukup menampar, karena ternyata uang untuk membeli satu porsi jajanan viral itu punya daya beli yang jauh lebih berguna untuk bertahan hidup selama beberapa hari.

Perhitungan sederhana ini sering membuat kita galau sendiri di kepala. Di satu sisi, kita ingin menikmati hasil kerja keras setelah penat bekerja. Tapi di sisi lain, ada rasa bersalah setiap kali mengeluarkan uang untuk hal-hal yang sifatnya hanya untuk memuaskan lidah sesaat. Rasanya seperti ada perang batin antara ingin menikmati hidup dan takut boncos gara-gara masa depan ekonomi yang tidak pasti.

Merumuskan Ulang Arti Bahagia

Menjadi anak muda di tengah ekonomi yang seperti ini memang serba salah. Di satu sisi kita dituntut mandiri, tapi di sisi lain biaya hidup rasanya naik terus sementara pemasukan jalan di tempat.

Akibatnya, cara anak muda mendefinisikan kata "bahagia" mau tidak mau harus ikut bergeser. Bahagia sekarang bukan lagi soal seberapa banyak makanan viral yang sudah dicoba, tapi seberapa aman kita dari rasa cemas saat akhir bulan tiba.

Proses adaptasi ini butuh keberanian agar tidak gampang ikut arus. Kadang, bentuk perlawanan paling jujur di tengah ekonomi yang ketat adalah dengan kembali menikmati hal-hal yang sederhana.

Misalnya, menyeduh kopi sendiri di rumah atau makan masakan rumahan ternyata jauh lebih menenangkan daripada ikut desak-desakan antre makanan viral yang harganya menguras jatah makan seminggu.

Tapi, bukan berarti jadi dewasa itu tidak boleh bersenang-senang. Tapi kita harus tahu kapan harus mengerem, memilih mana yang benar-benar penting, dan paham kalau kewarasan mental serta kestabilan hidup jauh lebih berharga daripada sekadar seporsi tren kuliner sesaat.