Hayuning Ratri Hapsari | M. Fuad S.T.
Cristiano Ronaldo di pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2026 melawan Spanyol (dok. FIFA)
M. Fuad S.T.

Pengabdian panjang seorang Cristiano Ronaldo kepada Timnas Portugal pada akhirnya menemukan titik penghabisan. Dari banyaknya momen yang telah dia berikan kepada Os Navegadores, saya justru mendapatkan sebuah pembelajaran berharga yang berkorelasi dengan kerasnya dunia kerja yang kita jalani. 

Laman Suara.com (5/11/2026) menuliskan, pemain yang menjadi pemilik Super Ballon d'Or tersebut mengakhiri kebersamaannya dengan Timnas Portugal pada hari Kamis (5/11) lalu. Namun, pengujung karier Timnas dari pemain sebesar Ronaldo itu justru menyisakan sebuah antiklimaks penuh pembelajaran, di mana pengabdian panjang nan tulus tak selalu mendapatkan balasan yang sepadan.

Setidaknya, saya melihat ada tiga persamaan antara perjalanan karier serta dedikasi tanpa henti dari seorang Ronaldo, dengan toksisitas dunia kerja yang ada di dunia sekitar kita.

Kira-kira, apa saja ya korelasi antara perpisahan Ronaldo dengan dunia kerja yang kita jalani saat ini? Mari kita ulas bersama!

1. Fenomena "Tulung-Menthung"

Berdasarkan data statistik dari laman Transfermarkt, Ronaldo sendiri memulai debutnya bersama Timnas Senior Portugal pada 20 Agustus 2003. Itu artinya, mantan pemain bintang klub-klub besar dunia tersebut menghabiskan lebih dari 23 tahun perjalanan kariernya untuk negara tempat kelahirannya tersebut.

Dalam rentang 23 tahun itu, tentunya banyak pemain yang telah berkolaborasi dengannya. Dimulai dari pemain-pemain angkatan di atasnya seperti Luis Figo, kemudian pemain seangkatannya seperti Luis Nani, hingga adik-adik tingkatnya yang saat ini memenuhi skuad Selecao.

Dalam rentangan waktu tersebut, Ronaldo tentu mengalami dua momen yang saling bertolak belakang. Selain mendapatkan bimbingan dari para seniornya, Ronaldo juga sudah pasti bertindak sebagai mentor dan pembimbing bagi adik-adik tingkatnya di Timnas Portugal.

Namun sayangnya, balasan yang didapatkan oleh sang megabintang justru tak sesuai harapan dan cenderung menyakitkan. Bukan hanya bagi Ronaldo, tetapi juga bagi para penggemarnya.

Ronaldo yang sudah banyak membantu adik-adik tingkatnya di Portugal untuk berkembang ke level tertinggi, justru mendapatkan "tikaman" dan jegalan halus.

Pemain-pemain muda yang pernah dia bimbing di tim yang sama seperti Bruno Fernandes, Rafael Leao hingga Joao Neves, kerap kali "menyerang" keberadaan CR7 di Timnas Portugal bahkan memungkiri keberadaannya sang pemain.

Pada masyarakat Jawa, fenomena seperti ini digambarkan dengan sanepa (peribahasa/ungkapan) "tulung-menthung", di mana orang yang sudah banyak kita bantu, justru memberikan balasan yang jahat.

Coba sekarang kita ingat-ingat, di dunia kerja yang kita jalani, ada berapa banyak orang yang melakukan tindakan seperti ini?

2. Jangan Mengharapkan Perpisahan yang Indah

Kita semua pasti sepakat, durasi 23 tahun yang didedikasikan Ronaldo untuk Timnas Portugal tentunya bukan sebuah rentang waktu yang singkat.

Sangat jarang kita temukan, ada pemain sepak bola yang bisa terus konsisten mendedikasikan kemampuan yang dimilikinya untuk timnas negaranya hingga lebih dari dua dekade.

Pasalnya, kebanyakan pesepak bola di dunia, hanya bisa bertahan membersamai Timnas masing-masing dalam rentang waktu yang mentok di angka belasan tahun saja. Hanya sedikit di antara mereka yang bisa menembus hitungan pengabdian lebih dari dua dekade.

Sehingga, secara logika akal sehat, dengan segala pengabdiannya itu, Ronaldo berhak untuk mendapatkan akhir yang manis atau setidaknya sebuah perpisahan yang indah dari negaranya.

Namun, alih-alih mendapatkan kado-kado indah dari Timnas dan para kompatriotnya, perpisahan Ronaldo dengan Portugal justru diwarnai dengan rentetan kejadian yang mengecewakan.

Bahkan dalam sebuah kesempatan, Ronaldo sampai meninggalkan kamp Timnas Portugal karena saking kecewanya dia terhadap pelatih dan situasi internal tim.

Sekarang kita lihat, dedikasi bertahun-tahun dengan penuh kesungguhan yang sudah kita berikan kepada perusahaan atau tempat kerja kita, bukankah juga sering berakhir dengan kekecewaan yang mendalam seperti itu?

Alih-alih dilepas dengan momen yang penuh kebahagiaan, tak jarang di antara kita yang justru harus mengakhiri masa kerja dengan "begitu saja", tanpa ada seremoni manis atas apa yang telah kita lakukan, bukan?

3. Tulusnya Pengabdian Bukan Jaminan untuk Tak Dilupakan

Rentangan waktu sepanjang 23 tahun untuk mengabdikan kemampuan yang dimiliki, tentu tak bisa dengan mudah dilupakan. Bahkan oleh mereka yang tak merasakan pengabdian itu secara langsung. Apalagi jika pengabdian tersebut dilakukan dengan tulus.

Namun yang terjadi kepada Ronaldo sangat berbeda. Setelah membawa negaranya berjaya dan menciptakan banyak sejarah di berbagai ajang sepak bola internasional, keberadaan Ronaldo di Timnas Portugal sedikit demi sedikit mulai dikikis dan dilupakan.

Meski bertindak sebagai leader dan kapten tim, menjelang perpisahannya bersama Timnas Portugal, Ronaldo seakan dianggap tak ada dalam tim. Iya, keberadaan Ronaldo dalam tim sering kali "tak dianggap" oleh yang lain. Baik itu ketika di luar tim, maupun ketika dirinya dimainkan dalam skema permainan tim. 

Contohnya pun ada bejibun. Berkali-kali kita lihat, ketika Ronaldo dimainkan dalam tim, rekan-rekan setimnya justru memainkan sepak bola aneh yang tak memihak kepadanya dan cenderung membuat Ronaldo terisolasi serta tak memiliki sumbangsih dalam permainan. Pun demikian halnya ketika di luar lapangan.

Pengabdian 23 tahun lebih itu tak dipandang sebagai sesuatu yang luar biasa oleh Jorge Jesus selaku pelatih Portugal. Alih-alih mendapatkan apresiasi, sang pelatih justru membuat Ronaldo ngambek karena merasa dikhianati imbas omongan sang pelatih yang tak mencerminkan rasa hormat kepada sang legenda.

Malahan, menurut laman Suara.com (01/10/2026), Ronaldo sampai memutuskan untuk meninggalkan Timnas Portugal bulan lalu karena sudah dua kali dibohongi oleh sang pelatih. Bukan hanya sekali.

Sebuah tindakan yang pada akhirnya berbuntut panjang dan menjadi salah satu penyebab Ronaldo memutuskan untuk berhenti membela Timnas Portugal secara permanen di awal bulan November ini.

Sekarang, coba kita hubungkan dengan dunia kerja yang kita jalani saat ini. Bukankah trik-trik PHP dan pengkhianatan ala Jorge Jesus kepada Ronaldo juga sering kita temukan? Keberadaan kita yang tak dianggap, sudah pasti sangat sering kita temui bukan? Belum lagi teman-teman kerja yang tak mendukung keberadaan kita, sudah pasti lebih banyak lagi kita temukan kasus-kasus seperti itu, kan?

Belajar dari apa yang dialami oleh Cristiano Ronaldo, sejatinya kita bisa mengambil banyak hikmah dari kejadian ini. Jika seorang Ronaldo yang bernama besar, berdedikasi, tulus, dan memiliki masa pengabdian yang demikian panjang saja mendapatkan balasan yang tak layak seperti itu, apalagi kita yang bukan siapa-siapa jika dibandingkan dengan dia?

Jadi, pada prinsipnya, sudah paling benar kita bekerja sewajarnya saja dan jangan pernah mengharapkan imbal balik yang lebih. Karena sejatinya, apa yang telah kita korbankan pun persembahkan, belum tentu juga bakal dipandang "sepenting itu" oleh orang lain.