Setiap kali sebuah isu ramai di media sosial, perhatian publik pasti langsung tersedot. Sebuah video bisa diputar berulang kali dan potongan kalimatnya dibagikan ke mana-mana, memicu netizen untuk sibuk menilai siapa yang benar dan salah. Hal inilah yang baru saja terjadi pada satu isu yang menyinggung kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.
Polemik ini bermula dari rekaman perdebatan antara komika Oki Rengga dengan seorang suporter PSMS Medan di tribun Stadion Utama Sumatera Utara. Momen tersebut terjadi saat laga PSMS melawan Persija Jakarta pada Selasa (3/11/2026), dipicu oleh rencana suporter membentangkan spanduk berisi pesan tentang karhutla.
Dalam video yang beredar, Oki menolak pembentangan spanduk tersebut. Ia meminta agar spanduk baru dibentangkan setelah pertandingan selesai, sembari menceritakan pengalamannya yang pernah menghadapi ancaman karena menyuarakan isu serupa.
Potongan video ini pun langsung memancing beragam reaksi publik. Sebagian netizen mengkritik sikap Oki, namun sebagian lainnya justru memahami kekhawatirannya terkait potensi sanksi yang bisa merugikan klub.
Kendati demikian, ada hal penting yang tetap harus dijaga agar tidak terlupakan, yakni esensi dari isu karhutla itu sendiri. Ketika perbincangan terlalu fokus pada sikap seorang figur publik atau reaksi suporter saja, nasib masyarakat yang terdampak justru berisiko terabaikan.
Kita tentu boleh berbeda pendapat mengenai cara menyampaikan solidaritas atau mengkritik sikap Oki dalam menegur suporter. Akan tetapi, sangat disayangkan jika energi kita habis hanya untuk saling berdebat, sementara masalah utamanya perlahan hilang dari linimasa. Bagaimanapun, viralnya suatu perdebatan tidak otomatis mengubah situasi warga di wilayah yang terbakar.
Saya tidak memungkiri bahwa spanduk memang memiliki arti penting. Dalam sebuah gerakan, simbol-simbol semacam itu berfungsi menyampaikan pesan, merekatkan solidaritas, dan menarik perhatian. Saya amat memahami bahwa para suporter sebenarnya sedang berusaha mengingatkan kita semua bahwa penderitaan warga Kalimantan sangat layak mendapat perhatian.
Bagaimanapun, spanduk hanyalah salah satu instrumen saja, bukan tujuan akhir. Ketika satu cara menemui hambatan, masih banyak jalan lain untuk menjaga isu ini tetap hidup. Dukungan bisa dilanjutkan melalui penggalangan bantuan, penyebaran informasi valid, pendampingan warga, advokasi lingkungan, hingga pengawasan kebijakan pemerintah. Solidaritas harus bergerak dari sekadar pesan menjadi tindakan nyata.
Apalagi data resmi menunjukkan bahwa persoalan ini memang belum selesai. BNPB mencatat, per Minggu (25/10/2026), masih terdapat 3.392 hektare lahan di tiga provinsi Kalimantan yang dalam penanganan. Luasan tersebut tersebar di Kalimantan Tengah sebesar 2.458 hektare, Kalimantan Barat 884 hektare, dan Kalimantan Selatan 52 hektare.
Angka-angka adalah tanda bahwa masih ada warga yang harus bertahan di tengah kepungan asap, menghadapi gangguan aktivitas, ancaman kesehatan, hingga risiko kehilangan mata pencaharian. Perjuangan mereka tidak ikut selesai saat sebuah video turun dari daftar tren media sosial, dan dampak kebakaran pun tidak akan hilang hanya karena perdebatan di stadion telah usai.
Oleh karena itu, fokus perhatian sudah seharusnya dikembalikan kepada masyarakat yang terdampak. Mereka sangat membutuhkan akses informasi, layanan kesehatan, bantuan yang tepat sasaran, serta ruang untuk menyuarakan persoalan mereka.
Dalam jangka panjang, pengorganisasian warga menjadi penting agar mereka memiliki posisi tawar yang lebih kuat untuk menuntut pemulihan, perlindungan lingkungan, dan pertanggungjawaban pihak terkait.
Polemik Oki Rengga bisa menjadi pintu masuk yang baik untuk kembali membicarakan masalah karhutla. Akan tetapi, jangan sampai keriuhan itu justru mengalihkan pandangan kita dari persoalan utama di baliknya.
Spanduk boleh saja dibentangkan dan perdebatan di media sosial bisa disudahi, namun selama warga masih menanggung dampak kebakaran, solidaritas kita seharusnya tidak ikut padam hanya karena linimasa telah beralih ke topik baru.
Baca Juga
-
Belajar dari Ubud, I Made Gunarta Dorong Ekosistem Wellness di JCWF 2026
-
Bedah One Piece Chapter 1197, Saat Haki Sanji Jadi Tameng Luffy di Elbaf
-
Ramai Isu Book Shaming: Saatnya Pembaca Bedakan Kritik Karya dengan Hinaan
-
Belajar dari KHW 400: Ini 5 Insight Storytelling Nadia Omara Bagi Kreator
-
Dilema Green Jobs: Solusi atas Krisis Iklim atau Ancaman Ekstraktif Baru?
Artikel Terkait
-
Ria Ricis Sebut Karhutla Wahana Kidzania: Etika Menguap Demi Konten?
-
Dituding Larang Suporter Pasang Spanduk Karhutla, Oki Rengga Ungkap Deal-dealan yang Ditawarkan
-
Gugur Saat Padamkan Karhutla di Seruyan, Kapten Nurhafiz Dimakamkan Secara Militer
-
Seluruh Kru Ditemukan! Jenazah Serda Heri Dievakuasi dari Bangkai Heli MI-17 di Kalteng
-
Komnas HAM: Karhutla Berpotensi Langgar Delapan Hak Warga, Anak dan Lansia Paling Rentan
Kolom
-
Ria Ricis Sebut Karhutla Wahana Kidzania: Etika Menguap Demi Konten?
-
Terkenal Tanpa Karya: Ketika Sensasi Lebih Laku daripada Prestasi
-
Jebakan Politik Belas Kasihan: Mengapa Orang Mudah Menangisi Pejabat?
-
Ketika Statistik Terlihat Indah, Benarkah Pengangguran Kita Berkurang?
-
Belajar Menelaah Kejamnya Realita Dunia Kerja melalui Perpisahan CR7 dengan Timnas Portugal
Terkini
-
Penuh Kehangatan, Mark Lee Ungkap Arti Kebahagiaan Sejati di Lagu Happiest
-
The Enchanted Garden 2: Petualangan Seru Menyelamatkan Kebun Ajaib!
-
Belajar dari Ubud, I Made Gunarta Dorong Ekosistem Wellness di JCWF 2026
-
Ulasan Dear Hyeri: Saat Kepribadian Ganda Jadi Pelarian dari Realita
-
New BIONS by BNI Sekuritas: Mengenal Investasi Saham dengan Lebih Mudah