I Made Gunarta, Co-founder Bali Spirit Festival dan The Yoga Barn, mendorong pengembangan wellness melalui ekosistem yang melibatkan komunitas, budaya lokal, industri, serta lingkungan. Hal tersebut ia sampaikan dalam sesi Inspiring Talk bertajuk “Wellness as an Ecosystem, Not Just a Trend” di Loman Park Hotel Yogyakarta, Jumat (6/11/2026).
Diskusi menarik ini merupakan bagian dari rangkaian Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2026 yang digelar menjelang opening ceremony pada pukul 14.00 WIB. Selain I Made, acara talk show ini juga menghadirkan Master Ketut Arsana selaku Founder Om Ham Retreat, serta dipandu oleh Fadli Fahmi Ali, CEO Werkudara Group.
Dalam kesempatan tersebut, I Made membagikan pengalamannya membangun jaringan wellness yang saling berkesinambungan dengan perjalanan Master Ketut sebagai praktisi penyembuhan tradisional.
“Master Ketut Arsana ini senior saya yang memulai lebih awal sebagai praktisi penyembuhan (healer) personal, sedangkan saya bergerak di pengembangan jaringan (network). Kami berdua akhirnya bermuara pada satu pemahaman bahwa healing adalah komunitas, healing adalah ekosistem. Tidak bisa dilakukan secara single fighter,” ujar I Made.
Ia menceritakan bagaimana pengembangan The Yoga Barn dan Bali Spirit Festival di Ubud, Bali, dimulai. Menurutnya, pemulihan pariwisata setelah tragedi Bom Bali 2002 silam justru membuktikan pentingnya bertumpu pada kekuatan lokal.
“Kami berkeyakinan bahwa memulihkan pariwisata (reviving tourism) harus berakar kuat pada kearifan lokal (rooted in local wisdom). Setiap daerah memiliki kekuatan lokal tersendiri yang menjadi dasar karakter dan penjenamaan destinasi (destination branding) unik. Hal ini tidak dapat ditiru atau disaingi oleh daerah mana pun di dunia,” ujarnya.
I Made juga menjelaskan bahwa ekosistem wellness yang baik harus mampu mendistribusikan manfaatnya secara merata kepada masyarakat. Dalam formula A-to-I yang diterapkannya, aspek manfaat dan distribusi ekonomi ini memegang peranan yang sangat penting.
“Beneficial artinya Memberikan manfaat finansial dan sosial yang nyata serta terdistribusi secara adil kepada masyarakat sekitar. Sedangkan distribution berfungsi sebagai titik distribusi aliran ekonomi, ilmu pengetahuan, dan kesempatan kerja bagi komunitas lokal,” tuturnya.
Master Ketut kemudian menjelaskan bahwa yoga sebenarnya merupakan sebuah praktik dalam kehidupan sehari-hari.
“Bagi saya, yoga tidak boleh dimaknai secara sempit sebatas latihan fisik atau postur semata. Menjalankan profesi bisnis, berkarya, atau mengurus keluarga dengan rasa cinta yang tulus adalah bentuk nyata dari praktik yoga dalam kehidupan sehari-hari,” kata Master Ketut.
Selain itu, diskusi juga menyentuh persoalan ego sektoral yang sering kali menghambat kolaborasi antarkomunitas. Menanggapi hal ini, I Made menegaskan bahwa keterbukaan adalah kunci utama dalam membangun sebuah ekosistem.
“Selama 20 tahun mengelola Bali Spirit Festival, tantangan ego sektoral sudah menjadi 'makanan sehari-hari' kami. Ekosistem hanya bisa terbentuk ketika setiap unsur di dalamnya mau menurunkan ego dan bersikap terbuka,” ujarnya.
Sebagai langkah nyata, I Made membuka peluang kolaborasi bagi komunitas di Yogyakarta melalui program Extended Family of Bali Spirit Festival yang menerima relawan dan pemagang. Sejalan dengan itu, Master Ketut juga mendorong komunitas Jawa untuk mengoptimalkan kembali pengetahuan leluhur mereka.
“Saya mendorong penuh komunitas di Yogyakarta dan Jawa untuk bersatu. Kekayaan pengetahuan peninggalan leluhur dan ajaran Kejawen di tanah Jawa ini luar biasa besar. Mari kita padukan potensi tersebut sebagai persembahan karya kebugaran berbasis budaya bagi masyarakat dunia,” pungkas Master Ketut.
Menutup diskusi, Fadli Fahmi Ali menyebut lebih dari 65 persen program JCWF 2026 berbasis budaya lokal. “Dalam Jogja Cultural Wellness Festival 2026 ini, porsi program kebugaran yang berbasis budaya lokal telah mencapai lebih dari 65%. Ini membuktikan bahwa langkah kita di Yogyakarta sudah berada di jalur yang benar untuk menguatkan ekosistem kebugaran budaya,” ujarnya.
JCWF 2026 berlangsung pada 6–8 November di Loman Park Hotel Yogyakarta. Pengunjung bisa menikmati berbagai agenda wellness, mulai dari kelas kebugaran hingga aktivitas berbasis budaya, dengan pilihan sesi gratis maupun berbayar. Jadi, jangan lewatkan kesempatan untuk ikut merasakan pengalaman wellness di festival ini!
Baca Juga
-
Bedah One Piece Chapter 1197, Saat Haki Sanji Jadi Tameng Luffy di Elbaf
-
Ramai Isu Book Shaming: Saatnya Pembaca Bedakan Kritik Karya dengan Hinaan
-
Belajar dari KHW 400: Ini 5 Insight Storytelling Nadia Omara Bagi Kreator
-
Dilema Green Jobs: Solusi atas Krisis Iklim atau Ancaman Ekstraktif Baru?
-
Sebut Mirip Orba, Pakar UGM Kritik Pemasangan Kawat Berduri di Jogja
Artikel Terkait
-
Bosan Healing Itu-Itu Saja? JCWF 2026 Hadirkan Meditasi dan Sound Healing
-
Merdeka Jadi Modern Tanpa Lupa Asal-Usul: Masih Bisa Bangga Punya Budaya Lokal?
-
Bali Tegaskan Diri sebagai Pusat Kreativitas, adidas Originals Hadirkan Gerai Bernuansa Budaya Lokal
-
Majukan Musisi Lokal, Nuon dan Playup Luncurkan Gerakan Harmoni Nusantara
-
Krisis Simbol! Sujiwo Tejo: Kenapa Bukan Wisanggeni Atau Gundala, Malah Bendera One Piece?
News
-
Sebut Mirip Orba, Pakar UGM Kritik Pemasangan Kawat Berduri di Jogja
-
Krisis Sampah Perkotaan, Mengapa Perempuan Jadi yang Paling Terdampak?
-
Dari Masjid Ke Masjid, Menyusuri Jejak Sejarah di Sudut Jakarta
-
Lewat Sanggar Belajar, UPNVJ Dampingi Anak Pekerja Migran Indonesia di Malaysia
-
Dugaan Penyadapan Ilegal Prabowo: Fakta, Pelaku, dan Misteri di Baliknya
Terkini
-
Ria Ricis Sebut Karhutla Wahana Kidzania: Etika Menguap Demi Konten?
-
Ulasan Dear Hyeri: Saat Kepribadian Ganda Jadi Pelarian dari Realita
-
Terkenal Tanpa Karya: Ketika Sensasi Lebih Laku daripada Prestasi
-
Jebakan Politik Belas Kasihan: Mengapa Orang Mudah Menangisi Pejabat?
-
Ketika Statistik Terlihat Indah, Benarkah Pengangguran Kita Berkurang?