Rasa tidak percaya diri pada bentuk tubuh sebenarnya bukan muncul begitu saja, melainkan dibentuk oleh standar sosial yang tidak adil sejak dulu.
Mulai dari masyarakat yang memuja warna kulit tertentu hingga tren kecantikan global saat ini, banyak anak muda merasa tertekan untuk mengikuti beauty standard yang kaku. Tekanan ini membuat orang sering merasa kurang, bahkan sebelum mereka sempat mengenali kelebihan diri sendiri.
Masalahnya, tidak semua bentuk fisik bisa diubah demi mengikuti keinginan pasar. Memaksakan tubuh untuk tunduk pada standar tertentu hanya akan berujung pada kelelahan batin.
Ironisnya, masyarakat sering memperlakukan penampilan fisik seolah-olah itu adalah syarat mutlak yang harus dibayar agar seseorang bisa dihargai. Lantas, mampukah kita melepaskan diri dari jerat standar kecantikan toksik dan mulai belajar menghargai diri apa adanya?
Mahalnya Biaya Menjadi Cantik
Banyak orang menganggap penampilan menarik adalah hasil dari usaha keras, seolah siapa pun bisa mencapainya kalau mau berusaha. Padahal, arena ini dari awal sudah tidak adil.
Di media sosial, orang biasa disamakan dengan selebritas atau figur publik yang memang menjadikan penampilan sebagai pekerjaan utama. Mereka punya uang, akses perawatan profesional, dan fasilitas lengkap yang biayanya sangat besar.
Ketika standar mereka dianggap sebagai standar normal untuk semua orang, masalah pun muncul. Ajakan untuk glow up sering kali mengabaikan kenyataan bahwa tidak semua orang punya uang dan energi untuk itu. Akibatnya, orang yang punya keterbatasan ekonomi malah merasa bersalah pada diri sendiri, seolah tidak bisa merawat diri adalah sebuah kesalahan besar.
Padahal, merawat tubuh demi kesehatan itu wajar, tapi memaksakan diri demi mengikuti standar pasar hanya akan menguras dompet.
Lagi pula, industri kecantikan memang sengaja memelihara rasa insecure kita supaya produk mereka terus dibeli. Kalau terus diikuti, kita cuma akan capek sendiri tanpa pernah menemukan garis finish.
Saran Toksik Berkedok Motivasi
Cara kita merespons kesusahan orang lain juga sering kali keliru. Bayangkan ada teman yang sedang sedih atau disakiti orang lain, lalu respons kita malah menyuruhnya untuk mempercantik diri atau lekas glow up. Nasihat yang niatnya memotivasi ini sebenarnya berbahaya, karena seolah-olah perlakuan buruk yang ia terima adalah salah fisiknya sendiri yang kurang menarik.
Cara pandang seperti ini membuat kita menormalisasi kebiasaan menyalahkan korban. Kita seolah percaya bahwa seseorang baru layak dihargai kalau kulitnya mulus atau bentuk tubuhnya ideal.
Padahal, empati tidak boleh bersyarat. Ketika rasa sakit seseorang dijawab dengan suruh mengubah fisik, kita sedang mengajarkan bahwa tubuh manusia sah-sah saja dihakimi setiap kali dunia bersikap tidak adil kepada mereka.
Sikap ini menciptakan lingkungan yang tidak sehat. Alih-alih mendengarkan curhatan dan memberi dukungan emosional, kita malah sibuk menilai apakah fisiknya sudah cukup "pantas" dibela. Sudah waktunya kita berhenti menjadikan fisik sebagai kambing hitam atas masalah sosial, dan belajar mendengarkan orang lain sebagai manusia seutuhnya.
Berhenti Menjadikan Fisik sebagai Ukuran Nilai Diri
Langkah paling penting untuk keluar dari masalah ini adalah berhenti menempatkan kecantikan di pusat kehidupan kita. Manusia terlahir dengan bentuk dan ciri fisik yang beragam, dan itu sama sekali tidak perlu diseragamkan. Tangan yang besar, bentuk wajah yang berbeda, atau warna kulit apa pun bukanlah sebuah kesalahan yang harus diperbaiki agar diterima orang lain.
Saat kita berhenti menjadikan paras sebagai tolok ukur utama, kita sedang membebaskan diri dari beban mental yang berat. Nilai seseorang tidak diukur dari seberapa enak ia dipandang mata, melainkan dari karya, pikiran, kebaikan, dan kontribusinya. Kita tidak punya utang apa pun pada dunia untuk tampil cantik atau tampan setiap saat.
Mencintai diri sendiri dimulai dari menerima bentuk tubuh apa adanya tanpa rasa bersalah. Ketenangan batin dan kesehatan mental jauh lebih penting daripada pujian atau pengakuan visual yang sifatnya sementara.
Baca Juga
-
Ulasan Do You Like Brahms?: Jatuh Bangun Mahasiswa Musik Mengejar Mimpi
-
Drama Penyadapan di Istana: Elite Sibuk Berperang, Rakyat Tetap Jadi Korban
-
Skandal Penyadapan Presiden: Kegagalan Sistemik atau Lemahnya Leadership?
-
Berijazah tapi Mati Rasa: Saat Kuliah Cuma Jadi Syarat Cari Kerja
-
Strategi Politik Kebisingan: Mengapa Isu Sengaja Dibiarkan Tumpang Tindih?
Artikel Terkait
Kolom
-
Ketika Feodalisme Berhadapan dengan Hak Rakyat, Jogja Istimewa untuk Siapa?
-
Pajak Digital RI: Garang Cekik Rakyat Kecil, Lembek ke Perusahaan Asing
-
Mengurai Benang Kusut Komersialisasi Paten: Kenapa Inovasi Kampus Gagal Jadi Cuan?
-
Daftar Diskusi Pra-Nikah: Obrolan Bare Minimum Sebelum Kamu Bilang 'I Do'
-
Target Pajak Makin Tinggi, Siapa yang Sebenarnya Menanggung Bebannya?
Terkini
-
Kulit Tetap Kencang, Ini 5 Sunscreen Lokal SPF 50 Anti-Aging
-
Sentilan Isu Sosial dan Arti Ketulusan Keluarga di Novel Kado Terbaik
-
Usai Zoro, Mackenyu Perankan Mash Burnedead di Film Live Action Mashle
-
4 Dual-Phase Micellar Water Murah Rp40 Ribuan, Pembersih Makeup Waterproof
-
Membelot dari Hongkong, Adik Mitchell Baker Segera Bela Timnas Indonesia?