Sebelum menuju pernikahan, sepasang kekasih harusnya lebih dulu memasuki pintu gerbang yang bernama lamaran, atau pertunangan atau khitbah. Di dalam pertunangan ada proses pengenalan yang lebih mulia daripada proses pengenalan dengan cara pacaran. Lamaran atau pertunangan ini dianjurkan oleh Islam jika memang keduanya sudah siap untuk menikah dan membangun kehidupan rumah tangga.
Jika memang yang diinginkan adalah cinta dengan penuh kerelaan dan ketulusan, tidak ada pilihan lain selain menikah, dan pintunya adalah pertunangan atau khitbah. Nah, berikut lima hal yang perlu disiapkan untuk menuju proses lamaran atau pertunangan.
1. Harus tahu makna pertunangan
Dengan mengetahui makna pertunangan, kita tidak akan terjerumus melakukan aktivitas yang dilarang sebelum halal menjadi suami-istri. Pertunangan adalah ajakan menikah dari seorang laki-laki kepada seorang wanita. Pertunangan adalah pintu gerbang ke arah pernikahan.
Islam menganjurkan adanya pertunangan sebagai proses sebelum mengikat diri dalam satu ikatan perkawinan, agar pihak yang akan menjalin ikatan dapat saling mengenal satu sama yang lain secara makruf.
2. Harus tahu betul-betul siap nikah atau belum
Berbicara tentang keinginan menikah, wajar jika orang yang sudah mengenal lawan jenis akan mempunyai keinginan menjalin hubungan lawan jenis tersebut. Sementara dalam menikah yang dibutuhkan bukanlah sekadar keinginan untuk menikah, apalagi keinginan menyatakan cinta, namun sebuah keinginan yang kuat untuk segera menikah. Artinya ia berkeinginan kuat untuk merealisasikan keinginan menikah itu dalam waktu dekat dan sesegara mungkin.
3. Persiapan ilmu dan mental
Hal yang tak kalah penting untuk disiapkan menuju pertunangan adalah ilmu dan mental. Kedudukan ilmu sangatlah penting, sebab dengan ilmu kita bisa mengetahui mana perbuatan yang harus dikerjakan dan mana perbuatan yang harus ditinggalkan. Sehingga dengan ilmu kita dapat mengetahui mana hak dan kewajiban kita sebagai suami atau istri.
Sedangkan persiapan mental diperlukan agar kita siap dengan risiko apapun yang akan terjadi sebelum dan sesudah menikah. Karena kehidupan pernikahan berbeda dengan kehidupan saat belum menikah.
4. Persiapan penghasilan
Bagi laki-laki calon suami hal ini penting, karena kaitannya dengan kewajiban menafkahi istri dan anak-anaknya kelak. Persiapan ini bisa dengan bekerja tetap atau berpenghasilan tetap.
Mengenai jumlah besar penghasilan itu relatif. Namun, tetap harus ada standar bawah. Standar bawah yang dimaksud adalah cukup untuk menghidupi kelayakan kebutuhan pokok, seperti makan, pakaian dan tempat.
5. Persiapan fisik
Hal yang kaitannya dengan fisik juga perlu disiapkan. Semisal seorang wanita calon ibu, harus menyiapkan fisik untuk mengandung dan mengasuh anak, sehingga asupan gizi harus dicukupkan.
Sementara bagi laki-laki persiapan fisik yang perlu dilakukan adalah asupan gizi yang cukup sehingga saat bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya nanti tetap kuat dan tahan banting.
Inilah lima hal yang perlu disiapkan untuk menuju lamaran atau pertunangan.
Baca Juga
-
4 Rekomendasi HP untuk Game Berat Paling Murah 2026: Anti Lag, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Spesifikasi iQOO Z11x Bocor di Geekbench, Upgrade Chipset ke MediaTek Dimensity 7400
-
5 HP Realme RAM 8 GB Termurah 2026: Performa Ngebut, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
4 Rekomendasi HP dengan Baterai Jumbo dan RAM Besar, Aman Dibawa Mudik Lebaran 2026
-
Tecno Camon 50 Series Hadir Hari Ini di Indonesia, Dibekali Sensor Sony LYTIA 700C
Artikel Terkait
Lifestyle
-
Uang THR Cair? Ini 5 Laptop Gaming RTX Harga 15-20 Jutaan!
-
Game Ngebut, Kamera Tajam! Ini 5 HP 4 Jutaan Terbaik
-
4 Serum Retinal Korea Rahasia Kulit Kencang, Tekstur Halus, dan Awet Muda
-
Deretan Anime Yang Tayang Bulan Maret 2026, Wajib Dinantikan!
-
Samsung Galaxy S26 Series Masuk Indonesia, Pre-Order Resmi Dibuka
Terkini
-
Bedah Buku Quiet Impact: Menguak Rahasia Orang Introver
-
Ketika Ganti Oli Jadi Sesi Curhat: Kenapa Sih Enggan ke Bengkel Resmi?
-
Puasa Perut Sudah, Kapan Puasa Belanja? Yuk, Kenalan sama Mindful Spending
-
Menjual Keranda di Malam Ganjil
-
Atas Nama Sahur, Sampai Kapan Kebisingan yang Kehilangan Adab Dimaklumi?