Keluarga adalah lingkungan pertama yang menjadi fondasi dari tumbuh kembang seorang anak. Melalui keluarga, seorang anak dapat mengenal dunia melalui nilai-nilai dan pengetahuan yang ditanamkan oleh kedua orangtua. Oleh karena itu, peran dari lingkungan keluarga sangatlah penting dalam membentuk karakter dan masa depan anak.
Seiring berkembangnya pengetahuan dan kesadaran orang tua akan hal tersebut, para orang tua pun berlomba-lomba untuk memperbaiki sistem dan pola dalam mendidik anak. Banyak yang pada akhirnya menemukan fakta bahwa pola asuh yang selama ini mereka terapkan pada anak ternyata kurang tepat dan justru memberikan dampak negatif bagi anak. Namun, tak sedikit pula yang justru tidak mampu melihat kekurangan dalam caranya mendidik.
Alih-alih tersadarkan, beberapa orang justru kukuh dengan pendiriannya dan tidak mau mengakui kesalahan. Hal ini sangatlah miris. Orangtua yang seharusnya menjadi figur yang baik bagi anak justru menjadi suatu momok yang dibenci anak.
Contoh sederhananya adalah dalam hal kedekatan dengan anak. Sebagai seorang anak sudah selayaknya mereka untuk bisa didengarkan dalam menyampaikan apa yang tengah mereka rasakan. Namun lagi-lagi tak sedikit orangtua yang justru mengabaikannya.
Hal ini pun akhirnya berdampak pada renggangnya hubungan antara anak dengan orangtua. Sehingga anak akan lebih memilih mencari pendengar di luar keluarga. Adapun beberapa hal yang menyebabkan anak menjadi tidak mau terbuka untuk bercerita kepada keluarga antara lain sebagai berikut:
1. Disalahkan
Anak mana yang tidak kecewa jika selepas bercerita tentang apa yang tengah dihadapinya justru malah disalahkan. Walau terkadang pada faktanya anak memang salah, tidak selayaknya orang tua menyalahkannya. Namun orangtua perlu memberikan nasehat dan menunjukkan letak kesalahan anak agar bisa segera diperbaiki.
2. Diremehkan
Tak sedikit orangtua yang gemar meremehkan cerita anak. Walaupun terdengar tidak terlalu penting, setidaknya hargailah anak dalam menyampaikan perasaannya.
3. Dibandingkan
Hal yang paling menyakitkan ketika bercerita adalah dibandingkan dengan orang lain. Hal ini akan semakin membuat anak merasa rendah diri dan tidak berharga. Jadi, stop membandingkan anak!
4. Diabaikan
Orangtua yang suka mengabaikan cerita anak biasanya akan asyik dengan apa yang sedang dilakukannya. Namun, jangan salahkan anak jika nantinya ia akan mencari kebahagiaan di luar rumah!
5. Dituntut
Anak yang justru dituntut untuk melakukan berbagai hal sesuai dengan titah orang tua tidak selamanya akan berbuah baik. Anak justru akan semakin malas mengutarakan apa yang dia rasakan dan memilih untuk memendam ceritanya.
Hargailah cerita anak, sesibuk apapun kamu, anak berhak mendapatkan perhatian dan didengarkan.
Baca Juga
-
Dear HRD, Ini 6 Cara Membangun Lingkungan Kerja yang Positif
-
Kamu Seorang Karyawan? Yuk Kenali 6 Jenis Izin Meninggalkan Pekerjaan ini!
-
Ketahui Waktu Istirahat dan Izin untuk Meninggalkan Pekerjaan Menurut UU Ketenagakerjaan dan Cipta Kerja
-
4 Tantangan yang Harus Dihadapi oleh HRD di Perusahaan, Kamu Harus Siap!
-
5 Tips untuk Mengatasi Overthinking di Kantor, Terapkan Mindfullness!
Artikel Terkait
Lifestyle
-
Samsung Galaxy M47 5G Coming Soon: Snapdragon Baru, Kamera OIS, dan Baterai Jumbo
-
Bosan Parfum Cepat Hilang? Ini 5 Rekomendasinya yang Tahan 24 Jam
-
Jangan Sampai Menyesal! Kenali 4 Tanda Jersey Palsu Sebelum Membeli
-
Redmi K90 Ultra Resmi Buka Pre-Order: HP Snapdragon 8 Elite dan Kipas Pendingin Aktif
-
5 Inspirasi Outfit Night Out ala Lee Jae Wook: Tampil Kece dan Berkarisma!
Terkini
-
Pelatihan Militer untuk Calon Manajer Koperasi Merah Putih, Apa Urgensinya?
-
Suka Kusuriya no Hitorigoto? Wajib Nonton Raven of the Inner Palace!
-
Anime ONE PIECE HEROINES Ungkap Lagu Tema oleh AiNA THE END, Tayang 5 Juli
-
Demo adalah Aksi Menyuarakan Ketidakpuasan, Bukan Pamer Dukungan
-
Piala Dunia 2026: Messi Makin Menggila, Mengapa CR7 Masih Belum Temukan Performa Terbaiknya?