Kekecewaan adalah hal yang menyakitkan di dunia ini. Semua orang pasti pernah mengalaminya. Mulai dari kekecewaan yang biasa saja sampai dengan kekecewaan yang luar biasa. Tapi sama saja, keduanya tetap menyakitkan, karena yang menyenangkan adalah terwujudnya harapan dan angan-angan. Dampak dari kekecewaan seseorang tak bisa disamakan dengan kekecewaan orang lain, karena pasti memiliki porsi yang berbeda dengan kekecewaan yang dialaminya, tak mungkin sama meskipun serupa. Saking dalamnya merasa kecewa, tak jarang orang langsung memiliki trauma yang luar biasa.
Mengerikan sekali dampak dari rasa kecewa ini, terkadang kita diberi harapan-harapan manis, namun berujung tragis. Diberi umpan, tapi malah diabaikan. Intinya mengerikan sekali jika kita berharap sesuatu namun kenyataannya berbalik dengan apa yang diharapkan. Lalu bagaimana caranya agar kita bisa terlepas dari rasa kecewa yang begitu dalam? Setidaknya mindset ini bisa membantu meminimalisir rasa kekecewaan yang dialami dalam berekspektasi, semoga saja.
Inilah 3 tips agar menjadi berkualitas dalam berekspektasi;
1. Ekspektasi dan Aksi
Boleh saja berekspektasi terhadap apapun jika konteksnya untuk memicu semangat agar bisa meraihnya suatu saat nanti, namun yang bahaya adalah ketika kita berani berekspektasi untuk hal yang tidak sama sekali tidak diberikan aksi. Berekspektasi tanpa melakukan aksi adalah hal yang sia-sia.
Setidaknya ketika berekspektasi kita harus menginvestasikan sedikit demi sedikit aksi agar suatu saat dapat terwujud. Berhasil atau tidaknya, kekecewaanmu akan terobati dengan aksi yang telah diberikan. Ingat! Proses adalah segalanya, hasil adalah bonus. Yang jelas, kualitas dirimu dilihat dari seberapa jauh prosesmu.
2. Rasionalitas Intensitas
Berpikir rasional dalam berekspektasi sangat-sangat diperlukan, berkaitan dengan poin yang pertama. Sebelum jauh untuk berekspektasi kita harus mempersiapkan diri terlebih dahulu. Being well prepared adalah tahap pertama yang harus diyakini. Persiapan diri adalah senjata untuk berekspektasi.
Selain sebagai senjata, kamu juga setidaknya akan percaya diri dengan kemampuan diri untuk menjemput ekspektasi. Intensitas aksi pun perlu diselaraskan dengan rasional untuk meraih ekspektasi agar terhindar dari kekecewaan yang begitu dalam.
3. Evaluasi Diri
Point sebelumnya menjelaskan tentang usaha dan sesuatu yang bisa kita kendalikan, tapi ketika berbicara mengenai hasil, itu adalah sesuatu yang berada di luar kendali kita. Ada sebagian orang yang berhasil mendapatkan ekspektasinya secara instan, ada juga yang gagal padahal proses dan aksinya sungguh luar biasa.
Apakah itu sebuah kegagalan? Jika dilihat dari hasilnya, itu adalah kegagalan. Namun, ketika dilihat hakikatnya; seseorang berkembang berdasarkan proses yang ia jalani, bukan berdasarkan hasil yang ia peroleh. Kekecewaan akan nampak ketika kita merasa dunia tidak adil, begitu memudahkan mereka yang tak seberapa prosesnya. Haruskah kecewa? Wajar saja, asal jangan sampai kita tidak berproses lagi setelahnya. Life Must Go On, tercapainya ekspektasi bukanlah wujud dari kebahagiaan.
Jadi, berekspektasi sesuai dengan rasional, berikan juga aksi untuknya. Agar kecewamu berkualitas, mengevaluasi prosesmu selama mengejar ekspektasi, bukan kecewa karena menyalahkan orang lain yang telah membodohi kita. Hidup adalah pertaruhan, karena tak akan ada kabar instan dari masa depan.
Baca Juga
-
Pentingnya Berfilsafat di Tengah Kondisi Demokrasi yang Carut-Marut
-
Film A Moment to Remember: Menggugah Hati dan Syarat akan Antropologis
-
Menguak Misteri: Kecerdasan Tidak Didasarkan pada Kehebatan Matematika
-
Antara Kecerdasan Emosional dan Etika dalam Bermain Media Sosial
-
Ini yang Akan Terjadi jika Kuliah atau Pendidikan Tinggi Tidak Wajib!
Artikel Terkait
Lifestyle
-
Perjuangan Kang Edai di Kemiren, Merajut Asa Bersama Desa Sejahtera Astra
-
Vivo X500 Pro Max Siap Bikin Fotografi Ponsel Makin Gila, Bawa Kamera 200MP
-
Jangan Habiskan Long Weekend di Rumah Saja, 8 Film Indonesia Ini Siap Temani Liburanmu!
-
4 Micellar Water Formula Low pH, Angkat Kotoran Kulit Kering Tanpa Ketarik
-
Bukan Hanya di Lapangan, Ini Cara Komunitas Digital Rayakan 17-an
Terkini
-
Arsip Angin dan Janji yang Tertunda
-
Bukan Sekadar Nyanyi dan Tepuk Tangan: Sisi Lain Perjuangan Menjadi Guru TK
-
Gaji Istri Lebih Besar, Apakah Adil Kendali Finansial Tetap di Suami?
-
Desa Les Buleleng Bali Menanam Masa Depan Lewat Konservasi Terumbu Karang
-
Membangun Desa dari Manusianya: Kisah Bli Nyoman dan Desa Sejahtera Astra Les