Kodratnya orangtua ingin membahagiakan anak-anaknya. Hanya saja, pembuktian rasa sayang ini sering kali kebablasan. Dengan alasan sayang, banyak orangtua yang sampai terlalu memanjakan anak. Padahal, justru perilaku demikian memiliki efek buruk bagi perkembangan anak itu sendiri.
Berikut akan dikemukakan beberapa alasan kenapa sebaiknya jangan terlalu memanjakan anak. Ada banyak dampak buruk yang bisa terjadi. Mari kita simak dampak buruk terlalu memanjakan anak.
1. Anak jadi tidak mandiri
Hal fatal pertama yang bisa terjadi akibat terlalu memanjakan anak, yakni anak akan selalu bergantung pada orang lain. Ia sulit tumbuh menjadi pribadi mandiri disebabkan selama ini orangtuanya selalu memenuhi apa yang diinginkan tanpa ada batasan sama sekali.
Tentu saja ini akan menyulitkannya ketika sudah beranjak dewasa. Di sekolah, ia akan selalu mengandalkan bantuan orang sekitarnya untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Saat sudah berkecimpung di dunia kerja, ia akan selalu merepotkan rekan kerjanya karena telah terbiasa untuk selalu dilayani sejak kecil.
2. Anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak bertanggung jawab
Salah satu karakter dari pribadi berkualitas adalah kemampuan bertanggung jawab. Orang yang bertanggung jawab umumnya akan selalu berusaha yang terbaik dalam menjalankan apa pun perannya.
Hal ini sulit terjadi apabila anak dari kecil sudah terlalu dimanjakan. Misalnya, anak sering mengabaikan atau merusak mainannya dan tidak ditegur sama sekali. Setelah ia besar, ia gak akan sulit bertanggung jawab terhadap barang miliknya disebabkan sejak dulu perilaku kelirunya itu dibiarkan saja dengan alasan “anak kecil memang seperti itu”.
3. Playing victim
Hal buruk selanjutnya yang bisa terjadi akibat terlalu memanjakan anak, yaitu anak jadi terlatih melakukan playing victim. Setiap kali berbuat salah bukannya mengaku dan meminta maaf, malah menyalahkan orang lain.
Hal ini disebabkan ketika kecil dulu kalau salah bukan ditegur. Malah didiamkan atau menjadikan lingkungan sekitarnya kambing hitam.
4. Dikucilkan dari pergaulan
Hal menyedihkan yang dapat terjadi pada anak bila terlalu dimanjakan oleh orangtua, yaitu dia jadi kesepian. Kondisi tersebut disebabkan teman-temannya malah bergaul dengannya akibat perilaku buruknya tersebut.
Misalnya, sering menyakiti teman atau merusak mainan temannya. Bukannya mengakui salah, tapi malah menyalahkan balik teman yang semestinya jadi korban.
Itulah dampak buruk terlalu memanjakan anak. Berusaha menyenangkan anak sangatlah wajar. Yang menjadi keliru apabila hal tersebut sudah sampai berlebihan sehingga terlalu memanjakan anak. Efeknya akan merugikan si anak sendiri nantinya, lho!
Tag
Baca Juga
-
Netflix Hadirkan Dokumenter Baru: Sisi Rentan Elvis Presley Terungkap!
-
Dokumenter 'Madaniya': Cara Mohamed Subahi Suarakan Revolusi tanpa Senjata
-
Blossom in Darkness: Drama China Romantis Horor yang Dibintangi Li Hongyi dan Sun Zhenni
-
Kabar Gembira! Aktor Song Joong-ki Umumkan Kelahiran Putri Keduanya di Roma
-
16 Tahun Vakum, Oasis Umumkan Konser Perdana di Korea
Artikel Terkait
-
Curhatan Hati Gala Sky Rayakan Lebaran, Ingin Vanessa Angel Hidup Lagi
-
Perjalanan Karier Dita Karang: Idol Kpop Asal Indonesia Umumkan Hengkang dari SECRET NUMBER
-
Surya Sahetapy Nangis saat Dikabari Ray Sahetapy Meninggal, Langsung Pesan Tiket dari AS Jam 5 Pagi
-
7 Potret Kenangan Ray Sahetapy Bersama Anak Cucu, Ayah dan Kakek Terbaik!
-
Ray Sahetapy Sempat Rindukan Putri Sulungnya yang Telah Tiada Sebelum Meninggal
Lifestyle
-
Elegan dan Manis! 4 Inspirasi Outfit Feminin ala Minnie (G)I-DLE
-
4 OOTD Minimalis ala Wooyoung ATEEZ yang Tetap Modis untuk Disontek!
-
Jadi Ibu Bijak, Ini 5 Tips Kelola Uang THR Anak
-
4 Skincare dengan Cactus Extract, Rahasia Hidrasi Kulit Tanpa Lengket!
-
4 Padu Padan Outfit Girly ala Wonyoung IVE, Cocok untuk Gaya Sehari-hari
Terkini
-
Review Novel 'Kerumunan Terakhir': Viral di Medsos, Sepi di Dunia Nyata
-
Bertema Olahraga, 9 Karakter Pemain Drama Korea Pump Up the Healthy Love
-
Fenomena Pengangguran pada Sarjana: Antara Ekspektasi dan Realita Dunia Kerja
-
Menelaah Film Forrest Gump': Menyentuh atau Cuma Manipulatif?
-
Krisis Warisan Rasa di Tengah Globalisasi: Mampukah Kuliner Lokal Bertahan?