Hayuning Ratri Hapsari | Sherly Azizah
Ilustrasi buka puasa (Pexels/Sami Abdullah)
Sherly Azizah

Melansir laporan dari Deloitte Global 2024 Gen Z and Millennial Survey, tekanan finansial menjadi pemicu stres utama bagi generasi muda, yang kemudian melahirkan tren "Loud Budgeting"—sebuah konsep keuangan di mana seseorang secara vokal dan jujur menyatakan bahwa mereka tidak memiliki anggaran untuk pengeluaran tertentu demi memprioritaskan tujuan keuangan yang lebih besar.

Sebagai mahasiswa yang juga nyambi sebagai asisten dosen, saya sering kali berada di persimpangan jalan saat notifikasi grup WhatsApp mulai "meledak" dengan ajakan buka puasa bersama (bukber).

Ada perasaan tidak enak saat harus menolak, namun ada juga rasa sesak melihat saldo rekening jika harus mengikuti semua agenda di resto estetis yang harganya setara dengan biaya hidup saya selama tiga hari. Ramadan tahun ini, saya memutuskan untuk "keluar dari lemari" finansial dan mempraktikkan Loud Budgeting sebagai bentuk bijak berkonsumsi versi saya sendiri.

Menerapkan Loud Budgeting bukan berarti saya menjadi sosok yang antisosial atau pelit, melainkan sebuah kejujuran radikal terhadap kapasitas diri. Alih-alih memberikan alasan klasik seperti "ada acara keluarga" atau "sedang tidak enak badan" hanya untuk menghindari bukber mahal, saya mulai berani berkata: "Maaf ya, budget bukberku bulan ini sudah habis karena lagi dialokasikan buat bayar seminar atau tabungan mudik."

Ternyata, saat kita menyuarakan batasan finansial dengan percaya diri, beban mental yang selama ini menghantui justru menguap. Bijak berkonsumsi bagi saya adalah berhenti "mengonsumsi" rasa gengsi dan mulai mengonsumsi realitas. Saya menyadari bahwa teman sejati tidak akan menilai kualitas pertemanan dari seberapa mahal menu yang kita pesan, melainkan dari kehadiran dan ketulusan obrolan kita.

Keresahan yang sering saya amati di kalangan teman-teman sebaya adalah fenomena FOMO (Fear of Missing Out) yang dibalut dengan kedok silaturahmi. Kita sering kali merasa harus datang ke setiap ajakan hanya agar tetap dianggap "eksis" di lingkaran pertemanan.

Padahal, sering kali bukber tersebut hanya berakhir dengan sibuk memotret makanan demi konten Instagram, sementara kantong megap-megap setelahnya. Dengan Loud Budgeting, saya sedang melakukan kurasi terhadap lingkaran sosial saya. Saya hanya memilih agenda bukber yang benar-benar bermakna dengan teman-teman yang menghargai prinsip keuangan saya. Inilah gaya hidup bijak yang sesungguhnya: kita memiliki otoritas penuh atas setiap rupiah yang kita keluarkan (intentional spending) tanpa harus merasa terintimidasi oleh gaya hidup orang lain.

Selain menyelamatkan saldo tabungan, Loud Budgeting juga memberikan kebebasan emosional yang luar biasa. Saya tidak perlu lagi merasa cemas saat melihat tagihan yang datang atau merasa bersalah setelah checkout makanan mahal yang sebenarnya tidak saya butuhkan. Energi saya kini lebih banyak tercurah untuk hal-hal yang esensial, seperti fokus menyelesaikan tugas asisten dosen atau memperbanyak ibadah di malam-malam terakhir Ramadan.

Menolak konsumsi berlebihan di bulan suci ini adalah bentuk kemenangan saya melawan nafsu materialisme. Ternyata, keberhasilan manajemen keuangan seorang anak muda tidak dilihat dari seberapa sering ia terlihat di kafe viral, tapi seberapa tenang ia menyambut Idulfitri tanpa bayang-bayang utang paylater.

Kemenangan Idulfitri adalah tentang kejujuran dan keberanian untuk kembali ke fitrah kesederhanaan. Bijak berkonsumsi dengan prinsip Loud Budgeting adalah langkah paling keren yang bisa kita ambil sebagai Gen Z untuk masa depan yang lebih stabil.

Saya merasa jauh lebih berdaya ketika bisa menentukan skala prioritas saya sendiri di tengah arus konsumerisme yang agresif. Bagaimana dengan kalian? Masih sering "terjebak" bukber mahal demi menjaga image, atau sudah siap untuk menyuarakan anggaran kalian dengan kepala tegak seperti saya?

Yuk, kita dukung gerakan jujur soal budget agar Ramadan kita tetap berkah dan dompet kita tetap aman sampai hari kemenangan!