Dalam kehidupan sehari-hari, entah anak sekolah yang selalu bertemu teman-temannya atau mungkin seorang pekerja yang selalu bertemu rekan kerja dan menjumpai banyak orang. Dari sekian banyak orang yang kita jumpai, pasti banyak sifat, perilaku yang amat bermacam-macam.
Mungkin, sebagian orang pernah berjumpa dan berkenalan dengan seseorang yang ternyata mempunyai sifat yang tidak ingin mengalah, bisa dikatakan seperti orang yang menjadi si paling benar.
Jika kamu memang menemui orang yang merasa dirinya jadi si paling benar, ini ada beberapa cara menghadapi orang semacam itu.
1. Jangan Terbawa Suasana
Terkadang, melihat orang yang bersikeras merasa dirinya tidak pernah salah, membuat kita yang mendengarnya ingin sesekali membalas ucapan-ucapannya. Namun, biasanya orang tersebut tidak akan bisa mengalah, karena yang dia rasa, dialah yang paling benar.
Terdengar memang menjengkelkan, tapi kita sebagai yang lebih waras harus bisa tenang dan biarkan saja apa yang si paling benar ucapkan. Jangan terbawa suasana yang sebenarnya bisa saja terjadi perdebatan jika kita saling keras kepala dan merasa paling benar. Sebaiknya memang harus sabar menghadapi orang semacam itu.
2. Kurangi Komunikasi Dengannya
Kalau punya teman yang hobinya merasa jadi si paling benar, sepertinya tidak masalah jika kamu tidak ingin terlalu dekat dengannya. Percuma saja jika berbicara dengan orang yang merasa dirinya paling benar. Jadi, boleh-boleh saja kalau kamu tidak perlu terlalu mendengarnya berbicara.
Biarkan saja si paling benar berbicara, kamu sendiri juga pasti tahu kalau yang dibicarakan olehnya sebenarnya tidak semua benar. Namun, karena namanya juga orang yang tidak ingin kalah, pasti mau kamu mengucapkan apa saja dengannya, ya dialah yang merasa paling benar. Memilih jaga jarak dengan si paling benar, itu bisa jadi salah satu cara untuk menyikapinya.
3. Beritahu Sudut Pandang yang Berbeda Darinya
Mungkin ini salah satu pilihan yang sedikit berbeda. Jika kamu sedang berbicara dengan si paling benar, cobalah sebelumnya kamu diharapkan untuk tidak emosi. Misalkan saja, si paling benar ini terus membicarakan satu hal, dia merasa dari sudut pandangnya sendiri itu selalu benar dan dia yakin bahwa dirinya tidak pernah salah. Padahal, menurut kamu, dia tidak sepenuhnya benar. Dari sinilah kamu boleh membalas perkataannya dari sudut pandang yang berbeda, tapi harus jaga emosimu.
Ingat ya, jangan sampai terjadi pertengkaran hanya karena kamu ingin berbicara dengan si paling benar ini. Cobalah, untuk kamu memberitahukan sudut pandang yang berbeda dari dirinya. Mungkin jika sudut pandang dia, dia merasa benar, coba kalau kamu memberitahu dari sudut pandang yang lain, bisa saja ada orang lain yang lebih benar darinya. Walau nanti respons dia tidak akan menerima begitu saja tentang sudut pandang yang berbeda dari dirinya.
Memang sulit berbicara dengan orang yang semacam ini, bagi kita hal yang benar itu tidak selamanya berpihak pada kita, ada kalanya kita memang salah dan harusnya kita menerima kesalahan itu. Jangan jadi orang si paling benar.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Jangan Sampai Menyesal, 5 Kesalahan Umum saat Beli Properti
-
Waspada Cedera, Ini Tips Naik Eskalator Masjidil Haram untuk Jemaah Haji
-
6 Tips Merawat Kaktus di Rumah, Perhatikan Penyiraman dan Kebutuhan Cahaya
-
5 Tips Ini Bantu Kamu Mengatasi Rasa Malas, Kaum Mageran Harus Tahu!
-
Tips Membeli Buku untuk Dompet yang Mulai Mengering
Lifestyle
-
4 Ide Outfit Simpel ala Ranty Maria, Nyaman dan Tetap Modis
-
4 Sepatu Trail Running untuk Medan Licin dan Berbatu, Stabil dan Anti-Slip!
-
Kacang Rebus Terakhir di Pasar Malam
-
4 Serum Actosome Retinol Atasi Tekstur Kulit dan Garis Halus Tanpa Iritasi
-
4 Rice Cooker Digital Multifungsi dengan Fitur Lengkap untuk Sehari-hari
Terkini
-
Hadapi Sengketa Pajak Rp230 Miliar, Cha Eun Woo Gandeng Firma Hukum Kondang
-
Transformasi AI dalam Ekonomi Kreatif Indonesia: Peluang Emas atau Ancaman?
-
Debut Unit Baru, Jeno dan Jaemin NCT Siap Merilis Mini Album 'Both Sides'
-
Arya Saloka Resmi Gabung Film Dilan ITB 1997, Perannya Jadi Sorotan Publik
-
Gie dan Surat-Surat yang Tersembunyi: Belajar Integritas dari Sang Legenda