Semakin menarik suatu konten di mata masyarakat, maka konten tersebut juga akan memunculkan lebih banyak tanggapan. Namun, sayangnya, tidak semua peristiwa yang dimuat konten di media sosial, merupakan peristiwa asli yang berupa fakta. Tidak sedikit di antaranya yang ternyata adalah konten rekayasa.
Peredaran konten rekayasa atau lebih dikenal dengan konten settingan di media sosial kini sudah tidak bisa lagi dibendung. Berbagai cara dilakukan oleh para pembuat konten untuk memperlihatkan bahwa suatu peristiwa yang terjadi dan dibuat konten merupakan hal yang benar-benar terjadi. Tentunya, peredaran konten rekayasa ini menimbulkan berbagai dampak buruk di masyarakat, beberapa di antaranya ialah:
1. Menimbulkan krisis kepercayaan
Terlalu banyaknya konten rekayasa dapat menimbulkan krisis kepercayaan di kalangan masyarakat. Akibatnya, konten yang sungguh-sungguh menampilkan kebenaran pun banyak yang jadi turut dianggap rekayasa, karena masyarakat sudah ragu apakah konten yang beredar di media sosial benar-benar mencerminkan fakta atau tidak. Hal ini membuat orang-orang tak lagi percaya kepada sesamanya.
2. Merusak citra diri
Konten rekayasa dapat merusak citra diri pembuatnya, terlebih jika konten yang dibuat menjadi viral. Ia akan dianggap sebagai orang yang dapat menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, termasuk demi menjadi terkenal dan mendapatkan banyak tanggapan. Ia tak peduli sekalipun tanggapan yang diterimanya merupakan komentar-komentar buruk, selama ia bisa populer. Citra diri yang sudah buruk di hadapan masyarakat ini dapat mengganggu kehidupan dirinya sendiri di masa mendatang.
3. Memperdaya orang lain
Di antara sekian banyak orang yang mampu memilah dan membedakan konten yang berisi fakta dan konten yang hanya berupa rekayasa, masih ada beberapa orang yang meyakini suatu konten sebagai kebenaran, meski kenyataannya hal itu hanyalah sandiwara belaka. Dengan membuat konten rekayasa, sang pelaku telah memperdaya orang lain dan tak ubahnya sebagai seorang penipu.
Demikian tiga dampak buruk maraknya konten rekayasa di media sosial. Jika kita merupakan seorang pembuat konten, tentunya bukan hanya orisinalitas konten kita yang harus dijaga, melainkan kita juga harus memastikan bahwa konten yang kita buat benar-benar merupakan fakta dan bukan konten settingan belaka.
Baca Juga
-
Wajib Tahu! Ini 3 Alasan Pentingnya Riset bagi Penulis
-
Selamat! Go Ayano dan Yui Sakuma Umumkan Pernikahan Mereka
-
Selamat! Keita Machida Resmi Menikah dengan Aktris Korea-Jepang Hyunri
-
4 Manfaat Membuat Kerangka Karangan dalam Kegiatan Menulis
-
NiziU Nyanyikan Lagu Tema Film Animasi 'Doraemon: Nobita's Sky Utopia'
Artikel Terkait
-
Kebijakan One Way Nasional akan Diterapkan di Puncak Arus Balik Besok
-
Antisipasi Macet Parah! Korlantas Polri Tambah Personel di Titik Rawan Arus Balik Lebaran 2025
-
Tekan Angka Kecelakaan Saat Arus Balik, DPR Minta Rekayasa Lalu Lintas Harus Dioptimalisasi
-
Pakar Sebut Penurunan Jumlah Pemudik pada Lebaran 2025 Disebabkan Efisiensi Anggaran
-
Antisipasi Kemacetan Arus Balik Lebaran, Korlantas Polri Tambah Pasukan
Lifestyle
-
4 Moisturizer dengan Cooling Effect, Segarkan Wajah di Cuaca Panas!
-
Gaya Street Style ala Moon Sua Billlie, Ini 4 Ide OOTD yang Bisa Kamu Coba!
-
4 OOTD Minimalis ala Yerin GFRIEND, Cocok untuk Gaya Harian yang Effortless
-
Penalaran Kata 'Mundhut': Sama-sama Predikat Kalimat, tapi Dilarang Ambigu!
-
Mudah Ditiru! 4 Gaya Hangout ala Bona WJSN yang Wajib Dicoba
Terkini
-
Timnas Indonesia Disokong Mentalitas 'Anti Banting', Siap Jaya di Piala Asia U-17?
-
Menang 0-1 Atas Korea Selatan, Jadi Modal Penting Bagi Timnas Indonesia U-17
-
Bangkit dari Kematian, 4 Karakter Anime Ini Jadi Sosok yang Tak Tertandingi
-
Review Pulse: Series Medis Netflix yang Tegang, Seksi, dan Penuh Letupan
-
Tuhan Selalu Ada Bersama Kita dalam Buku "You Are Not Alone"