Kenakalan remaja bukan fenomena baru dan sudah banyak terjadi sejak dulu. Bukannya tanpa sebab, kenakalan anak di usia remaja sendiri sebenarnya bisa dipicu dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Peran orang tua sebagai teladan dan pembimbing dalam keluarga seharusnya mampu mencegah perilaku negatif anak.
Sayangnya, terkadang ada sikap orang tua yang justru jadi penyebab lahirnya kenakalan anak-anaknya, terlebih yang sedang memasuki usia remaja.
Diakui atau tidak, empat sikap orang tua berikut ini kerap memicu kenakalan anak di usia remaja, mulai dari kurang memberi perhatian sampai sikap memanjakan.
1. Kurang memberi perhatian pada anak
Kasih sayang dan perhatian orang tua selalu menjadi kebutuhan utama seorang anak. Sayangnya, kesibukan kerap membuat orang tua jadi abai dalam memberi perhatian pada anak-anaknya.
BACA JUGA: Waspada! 3 Faktor yang Dapat Menyebabkan Timbulnya Kenakalan Remaja
Bahkan saat anak tidak meminta secara langsung, kebutuhan akan perhatian tetap wajib diberikan. Jika tidak, anak akan mencari perhatian di luar rumah yang seringkali justru berujung pada perilaku negatif.
Mulai dari perkelahian, narkoba, sampai penurunan prestasi belajar kerap jadi bentuk protes anak atas pengabaian orang tuanya. Hal ini seharusnya jadi peringatan bagi orang tua untuk mengubah sikap dan lebih peduli pada anak.
2. Tidak menjalin kedekatan emosional dengan anak
Anak di usia remaja yang dinilai nakal dan bandel hingga dilabeli berandalan sebenarnya hanya butuh teman. Mereka mencari tempat yang mau mendengar dan memperhatikan tapi lewat cara yang salah.
Anak-anak yang melakukan kenakalan biasanya tidak merasa memiliki teman di rumahnya sendiri. Mereka tidak memiliki kedekatan emosional bersama orang tua dan keluarga hingga kesulitan berbagi rasa.
Mereka kurang mendapat bimbingan saat dihadapkan pada situasi yang menekan mental. Dampakya, anak-anak ini mulai melampiaskan emosinya dengan cara yang salah dan berujung pada kenakalan.
3. Mengganti perhatian dengan materi
Kesibukan orang tua dengan pekerjaan seringkali banyak menyita waktu dan terkesan mengabaikan keluarga. Dampak terbesar tentu saja dirasakan oleh anak karena kehilangan perhatian dan sosok nyaman di keluarga.
Meski tidak semua orang tua yang berkerja jadi lalai dengan perannya, tapi tidak sedikit juga yang mengganti perhatian dengan materi. Para orang tua ini jadi cenderung memanjakan anak dengan harta sebagai 'penebus dosa' karena waktunya habis untuk bekerja.
BACA JUGA: 5 Tantangan Besar yang Sering Dihadapi Remaja, Sudah Tahu?
Sayangnya, sikap ini justru jadi cikal bakal kenakalan anak di masa depan. Perilaku memanjakan bukan cara memberi kasih sayang yang tepat. Anak hanya akan terdoktrin dengan budaya materialistis dan berpotensi kehilangan empati pada sesama.
4. Menerapkan pola asuh otoriter
Setiap orang tua biasanya memiliki pola asuh masing-masing. Namun, hampir sebagian besar justru lebih menerapkan sikap otoriter dan ingin anak-anaknya selalu patuh. Meski nilai disiplin jadi poin positif, tapi potensi pembangkangan pun cukup tinggi.
Terlebih saat memasuki usia remaja, jiwa pemberontak anak sedang tinggi-tingginya. Sikap otoriter orang tua dianggap sebagai kekang dan anak merasa harus melawan karena ingin menunjukkan jati diri. Semakin dikekang, anak cenderung semakin memberontak dan bisa berujung pada kenakalan.
Kenakalan remaja tidak sepenuhnya kesalahan mereka sendiri. Ada andil sikap orang tua yang membentuk atau bahkan memicu kenakalan tersebut. Keluarga adalah awal, jadi tanamkan pendidikan pertama yang tepat demi mencegah potensi perilaku negatif anak di masa depan.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Hidup Jadi Terasa Seperti Konten: Personal Branding atau Personal Pressure?
-
Dari Racun OOTD ke Checkout, Apakah Ini Cara Medsos Dorong Budaya Belanja?
-
Career Break bagi Perempuan: Jeda Karier atau Tanda Kehilangan Arah?
-
Akhiri Penantian 28 Tahun: Momen Epic Comeback Timnas Bulu Tangkis Hancurkan China 3-2
-
Asian Games 2026: 28 Tahun Menanti, Bulu Tangkis Indonesia Raih Emas Beregu
Artikel Terkait
-
Kronologi Anak Pejabat Pajak yang Aniaya Pria Remaja Hingga Koma
-
Sepasang Remaja Dimabuk Asmara Diarak Warga ke Mako Pol PP Padang
-
Materi Khutbah Jumat Tentang: Sikap Menghadapi Musibah, Jangan Sampai Masalah Menyulitkanmu
-
Imbas Insiden David, Akun Instagram Sri Mulyani Diserbu Warganet yang Ramai-Ramai Boikot Bayar Pajak
-
Pergoki Anak Nonton Film Dewasa, Yuni Shara Beri Reaksi Begini: 'Seks Education Aku Pelajarin'
Lifestyle
-
Hempas Kusam! 5 Toner Pad Korea Vitamin C untuk Kulit Lembut dan Cerah
-
Honor MagicOS 11 Meluncur: Desain Liquid Glass, AI YOYO, dan Hemat Penyimpanan hingga 60 GB
-
5 Brightening Moisturizer di Bawah 50 Ribu, Wajah Kusam Jadi Lebih Glowing!
-
Konten Couple Carousel Bikin Gemas! Penolong untuk yang Takut Jatuh Cinta
-
Bosan Makan Nasi? Intip 3 Cara Pengolahan Sorgum sebagai Alternatif Karbo
Terkini
-
Mengupas Sisi Lain Dewi Ayu di 'Cantik Itu Luka': Pelacur yang Menolak Tunduk pada Takdir
-
Bahaya Terselubung Investasi Rp30,4 Triliun Microsoft: Jangan Sampai Bumi Kita yang Haus!
-
Mau Bagaimanapun, Mindfulness Tidak Bisa Memperbaiki Dunia yang Membuat Kita Cemas
-
Marah Itu Wajar, I Hate Everything! Mengajarkannya dengan Cara Lucu
-
Coba Tanya AI Sebelum ke Dokter: Solusi Praktis atau Bumerang Buat Keselamatan Pasien?