Sudah mendengar berita tentang dua remaja yang terlibat kasus penganiayaan? Kasus tersebut kini sedang ramai diperbincangkan di mana-mana.
Di sini Dandy diketahui sebagai pelaku sedangkan David sebagai korban. Dandy menganiaya David setelah mendapat aduan dari sang kekasih yang bernama A, A mengaku menerima perlakuan tidak baik dari David, yang merupakan mantan kekasih A.
Seseorang memiliki pasangan ingin menjadikan pasangannya tempat berbagi, baik saat kondisi senang maupun susah. Tapi bagaimana jika pasangan kita punya emosi yang tak stabil seperti Dandy? Niat ingin memecahkan masalah, malah justru menambah masalah itu sendiri.
BACA JUGA: 4 Cara Meredam Emosi kepada Pasangan Agar tidak Memperkeruh Keadaan
Berikut ini adalah beberapa ciri pasangan yang punya emosi tidak stabil.
1. Mudah Terpengaruh
Orang yang emosinya tidak stabil cenderung mudah percaya atau terpengaruh oleh omongan orang lain. Tidak menutup kemungkinan bahwa orang seperti ini akan langsung naik pitam dan melakukan tindakan berbahaya. Padahal, apa yang dia dengar belum tentu benar.
2. Sering Mengulang Kesalahan
Kita semua tahu bahwa mengulang kesalahan yang sama itu bukan suatu hal yang baik, itu tandanya orang tersebut tidak pernah mau belajar dari kesalahan dan berubah menjadi lebih baik.
Kalau pasanganmu juga seperti ini, itu tandanya dia punya emosi yang tidak stabil. Emosi yang naik-turun tersebut akan membuatnya sering mengulang kesalahan.
3. Plin-plan
Orang yang emosinya teratur dan stabil, akan memiliki pendirian yang teguh dan tetap. Tidak seperti mereka yang emosinya labil, orang seperti ini sulit memiliki pendirian, cenderung berubah-ubah alias plin-plan.
BACA JUGA: Tahan Emosi! Ini 4 Akibatnya Jika Sering Marah-marah ke Pasangan
4. Moody
Tak hanya sulit memiliki pendirian, orang seperti ini suasana hatinya juga mudah berubah-ubah. Terkadang dia merasa senang seperti tidak punya masalah, tapi tiba-tiba bisa berubah jadi marah, sedih, atau kesal.
Penyebab perubahan suasana hati itu pun juga tidak jelas, satu hal kecil yang sepele saja bisa tiba-tiba merusak moodnya.
5. Mudah Tersinggung
Kalau pasanganmu punya ciri-ciri di atas, lebih baik kamu berhati-hati dalam berbicara. Sebab orang yang emosinya tidak stabil akan mudah tersinggung dan marah.
Itulah 5 ciri pasangan yang emosinya tidak stabil. Bayangkan jika kamu punya pasangan seperti itu, makan hati banget ya?
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
9 Seri tanpa Kemenangan, Marc Marquez Terkena Kutukan Usai Juara Dunia?
-
Skincare Mahal tapi Kemasannya Bening? Hati-Hati Kandungannya Rusak Sebelum Dipakai
-
Alex Rins Makin Bingung dengan Motornya, Yamaha Sudah Rekrut Ai Ogura?
-
Kenali Period After Opening: Skincare Harus Habis Sebelum Kedaluwarsa?
-
Geser Status Calon Juara ke Marco Bezzecchi, Marc Marquez Atur Strategi?
Artikel Terkait
-
Mario Dandy Satriyo Dikeluarkan dari Kampus, Beredar IPK Nilai Fantastis Diduga Milik Pelaku Penganiaya David Latumahina Ini
-
Pergaulan Dicap Buruk, Agnes Gracia Disebut-Sebut Sering Hubungan Ranjang dengan David
-
Gara-gara Mario Dandy, Sri Mulyani Minta Klub Moge DJP Dibubarkan
-
Teman Mario Dandy Shane Lukas Jadi Tersangka Baru Penganiayaan David, Ternyata Penerima Beasiswa Kurang Mampu
-
Kiky Saputri Tanggapi Kasus Mario Dandy: Tolong Yang Terlibat Disitu di Penjara, Termasuk Ceweknya
Lifestyle
-
Street Style Goals, Intip 4 Ide Daily Outfit ala Han So Hee yang Edgy Abis!
-
5 Pilihan Essence Cica: Rahasia Wajah Tenang dan Glass Skin yang Effortless
-
Redmi Pad 2 4G, Tablet Rp2 Jutaan Paling Worth It? Kualitas Layar 2,5K 90Hz
-
Lawan Minyak Berlebih, Ini 4 Face Wash Charcoal Terbaik untuk Pria
-
Samsung Galaxy A37 5G: Andalkan Nightography, AI Pintar, dan Baterai Awet
Terkini
-
Ingin Otak Lebih Fokus? Sains Temukan Fakta Mengejutkan dari Kebiasaan Membaca Huruf Hijaiyah
-
Ada Merlion Hingga Alat Santet, Ini Sensasi Menyusuri Lorong Waktu di Art Center Purworejo
-
ENHYPEN Umumkan Tur Dunia BLOOD SAGA, Siap Guncang Amerika Sampai Eropa!
-
Belajar Melambat dan Bernapas di Tengah Riuh Bundaran Satam Tanjung Pandan
-
Dilema WFH Sehari: Bukti Kita Masih Dinilai dari Absen Kehadiran, Bukan Hasil Kerja