Perkembangan mode yang sangat cepat, mendorong peningkatan produksi pakaian di dunia ini. Masalahnya, fesyen yang dikonsumsi tanpa henti kemudian menjadi perkara baru bagi lingkungan. Sampah tekstil menambah daftar panjang bagi polusi air dan tanah.
Melansir dari website foresdigest.com, fesyen menjadi industri paling mencemari kedua setelah energi. Industri yang satu ini menyumbang 10 persen emisi karbon dunia, loh! Kebayang enggak, sih, semakin sering kamu berbelanja akan membuat perusahaan enggan mempertimbangkan produksi fesyen secara etis, dikarenakan kebutuhan untuk memproduksi secara masif?
BACA JUGA: 7 Cara Mudah untuk Menjalani Pola Hidup Sehat di Tengah Kesibukan Bekerja
Namun, sebenarnya sebagai konsumen, kita bisa, loh, lebih bijak mengendalikannya. Salah satu caranya dengan menerapkan slow fashion. Untuk tahu lebih lanjut, yuk simak dulu informasi selengkapnya!
Prinsip Slow Fashion
Menurut Kementerian Perindustrian (Kemenperin), industri tekstil dan pakaian jadi merupakan sektor manufaktur yang mencatatkan pertumbuhan paling tinggi pada triwulan III tahun 2019 sebesar 15,08 persen. Capaian tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi 5,02 persen di periode yang sama.
Akan tetapi, sayangnya, cepatnya masa produksi ini berbanding terbalik dengan kualitas yang ditawarkan. Produk fesyen dalam bisnis global saat ini memang terjangkau, namun mudah rusak dalam beberapa tahun dan beberapa kali pakai saja.
Slow fashion atau fesyen lambat, sejatinya menawarkan prinsip awal mode itu sendiri. Sebab di masa lampau, pakaian menjadi cara komunitas mengekspresikan budaya dan berhubungan dengan waktu dan tempat karena diproduksi secara lokal dan terbatas.
BACA JUGA: 4 Manfaat Berbelanja di Thrift Shop, Surganya Barang Bekas Berkualitas
Melansir dari zerowaste.id, prinsip fesyen lambat mempertimbangkan dengan cermat sumber daya alam yang digunakan saat proses produksi, agar terjalin keberlanjutan. Sehingga terdapat pendekatan yang berfokus ke kelestarian alam dan kesejahteraan orang yang terlibat dalam produksi pakaian.
Penerapan Slow Fashion
Meski terkesan sulit diterapkan saat gempuran pilihan fesyen yang beragam dan cepat. Nyatanya slow fashion masih bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, loh!
1. Memakai yang ada di lemari terlebih dahulu untuk di mix and match.
2. Jika harus membeli, pastikan kamu mengutamakan kualitas dibanding kuantitas dan merawatnya dengan baik.
3. Mencari opsi secondhand atau thrifting, baik secara online atau ke toko pakaian langsung.
4. Menjahit baju sesuai dengan referensimu.
BACA JUGA: 5 Inspirasi Gaya Rambut Wanita Ini Keren dan Kekinian, Berani Coba?
5. Memilih model yang timeless, hingga dapat kamu jadikan capsule wardrobe.
6. Mengutamakan membeli produk lokal yang memperhatikan kesejahteraan pekerjanya.
7. Melakukan upcycling atau downcycling agar masa pakai lebih lama sebelum benar-benar menjadi limbah.
Bagaimana, setelah mengetahuinya, kamu mau enggak mempertimbangkan untuk menerapkan prinsip slow fashion ini?
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Yuk Kenali Prospek Karier Menjadi SEO Content Writer, Kamu Tertarik?
-
Lelah dengan Media Sosial, Perhatikan 4 Hal Berikut!
-
Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Ini 3 Rekomendasi Film Dokumenter Lingkungan
-
Jangan Biarkan 4 Perilaku Toxic Ini Meracuni Dirimu!
-
Hari Buku Nasional: 3 Buku Fiksi Ini Penuh Makna!
Artikel Terkait
-
4 Manfaat Berbelanja di Thrift Shop, Surganya Barang Bekas Berkualitas
-
Wacana Kemenkop UKM Larang Thrifting yang Disambut Suka Sekaligus Duka Publik
-
5 Ide Jualan Murah Pasti Laku di Bulan Ramadhan 2023
-
Keuntungan Memakai Pakaian Thrift dan Tips Memilih Kualitas Terbaik
-
5 Tips Penting Dalam Memilih Pakaian Thrift yang Berkualitas, Apa Saja?
Lifestyle
-
Penantang Baru MacBook? Redmi Book 14 2026 Resmi Meluncur dengan Spesifikasi Gahar!
-
PC Tanpa Ribet Kabel? Acer Aspire C24 AIO Tawarkan Desain Tipis dan Ringkas
-
5 Pilihan HP Samsung dengan Bypass Charging, Anti Overheat Saat Nge-Game
-
5 Tas Gym Pria Paling Praktis untuk Bawa Perlengkapan Olahraga
-
3 Rekomendasi HP POCO Rp1 Jutaan 2026: Performa Ngebut, Harga Bersahabat
Terkini
-
Menelusuri Lorong Gelap Larung: Dari Hasrat hingga Sejarah yang Berdarah
-
Di Balik Thanksgiving Berdarah: Misteri Kelam Keluarga Sam Holland
-
Drakor The Scarecrow Pecahkan Rekor ENA, Kepala Produksi Ungkap Alasannya
-
Episode 5 dan 6 The Scarecrow Bikin Penonton Ikut Mikir Keras
-
Brass Monkeys: Kenapa yang Jelas Lebih Baik Justru Tidak Dipilih?