Dalam dunia kerja, kita mungkin pernah mendengar istilah toxic productivity yang disebut-sebut rentan dialami para pekerja. Meski melekat pada kata productivity alias produktivitas, tapi ternyata ada sisi negatif yang tanpa disadari turut mendatangkan dampak yang kurang menyehatkan dalam kebiasaan kerja seseorang.
Lalu, apa itu toxic productivity? Yuk, kenali arti istilahnya dan ciri perilaku yang khas terlihat saat berada dalam kondisi ini.
BACA JUGA: Cegah Noda Membandel, Begini 5 Cara Merawat Pakaian Putih agar Tetap Bersih
Arti toxic productivity
Toxic productivity diartikan sebagai keinginan yang tidak sehat untuk terus produktif setiap saat dengan cara apa pun. Biasanya, orang yang mengalami kondisi ini terus terdorong oleh keinginan untuk bekerja ekstra, baik di kantor maupun di rumah. Meski sekilas mirip dengan workaholic dan hustle culture, tapi ada perbedaan mendasar dari ketiga kondisi tersebut.
Menukil laman klikdokter.com, Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog menjelaskan jika ketiga istilah tersebut sebenarnya memiliki perbedaan.
โOrang yang terjebak di situasi toxic productivity punya pikiran yang keliru bahwa ia harus terus mengembangkan diri. Jika tidak produktif, ia akan merasa bersalah,โ jelas Ikhsan.
โSedangkan orang yang workaholic, mereka hanya suka bekerja melebihi batas waktu yang ditetapkan sehingga aspek lain di dalam hidupnya terbengkalai,โ sambungnya.
Lebih lanjut Ikhsan menjelaskan tentang hustle culture sebagai budaya kerja yang diyakini seseorang bahwa aspek terpenting dalam hidup adalah bekerja keras.
Kemiripan yang ada memang pada akhirnya menghubungkan ketiga hal tersebut dalam kondisi yang sama. Namun, seseorang yang terjebak toxic productivity cenderung merasa tidak berguna saat jeda waktu dimana dirinya tidak melakukan apa pun.
Ciri toxic productivity
Setelah mengenali istilah toxic productivity dan perbedaan dengan kondisi yang diangap serupa tapi tidak sepenuhnya sama, tidak ada salahnya jika kita mencari tahu ciri-ciri kondisi tersebut. Pasalnya, beberapa orang masih kerap salah mendefinisikan aktivitas yang tampak produktif tapi ternyata memiliki dampak negatif.
Kenali demi langkah antisipasai, berikut beberapa ciri perilaku yang khas dari toxic productivity.
Bekerja lembur secara teratur
Orang yang terjebak toxic productivity cenderung bekerja lembur secara teratur, bahkan saat akhir pekan dan jam istirahat. Jam kerja ekstra dipilih seolah merupakan kebutuhan hingga overtime jadi kebiasaan.
Merasa bersalah karena tidak menyelesaikan cukup banyak pekerjaan
Toxic productivity pada diri seseorang juga terlihat dari usahanya menyelesaikan pekerjaan dalam jumlah yang luar biasa. Mereka memiliki harapan yang tidak realistis untuk diri sendiri dan merasa bersalah saat meninggalkan pekerjaan meski hanya untuk beristirahat.
BACA JUGA: 9 Tips Self Grooming agar Tubuh Selalu Bersih dan Wangi
Hanya ingin melakukan aktivitas dengan tujuan jelas
Saat toxic productivity semakin parah, aktivitas lain di luar pekerjaan seringkali terasa seperti buang-buang waktu. Momen bersantai bersama teman dan keluarga dianggap sebagai kegiatan tanpa tujuan yang jelas dan tidak produktif.
Sering merasa lelah
Saat memaksakan diri untuk bekerja terlalu lama, kelelahan adalah kondisi yang akan dialami. Dalam beberapa kasus, kelelahan yang dialami juga disertai penurunan semangat dan masalah kesehatan.
Mengalami kecemasan atau depresi kronis saat tidak bekerja
Saat tidak bekerja, termasuk hari libur, mereka cenderung merasa cemas tentang semua tugas yang harus dilakukan. Bahkan ada kekhawatiran jika pekerjaan yang sudah dilakukan tidak terselesaikan dengan baik. Ujungnya, muncul depresi kronis akibat beban kerja dan perasaan terputus dari dunia luar.
Dengan mengenali arti dan ciri perilaku yang khas dari toxic productivity di atas, kita akan mampu mengatasi atau bahkan mengantisipasi kondisi tersebut dengan lebih baik. Jangan sampai toxic productivity justru menjadi kebiasaan yang pada akhirnya malah merusak diri sendiri.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Evolusi Konten GRWM: Dari Sekadar Tutorial Makeup Menjadi Ruang Curhat Paling Relatabel
-
Teror Spoiler di Era Streaming: Ketika Menonton Bukan Lagi Soal Menikmati Cerita
-
Lucky Girl Syndrome: Motivasi Positif atau Harapan yang Terlalu Tinggi?
-
Perempuan dan Tren Aktif Olahraga: Gaya Hidup Sehat atau Tekanan Body Goals?
-
Dilema Keuangan Anak Muda: Melek Finansial, tapi Masih Andalkan Paylater
Artikel Terkait
-
6 Ciri Seseorang yang Tidak Tertarik untuk Berkencan, Kamu Termasuk?
-
Wanita Hebat di Sampingmu? 5 Tanda Kamu sedang Pacaran dengan Wanita Cerdas
-
Profil Gubernur NTT, Sebut Ciri Khas Orang Miskin Makan Nasi Porsi Banyak
-
Profil Pelajar Pancasila serta Ciri-cirinya Secara Gamblang
-
Inilah 5 Tanda Orang Toxic yang Harus Kamu Dihindari, Banyak Drama!
Lifestyle
-
4 Micellar Water Probiotic Jaga Keseimbangan Skin Barrier pada Kulit Kering
-
6 Rekomendasi Parfum Aroma Susu yang Creamy dan Bikin Ketagihan
-
Bukan Sekadar Proker, Ini 8 Soft Skill Berharga yang Diam-Diam Terasah Saat KKN
-
Cari HP Rp5 Jutaan? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Gaming dan Kamera
-
Prosesi Wisuda Lama? Ini 9 Barang Kecil tapi Bermanfaat yang Wajib Dibawa
Terkini
-
Review Dikichi Kediri: Sensasi Crispy Hot Chicken yang Renyahnya Bikin Nagih!
-
Kemelekatan Adalah Derita
-
Mengupas Chand Mera Dil: Akting Menawan Ananya Panday di Tengah Alur yang Bertele-tele
-
Kisah Ibu Hamil Naik KRL Jam Sibuk: Antara "Misuh-misuh" dan Keajaiban Pin Prioritas
-
Bertabur Bintang Beken, 5 Drakor Adaptasi Webtoon Ini Malah Anjlok di TV Korea