Di era sekarang, istilah healing sudah sangat dekat dengan kehidupan Gen Z. Setelah lelah bekerja, menghadapi tekanan sosial, atau sekadar penat dengan rutinitas, banyak dari kita memilih mencari mood booster. Salah satunya belanja.
Mulai dari checkout skincare, membeli outfit baru, nongkrong di kafe estetik, sampai membeli barang lucu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, semuanya sering dianggap bagian dari self-reward dan healing.
Sebenarnya hal ini cukup wajar. Semua orang memang butuh ruang untuk menikmati hidup dan menghargai diri sendiri setelah menghadapi banyak tekanan sehari-hari.
Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang mulai terasa relevan: ketika kebiasaan belanja dilakukan terus-menerus demi healing, apakah tanpa sadar lingkungan ikut jadi korban?
Media Sosial dan Budaya “Healing Lewat Checkout”
Menurut saya, media sosial punya pengaruh besar terhadap cara Gen Z, terutama perempuan, memandang healing. Timeline dipenuhi konten self-reward, haul belanja, skincare routine, sampai video “aku beli ini karena capek kerja”.
Tanpa sadar, belanja jadi terlihat seperti solusi cepat untuk memperbaiki suasana hati. Sedikit stres, langsung checkout. Burnout langsung cari keranjang kuning. Semua terasa normal karena terus dilihat setiap hari.
Masalahnya, budaya ini membuat konsumsi terasa semakin impulsif. Banyak perempuan membeli sesuatu bukan benar-benar butuh, tapi karena ingin merasa lebih baik secara emosional.
Padahal rasa senang setelah belanja biasanya hanya bertahan sementara. Dan ironisnya, kebiasaan kecil yang terus diulang ini juga menghasilkan dampak besar terhadap lingkungan: sampah paket belanja.
Dari Paket Online sampai Sampah yang Menumpuk
Belanja online memang memberi kemudahan dan kesenangan instan. Tinggal klik, bayar, lalu paket datang ke rumah. Namun di balik semua itu, ada banyak limbah yang sering terabaikan.
Setiap paket biasanya datang dengan plastik, bubble wrap, lakban, dan berbagai kemasan sekali pakai lainnya. Semakin sering checkout barang impulsif, semakin banyak pula sampah yang dihasilkan.
Kadang perempuan sudah membawa tumbler atau memakai tote bag, tapi tetap rutin menerima banyak paket online. Belum lagi tren fast fashion yang cepat berganti demi mengikuti gaya hidup estetik di media sosial.
Menurut saya, ini menjadi salah satu dilema terbesar perempuan Gen Z zaman sekarang. Di satu sisi ingin menjaga kesehatan mental lewat self-reward, tapi di sisi lain gaya hidup konsumtif juga ikut memperparah masalah lingkungan.
Self-Reward atau Pelarian Emosi?
Saya rasa penting juga untuk melihat bahwa kebiasaan belanja demi healing sering kali bukan hanya soal gaya hidup. Ada pengaruh kondisi emosional mengingat banyak perempuan Gen Z hidup di tengah tekanan sosial yang cukup besar.
Harus produktif, tampil menarik, mengikuti tren, dan terlihat baik-baik saja di media sosial. Akibatnya, belanja sering menjadi cara paling mudah untuk mencari rasa senang sementara.
Masalahnya, ketika self-reward berubah menjadi pelarian emosional yang terus dilakukan, kebiasaan konsumtif menjadi sulit dikontrol. Padahal barang yang dibeli hanya memberi kepuasan sesaat dan akhirnya tidak dipakai.
Belajar Healing dengan Lebih Sadar
Pada akhirnya, perempuan Gen Z memang hidup di tengah dua hal yang sering bertabrakan: kebutuhan untuk menjaga kesehatan mental dan budaya konsumsi digital yang sangat kuat.
Belanja memang bisa memberi rasa senang sesaat, tapi kalau dilakukan terus-menerus tanpa sadar malah berdampak pada kondisi finansial dan lingkungan. Karena itu, generasi sekarang mungkin perlu belajar memahami lebih dulu kalau healing tidak harus selalu datang dari aktivitas checkout.
Kadang istirahat yang cukup, waktu tenang, atau melakukan hal sederhana yang benar-benar disukai sudah bisa menjadi bentuk self-care yang jauh lebih sehat dan bertahan lama.
Dan mungkin, salah satu langkah kecil menjaga lingkungan di era digital adalah belajar membedakan mana kebutuhan diri sendiri dan mana keinginan sesaat yang lahir dari tekanan konsumtif media sosial.
Baca Juga
-
Jebakan Konsumerisme Digital: Di Balik Perilaku Cemas dan Lapar Mata Gen Z
-
Sisi Gelap Solo Traveling yang Gak Ada di Algoritma Instagram, Perempuan Wajib Tahu!
-
Bias Dunia Kerja Modern: Menyoroti Gengsi CV Bahasa Inggris di Mata Gen Z
-
Bukan Anti-Bahasa Baku, Gen Z Hanya Belum Temukan Cara Belajar yang Relevan
-
Melawan Tekanan Jam Sosial: Hak Perempuan Menentukan Pernikahan dan Masa Depan
Artikel Terkait
-
Gen Z Tak Lagi Mengejar Jabatan Tinggi: Kurang Ambisi atau Lebih Realistis?
-
Checkout vs Krisis Sampah: Mengapa Sulit Lepas dari Gaya Hidup Konsumtif?
-
Tak Cukup Melek Digital, Gen Z Harus Kuasai AI untuk Investasi Saham
-
YLKI Minta Kepala BGN Baru Siapkan Trauma Healing bagi Korban Keracunan MBG
-
Makin Mudah, Ini Keuntungan Belanja Fashion Premium Secara Online
Kolom
-
Masalah Struktural Tidak Bisa Diselesaikan dengan Nasihat Individual
-
Di Balik Pahitnya Matcha, Ada Ancaman Gula Berlebih yang Bikin Tubuh Menjerit!
-
Wacana Blokir Medsos Anak: Solusi Aman atau Bikin Anak Makin Penasaran?
-
Saya Kira Saya Malas, Ternyata Otak Saya Disetel Ulang untuk Gagal Fokus
-
Sering Dianggap Remeh, Segini Mahalnya Biaya Menjadi Perempuan Setiap Bulan
Terkini
-
Manga Komedi-Romantis Hiragi-san's House of Vampires Dapat Adaptasi Anime
-
Love's Ambition: Akting Sedih Zhao Lu Si yang Patahkan Genre Romansa CEO
-
Nice to Eat You: Belajar Bahasa Lewat Kisah yang Unik
-
Sinopsis Kokkai, Drama Jepang Dibintangi Takahashi Fumiya dan Tanaka Min
-
Gaji Stagnan Harga Barang Naik, Masihkah Orek Tempe Worth It Jadi Penyelamat?