Matematika sejak dulu sering dianggap sebagai pelajaran yang sulit dan rumit. Namun di era digital seperti sekarang, ada fenomena menarik di mana banyak anak muda zaman now ternyata kesulitan menjawab soal-soal matematika dasar.
Mereka seolah nggak memahami urutan operasi hitung. Alih-alih menggunakan aturan perkalian dan pembagian lebih dulu, baru penjumlahan dan pengurangan, sebagian generasi muda justru mengerjakan soal secara asal sesuai urutan dari kiri ke kanan.
Akibatnya, hasil hitungan jadi salah. Bahkan saat dikatakan salah, mereka masih belum paham penyelesaian soal yang tepat dan masih bertahan dengan jawaban sebelumnya yang dianggap benar.
Fenomena ini sering jadi eksperimen sosial para konten kreator, salah satunya Dino Wakjess yang sempat mengunggah konten semacam ini di akun Instagram @dinowakjess. Saat melontarkan pertanyaan 3-3x3, ternyata masih saja ada yang salah menjawab.
Alih-alih menyelesaikan operasi hitungan perkalian lebih dulu, jawaban yang diberikan justru dimulai secara urut dari kiri ke kanan hingga membuahkan hasil 0 yang didapat dari (3-3)x3. Padahal jawaban seharusnya 3-(3x3) yang menghasilkan nilai -6.
Aturan Operasi Hitung
Kesalahan yang dilakukan dalam menjawab soal matematika dasar tersebut terjadi karena gagal memahami aturan operasi hitung. Seharusnya, perkalian dan pembagian didahulukan untuk diselesaikan, sebelum penjumlahan atau pengurangan.
Lain cerita kalau keseluruhan soal merupakan perkalian dan pembagian atau penjumlahan dan pengurangan, kita bisa langsung mengerjakan urut karena operasi hitung ini setara.
Saat muncul operasi hitung setara, maka hasil penghitungan soal matematika nggak harus dipikirkan mana yang harus didahulukan. Kita hanya perlu menghitung dari kiri ke kanan.
Kenapa Bisa Terjadi?
Ada beberapa alasan kenapa anak muda zaman now kesulitan memahami konsep dasar aturan operasi hitung ini, antara lain sebagai berikut.
1. Kurang penekanan di sekolah dasar
Beberapa siswa mungkin hanya menghafal rumus, tanpa benar-benar memahami konsep prioritas operasi hitung. Padahal kaidah ini lazim diajarkan pada kurikulum sekolah dasar era 90an. Beberapa daerah bahkan menyederhanakan dengan sebutan kaidah "Pipolondo".
Kaidah ini berasal dari kata “ping” (perkalian), “poro” (pembagian), “lan” (penjumlahan), dan “sudo” (pengurangan). Sesuai urutannya, perkalian dan pembagian didahulukan, baru penjumlahan dan pengurangan.
2. Ketergantungan pada alat hitung
Diakui atau tidak, generasi sekarang yang hidup di era digital serba cepat lebih sering memakai bantuan alat hitung untuk menyelesaikan soal matematika, seperti kalkulator atau aplikasi di HP. Alhasil, mereka jarang melatih logika dasar berhitung manual dan jadi tergantung pada alat.
3. Konten viral yang menyesatkan
Banyak video di media sosial yang menampilkan soal “jebakan” dengan jawaban yang salah, lalu disebarkan tanpa penjelasan. Keberadaan video semacam ini membuat bikin orang bingung dan ikut-ikutan salah.
Dampak dari Kesalahan Konsep Dasar
Meski terlihat sepele, tapi salah paham urutan operasi hitung saat mendapati soal matematika dasar bisa berdampak besar, berikut beberapa di antaranya.
- Salah hitung dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat menghitung total belanja, diskon, atau bagi hasil.
- Kesulitan mengerjakan soal lanjutan seperti aljabar, persamaan linear, hingga akuntansi dasar.
- Kurang percaya diri dengan matematika dan makin enggan belajar.
- Fenomena viral negatif di medsos, karena kesalahan ini sering dijadikan bahan lelucon atau perdebatan tanpa solusi.
Konten edukasi di media sosial
Alih-alih hanya ikut-ikutan tren soal viral, sebaiknya konten kreator juga memberikan penjelasan singkat tentang hasil jawaban yang benar dan cara menghitungnya. Nggak cuma sebar konten demi trafik, konten kreator juga bertanggung jawab pada edukasi.
Di sisi lain, netizen juga nggak boleh hanya berburu jawaban di kolom komentar. Ada baiknya buat belajar kembali aturan operasi hitung agar bisa menjawab soal serupa, termasuk aplikasinya di kehidupan sehari-hari.
Baca Juga
-
Lebaran Era Baru: Hentikan Pertanyaan Basa-basi Perusak Makna Silaturahmi
-
Tradisi THR Lebaran saat Ekonomi Sulit: Antara Berbagi dan Tuntutan Sosial
-
Lebaran dan Tradisi: Antara Rindu, Ritual, dan Makna yang Selalu Kembali
-
Budaya Hampers Jelang Lebaran: Antara Silaturahmi, Gengsi, dan Tekanan Sosial
-
Stop Jadi Teman yang Paling Nyebelin: Kenali 5 Attitude Komunikasi yang Merusak Hubungan
Artikel Terkait
-
Wangi Sultan Gak Pake Mahal: 4 Parfum Lokal yang Lagi Hype di FYP TikTok
-
Di Balik Video Viral: Kisah Pilu Kakak Adik di Parung, Ibu ODGJ, Ayah Hilang
-
Usai Tagih Rp200 Juta ke Ivan Gunawan, Ibu Viral asal Palembang Minta Mobil ke Raffi Ahmad
-
Ivan Gunawan Beri Peringatan Keras Usai Ditagih Utang Rp200 Juta: Kami Bukan Dinas Sosial
-
Buntut Aksi Pemukulan Siswa ke Guru, Dikeluarkan Sekolah dan Ayah yang Polisi Terancam Sanksi
Lifestyle
-
Vivo V70 Resmi Hadir: Upgrade Kecil yang Terasa Lebih Flagship
-
4 Cleansing Foam Baking Soda yang Ampuh Angkat Kotoran hingga ke Dalam Pori
-
Bebas Makan Enak, 5 Tips Tetap Stabilkan Berat Badan saat Hari Raya
-
Review Motorola Razr 60: HP Lipat Murah dengan Konsep Unik
-
5 Minuman Alami Penurun Kolesterol usai Santap Lemak Lebaran
Terkini
-
Ulasan Film Na Willa: Nostalgia Hangat yang Bikin Rindu Masa Kecil
-
Seiyu Awards 2026 Umumkan Pemenang, VA Denji Chainsaw Man Bawa Pulang Piala
-
Film Dream Animals: The Movie, Hewan Lucu Selamatkan Dunia Camilan
-
WFH demi Hemat BBM: Solusi Visioner atau Sekadar Geser Beban ke Rakyat?
-
Review S Line: Garis Merah yang Menguak Rahasia Terdalam Manusia