Coba jujur, seberapa sering Anda membuka TikTok atau Instagram, lalu langsung mengalami mental breakdown kecil?
Belakangan ini, FYP kita makin mirip katalog wajib tonton yang isinya hanya "parade anak ajaib". Ada yang sudah menabung belasan juta di usia 24, ada yang memamerkan bisnis sampingan (side hustle) dengan omzet yang membuat melongo, atau memamerkan keterampilan keren yang konon katanya "wajib dimiliki Gen Z".
Video-video itu memang estetik, penuh ambisi, dan terlihat sangat mudah dilakukan. Namun, efek sampingnya lumayan parah: jika Anda tidak seproduktif mereka, Anda langsung dicap "kurang usaha".
Budaya "Ngoyo" yang Membuat Kita Kelelahan
Kolom komentar media sosial sekarang rasanya seperti ruang terapi massal. Isinya keluhan, seperti, "Kok hidupku beda banget, ya?", "Aku umur segini masih blank", atau "Merasa useless banget, deh."
Ini bukan lagi soal konten motivasi, tetapi konten yang secara tidak sadar menegakkan sistem kasta baru: kasta yang sukses karena rajin membuat konten (produktif) dan kasta yang merasa stuck (tertinggal). Jujur saja, kita tidak bisa menyalahkan TikTok sepenuhnya. Platform itu hanya kendaraan. Yang menjalankan dan mengarahkan adalah budaya "ngoyo" kita sendiri.
Sejak dulu, budaya kita memang gemar menyuruh anak muda untuk berlari terus, tanpa memikirkan apakah mereka sudah siap atau belum. Istirahat dianggap dosa dan kegagalan adalah aib yang harus disembunyikan rapat-rapat. Media sosial hanya memperkuat pola pikir lama ini: nilai manusia diukur dari apa yang ia hasilkan.
Bedanya sekarang, ukurannya diperiksa secara real-time oleh algoritma. Siapa yang paling produktif akan mendapatkan panggung besar. Siapa yang sedang berjuang dalam diam, ya, dicampakkan ke sudut sunyi linimasa.
Algoritma Hanya Memamerkan Highlight, Bukan Realitas
Masalah utamanya adalah algoritma tidak pernah menampilkan sisi manusia yang sebenarnya. Yang muncul di FYP hanyalah puncak gunung es dari sebuah keberhasilan. Kita hanya melihat highlight hasil akhirnya.
Video-video itu tidak pernah menampilkan kebingungan, rasa takut gagal, atau tekanan ekonomi yang sebenarnya sedang dihadapi banyak orang. Yang mereka tunjukkan adalah solusi individual, seolah-olah semua masalah hidup bisa selesai hanya dengan "rajin ngide" atau "bangun pagi". Padahal, kita semua tahu bahwa hidup ini tidak seimbang sejak awal.
Sering kali kita disuruh fokus pada pencapaian individu, tetapi kita lupa bahwa kesuksesan yang dipamerkan itu sering kali didukung oleh privilese (privilege) yang tidak dimiliki semua orang. Mari kita jujur:
Tidak semua orang punya modal atau pinjaman dari keluarga untuk memulai bisnis.
Tidak semua orang punya waktu luang di tengah padatnya jam kerja untuk "meningkatkan skill" atau mengikuti kursus mahal.
Tidak semua orang punya dukungan mental dan finansial dari keluarga yang siap menopang saat kita gagal.
Slogan usang seperti "kalau mau, pasti bisa" menjadi terasa palsu karena mengabaikan faktor ekonomi, sosial, dan ketimpangan yang tidak pernah muncul di video 15 detik. Akhirnya, kita dipaksa memikul beban berat yang seharusnya menjadi tanggung jawab sistem. Wajar jika kita merasa lelah. Kita hanya hidup di zaman yang menuntut kita untuk membuktikan diri tanpa henti.
Menolak Standar Ngaco dari Layar Gawai
Lalu, bagaimana caranya kita bisa lepas dari jeratan perbandingan ini? Langkah pertama, dan ini yang paling penting, adalah membongkar mitos bahwa hidup harus selalu terlihat produktif. Tidak apa-apa jika hidup kita tidak seestetik atau seambisius konten di FYP. Tidak apa-apa jika kita butuh istirahat.
Kita harus berani menerima bahwa proses hidup setiap orang itu berbeda dan tidak bisa dibandingkan satu sama lain. Kita perlu menggeser fokus dari penampilan publik, yang selalu menuntut kesempurnaan, ke proses pribadi kita sendiri.
Yang paling penting, sadari satu hal: algoritma tidak punya hak untuk menentukan siapa yang sukses dan siapa yang gagal.
Banjir konten pencapaian ini bukan hanya soal anak muda yang pamer. Ini adalah cerminan masyarakat kita yang terlalu cinta pada prestasi, tetapi pelit dalam memberikan pemahaman dan ruang untuk berproses. Di tengah dunia yang makin menekan, perlawanan terbaik yang bisa kita lakukan adalah dengan santai melangkah sesuai ritme diri sendiri, tanpa perlu repot mengikuti standar kesuksesan yang "ngaco" versi FYP. Ingat, hidup kita itu bukan konten. Anda bukan mesin produksi pencapaian.
Baca Juga
-
Medsos dan Seni Menjadi Domba di Tengah Perang Algoritma
-
Mengembalikan Akal Sehat di Meja Keputusan Pelayanan Publik
-
Politisi Baperan: Dikit-dikit Somasi, Lama-lama Lupa Cara Diskusi
-
Mengapa Kampus Lebih Sibuk Kejar Akreditasi daripada Jaga Nyawa Mahasiswa?
-
Gen Z, Kopi, dan Mundurnya Alkohol dari Panggung Pergaulan
Artikel Terkait
-
Sering Curigaan Terus Alias Trust Issues? Inilah 4 Alasan Kenapa Kamu Sulit Memercayai Orang Lain
-
Lebih dari Sekadar Kenakalan Remaja: Membedah Akar Psikologis Kekerasan Anak
-
Bukan Sekadar Tren Viral: Memahami Kekuatan Pop Culture di Era Digital
-
Rahasia di Balik Adegan Dewasa Serial Pernikahan Dini Gen Z
-
8 Manfaat Bangun Pagi untuk Kesehatan Mental, Produktivitas, dan Fokus Harian
Kolom
-
Maaf-maafan Cuma Formalitas, Banding-bandingin Itu Prioritas: Sisi Gelap Crab Mentality
-
Lebaran di Perantauan: Saat Sinyal Video Call Tak Sanggup Membayar Rindu
-
Lebaran Era Baru: Hentikan Pertanyaan Basa-basi Perusak Makna Silaturahmi
-
Lebaran Ala Mahasiswa: Antara Silaturahmi sama Saudara dan Salaman sama Tugas
-
Tradisi THR Lebaran saat Ekonomi Sulit: Antara Berbagi dan Tuntutan Sosial
Terkini
-
Dari Bandar Narkoba hingga Kekerasan Seksual, Isu Berat di My Name (2021)
-
Catat! T.O.P Umumkan Tanggal Comeback untuk Album Penuh ANOTHER DIMENSION
-
Drama The 8 Show: Saat Waktu Jadi Uang dan Nyawa Jadi Taruhan
-
Ketika Ayah Jadi Trauma Terbesar Anak Perempuan, Ironi di Buku Sea Me Later
-
Danu Sang Nazir: Mata Merah Pertama