Banyak orang pernah mengalami situasi ketika mereka merasa sedih atau terluka, tetapi lingkungan sekitar justru menganggapnya berlebihan. “Udah ah, jangan lebay,” “Harusnya kamu kuat,” atau “Masa begitu saja sedih?” adalah kalimat-kalimat yang kerap membuat seseorang ragu pada emosinya sendiri.
Akibatnya, mereka belajar menyembunyikan air mata, menekan perasaan, dan berpura-pura baik-baik saja demi terlihat kuat. Namun, di balik sikap itu, ada duka yang terabaikan.
Fenomena ini dikenal sebagai disenfranchised grief atau duka yang tidak diakui. Hal ini merupakan kondisi ketika kesedihan seseorang dianggap tidak sah secara sosial. Bukan karena dukanya tidak nyata, tetapi karena lingkungan tidak memberikan ruang bagi emosi tersebut untuk muncul.
Duka bisa berasal dari banyak hal, mulai dari putus hubungan, kehilangan impian, perubahan hidup, hingga pengalaman kecil yang berdampak pada batin. Ketika perasaan ini tidak mendapat izin untuk diekspresikan, proses pemulihan menjadi tertunda dan beban emosional semakin menumpuk.
Mengenal Konsep Duka yang Tidak Diakui
Disenfranchised grief adalah bentuk kesedihan yang tidak mendapat legitimasi dari lingkungan sosial. Misalnya, seseorang berduka karena kehilangan hewan peliharaan, mengakhiri hubungan singkat, atau gagal mencapai tujuan. Meski bagi orang lain tampak sepele, bagi yang mengalami, hal ini adalah kehilangan yang menyakitkan. Namun, karena respons lingkungan cenderung meremehkan, mereka merasa tidak berhak merasakan duka tersebut.
Dalam psikologi, validasi emosi adalah bagian penting dari proses penyembuhan. Ketika emosi ditolak, seseorang cenderung memendamnya, yang justru berpotensi memicu stres, kecemasan, bahkan gangguan tidur. Alih-alih hilang, duka yang ditekan justru mencari cara lain untuk muncul, sering kali dalam bentuk gejala emosional yang sulit dijelaskan.
Mengapa Lingkungan Sering Mengabaikannya?
Banyak faktor yang membuat duka seseorang kerap diabaikan, dan salah satunya adalah budaya yang menyanjung ketangguhan. Sejak kecil, banyak orang diajarkan untuk tidak menangis, tidak mengeluh, dan selalu terlihat kuat. Ketika seseorang menunjukkan kesedihan yang dianggap kecil, respons lingkungan biasanya berupa dorongan untuk segera bangkit, tanpa memberi ruang untuk merasakan.
Selain itu, banyak orang tidak terbiasa menghadapi emosi orang lain. Ketika melihat seseorang sedih, reaksi spontan sering berupa pengalihan topik atau pemberian nasihat cepat. Tujuannya mungkin baik, tetapi hasilnya membuat orang yang berduka merasa emosinya tidak penting. Sikap ini memperkuat keyakinan bahwa kesedihan harus dipendam, bukan diungkapkan.
Dampak Memendam Duka
Disenfranchised grief dapat menciptakan luka emosional yang lebih dalam. Seseorang bisa merasa terasing, seolah-olah ia adalah satu-satunya yang mengalami kesedihan tersebut. Rasa malu dan ragu terhadap perasaan sendiri membuat mereka enggan bercerita atau mencari bantuan, sehingga proses pemulihan berjalan sangat lambat.
Dalam jangka panjang, memendam duka dapat menyebabkan kelelahan emosional. Tekanan batin yang tidak tersalurkan dapat berubah menjadi stres kronis, mudah tersinggung, dan hilangnya semangat hidup. Bahkan, beberapa orang bisa mengalami kesulitan membentuk hubungan emosional baru karena masih terbebani oleh duka yang belum terselesaikan.
Memberi Ruang bagi Diri untuk Berduka
Memberi ruang bagi duka bukan berarti terjebak di dalamnya, melainkan mengizinkan diri merasakan sepenuhnya tanpa rasa bersalah. Langkah pertama adalah mengakui bahwa apa pun bentuk kehilangan yang dialami, perasaan sedih tetap valid. Menulis jurnal, berbicara dengan teman yang suportif, atau mencari bantuan profesional dapat menjadi cara untuk memproses emosi yang terpendam.
Dukungan sosial adalah elemen penting dalam penyembuhan. Saat seseorang merasa didengarkan dan dipahami, beban emosinya berkurang secara signifikan. Ketika duka diberi ruang dan dihormati, seseorang dapat melewatinya dengan lebih sehat dan perlahan-lahan memulihkan kembali keseimbangannya.
Disenfranchised grief adalah fenomena nyata yang sering luput dari perhatian. Ketika seseorang merasa kesedihannya tidak layak, mereka cenderung memendamnya hingga menjadi beban yang menghambat pemulihan. Dengan memahami pentingnya validasi emosi dan memberi ruang bagi diri sendiri maupun orang lain untuk merasakan duka, kita menciptakan lingkungan yang lebih manusiawi. Mengizinkan diri untuk sedih bukan tanda kelemahan, melainkan langkah awal menuju penyembuhan yang sejati.
Baca Juga
-
Delay of Gratification: Memaknai Puasa Lewat Lensa Psikologis
-
Puasa, Ego, dan Upaya Mengendalikan Diri: Membaca Maknanya dari Psikologi
-
Citra, Status, dan Rasa Takut Gagal dalam The Art of Sarah
-
Topeng Sosial dan Kerapuhan Diri dalam Drama 'The Art of Sarah'
-
Antara Kebenaran dan Kebohongan: Psikologi Moral dalam Drama The Art of Sarah
Artikel Terkait
-
Jangan Dianggap Sepele! 5 Kebiasaan yang Bikin Mood Rusak dan Berantakan
-
Gelak Tawa Bertemu Air Mata, Film 'Suka Duka Tawa' Sentuh Penonton dengan Komedi dan Drama Keluarga
-
Gampang Emosi ke Hal Remeh? Ternyata Ini Penjelasan Psikologinya
-
Akting Bareng Teuku Rifnu Wikana di Film Suka Duka Tawa, Rachel Amanda Jadi Pelawak
-
Review Film Suka Duka Tawa: Angkat Topi untuk Transformasi Teuku Rifnu Wikana
Lifestyle
-
Butuh Ide Outfit Bukber? Intip 4 Ide Gaya Hijab Elegan ala Sashfir Ini
-
6 Varian Pisang Manis yang Pas untuk Takjil Buka Puasa
-
Ngabuburit Anti-Gabut: 5 Ide Kegiatan Seru Menjelang Buka Puasa
-
Selain Air Putih, 5 Minuman yang Bikin Sahur Lebih Segar
-
5 Rekomendasi Moisturizer untuk Atasi Bruntusan, Ringan dan Cepat Meresap!
Terkini
-
Dinamika Emosi Remaja dalam Konflik Cinta dan Keluarga pada Novel Rasa
-
Ramadhan, Tarawih, dan Ujian Konsistensi Iman
-
Berpuasa, Bekerja di Jakarta dan Menguatkan Iman di Tengah Tekanan Urban
-
Memahami Makna Berdoa melalui Novel Bagaimana Jika Tuhan Bilang Tidak?
-
Di Balik Ramainya Takjil Ramadan, Ancaman Sampah Sekali Pakai Meningkat