Sudah menjadi fitrah setiap manusia yang beragama untuk berdoa kepada Tuhannya setiap kali memiliki keinginan ataupun rencana tertentu. Namun, berdoa saja tidak cukup, tentu butuh usaha untuk merayu Tuhan agar mau mengabulkannya, sekaligus bentuk pembuktian kita terhadap Tuhan bahwasanya kita bersungguh-sungguh menginginkan hal tersebut.
Tapi bagaimana jika doa dan usahamu yang sudah berkali-kali kamu lakukan tidak menunjukkan hasil sesuai dengan apa yang kamu inginkan? Bagaimana jika Tuhan bilang tidak? Akankah kamu kecewa? Akankah kamu menginstrospeksi diri dan mengulas kembali doa serta usahamu? Atau mungkin kamu justru memilih untuk berpaling dan membenci Tuhan?
Tinandrose menulis novel ini untuk para pembaca yang merasa Tuhan terlalu sering berkata tidak atas setiap doa-doanya, dan berkata tidak atas setiap usaha yang ia tunjukkan padaNya.
Novel yang terbit pada Agustus 2025 lalu ini menceritakan kisah Nirmana, seorang gadis yang merasa doa-doanya selama ini tidak pernah didengarkan Tuhan. Berkali-kali Nirmana jatuh lalu bangun lagi untuk berusaha mewujudkan doa-doanya, namun hasilnya selalu nihil.
Justru sebaliknya, Nirmana merasa semakin ia berdoa, ujian dalam hidupnya semakin menjadi-jadi. Keluarganya yang sedari awal jauh dari kata harmonis jadi semakin kacau akibat pertengkaran antara Nirmana dan ayahnya, ditambah hubungannya dengan seorang pria kandas begitu saja setelah ia memberikan segala yang ia punya. Masalah datang bertubi-tubi, membuat Nirmana merasa kehilangan arah dan jati diri.
Sebagai anak perempuan pertama dari dua bersaudara, Nirmana banyak menyimpan dendam pada kedua orang tuanya terutama pada ayahnya yang begitu ringan tangan padanya sejak ia kecil. Ayahnya tak akan segan memukul setiap kali Nirmana berbuat kesalahan. Sementara ibunya hanya bisa menangis tanpa membela atau menghentikan tindakan suaminya karena rasa khawatirnya terhadap Nirmana kalah besar dengan rasa takut pada suaminya. Mirisnya, perlakuan ayahnya itu hanya berlaku bagi Nirmana, tidak dengan adiknya. Sebab diketahui adik perempuan Nirmana merupakan tuna rungu dan tuna wicara sehingga kedua orang tuanya selalu memprioritaskan adiknya.
Nirmana menghabiskan masa kecilnya untuk berusaha "terlihat" di mata ayahnya. Ia belajar dengan giat, beribadah dengan rajin, dan melakukan segala permintaan ayahnya untuk sekadar merasa dianggap. Namun seiring bertambahnya usia, Nirmana menyadari bahwa semua usaha yang ia lakukan sejak kecil tidaklah berguna sedikitpun untuk merubah citra dirinya di mata ayahnya.
Bagi ayahnya, keluarga hanyalah alat untuk melampiaskan ego dan kemarahan semata. Didikan keras ayahnya itu menghasilkan banyak trauma dalam diri Nirmana sehingga Nirmana didiagnosis beberapa penyakit mental oleh psikiaternya. Nirmana berjuang sendirian melawan penyakitnya tanpa sepengetahuan orang tua.
Hingga suatu hari Nirmana mendapat informasi dari adiknya bahwa ternyata selama ini ayahnya memiliki istri lain di luar kota yang menyebabkan ayahnya jarang pulang dengan alasan pekerjaan. Tentu hal tersebut semakin memancing kebencian dalam diri Nirmana terhadap ayahnya.
Di puncak pertengkaran Nirmana dengan ayahnya itu, Nirmana berusaha mengakhiri hidupnya. Kini ia membenci Tuhan, sebab lelah karena sudah bertahun-tahun meminta Tuhan mengubah ayahnya namun justru membuat ayahnya tampak semakin gila. Nirmana berhenti berdoa, Nirmana berhenti percaya.
Namun siapa sangka, saat Nirmana terkapar di rumah sakit akibat perbuatannya sendiri, hal tersebut justru menjadi titik terang bagi Nirmana untuk keluar dari gelapnya kehidupan. Setelah hampir kehilangan anak sulungnya, mata ibu Nirmana perlahan terbuka bahwa selama ini ia telah berdosa terhadap kedua anaknya karena terus mempertahankan rumah tangga yang tak sehat. Ibu Nirmana akhirnya sadar bahwa selama ini ia patuh pada orang yang salah.
Setelah melihat begitu besar penyesalan ibunya, Nirmana merasakan luka di hatinya yang semula mengaga lebar kini mulai tertutup sebagian. Ia bersyukur mengetahui bahwa ternyata ibunya selama ini menyayanginya, ia juga terharu akan perhatian yang diberikan oleh adiknya.
Di rumah sakit itu pula Nirmana bertemu dengan seorang lelaki yang tanpa sengaja berhasil mengubah cara pandang Nirmana terhadap dunia. Kamal, pengidap penyakit jantung kronis yang sejak kecil hidup dengan neneknya karena kedua orang tuanya pergi entah kemana. Kisah hidupnya teramat pilu, membuat Nirmana kagum karena sadar bahwa ternyata masih banyak orang di luar sana yang hidupnya jauh lebih sulit namun tetap tenang dan tidak berisik.
Tak berhenti di situ, Nirmana juga dipertemukan dengan sosok ayah baru yang merupakan tukang ojek yang tak sengaja ia temui saat pertama kali pindah keluar kota untuk mencari suasana baru. Tak disangka pertemuan itu menjadi awal dari persaudaraan mereka, Nirmana belajar banyak hal dari ayah angkatnya itu. Seolah Tuhan hendak mengganti rasa haus akan sosok ayah yang selama ini Nirmana rasakan sejak kecil.
Setelah kedua orang tuanya resmi berpisah, hidup Nirmana bersama ibu dan adiknya terasa lebih baik. Hubungan ketiganya jauh lebih harmonis karena tak lagi mengkhawatirkan adanya keributan akibat pertengkaran di rumah.
Nirmana menikah dengan Kamal meski akhirnya Kamal harus pergi selama-lamanya di usia pernikahan mereka yang masih belia. Dari pernikahan tersebut terlahir seorang anak perempuan yang mereka beri nama Lya. Berbekal kasih sayang dari ibu, adik, orang tua angkat dan mendiang suaminya, Nirmana bertekad untuk menjadi ibu yang baik untuk putri semata wayangnya.
Nirmana mulai kembali percaya pada Tuhan, tak henti-henti ia bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk hidup dan memohon ampun atas prasangka buruk yang sempat melintas dalam hatinya terhadap Tuhan. Ia kini sadar bahwa Tuhan selalu punya cara tersendiri dalam menjawab doa hambaNya. Tugas kita sebagai hamba hanyalah berdoa dan berusaha, bukan memaksa.
Terkadang Tuhan menjauhkan kita dari sesuatu yang kita inginkan bukan karena Tuhan tidak sayang, justru karena Tuhan ingin menunjukkan jalan yang lebih indah dari yang kita harapkan. Kita hanya perlu sedikit lebih sabar untuk melihat jalan yang sudah Tuhan pilihkan.
Identitas Buku:
Judul: Bagaimana Jika Tuhan Bilang Tidak?
Penulis: Tinandrose
Penerbit: Teman Duduk.co
Tahun Terbit: Agustus 2025
Genre: Fiksi, Motivasi, Religi, Romansa
Jumlah Halaman: 192 halaman
Ukuran: 14,5 x 20,5 cm
Baca Juga
-
Mengungkap Rahasia Orang Kaya Sejati dalam Buku The Having
-
Mengenal Displacement, Fenomena Psikologis dalam Novel The Liar Between Us
-
Ulasan Buku Orang Indonesia Tionghoa Mencari Identitas
-
Ulasan Buku Learning How to Learn: Kuasai Hal Baru Tanpa Buang Waktu
-
Ulasan Buku The Whole Brain Child: Strategi Kembangkan Kecerdasan Otak Anak
Artikel Terkait
Ulasan
-
Lorong Menuju Laut: Perlawanan Perempuan Sangihe Melawan Korporasi dalam Novel Dian Purnomo
-
Film Antara Mama, Cinta, dan Surga: Tradisi yang Menekan Generasi Muda
-
Ketika Kakak Kehilangan Arah: Kisah Emosional di Novel Dongeng untuk Raka
-
Review Film AIU-EO Macam Betool Aja: Komedi Romantis Khas Medan yang Penuh Tawa
-
Film Late Shift: Malam Panjang Perawat yang Melelahkan dan Penuh Empati
Terkini
-
Di Balik Ramainya Takjil Ramadan, Ancaman Sampah Sekali Pakai Meningkat
-
Antisipasi Risiko Fraud, Asosiasi Investigator Internal Resmi Dibentuk
-
6 Varian Pisang Manis yang Pas untuk Takjil Buka Puasa
-
Viral Hantaman Helm Oknum Brimob dan Praktik Kekerasan Aparat Yang Mengakar
-
Ngabuburit Anti-Gabut: 5 Ide Kegiatan Seru Menjelang Buka Puasa