Sekar Anindyah Lamase | Oktavia Ningrum
The Happiest Kid (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Mengapa UNICEF menobatkan anak-anak Belanda sebagai yang paling bahagia di dunia? Pertanyaan ini menjadi titik awal buku The Happiest Kids in the World karya Rina Mae Acosta dan Michele Hutchison.

Ditulis dari sudut pandang dua ekspatriat asal Amerika Serikat dan Inggris yang kini tinggal di Belanda, buku ini bukan sekadar catatan observasi budaya, tetapi sebuah refleksi mendalam tentang pola asuh, sistem pendidikan, dan filosofi hidup yang membentuk kebahagiaan anak-anak di Negeri Kincir Angin.

Melalui pengalaman hidup langsung, para penulis mengurai rahasia parenting ala Belanda yang selama ini jarang dibicarakan secara global. Mereka menemukan bahwa kebahagiaan anak bukan dibentuk oleh prestasi akademik, tekanan kompetisi, atau jadwal superpadat, melainkan oleh keseimbangan hidup, rasa aman, dan relasi emosional yang sehat dalam keluarga.

Salah satu prinsip utama yang diangkat buku ini adalah pendidikan keluarga yang berpusat pada anak. Dalam keluarga Belanda, anak tidak diposisikan sebagai “proyek ambisi orang tua”, melainkan sebagai individu utuh dengan kebutuhan emosional, psikologis, dan sosialnya sendiri.

Anak tidak dibebani ekspektasi berlebihan untuk berprestasi, tetapi diarahkan untuk tumbuh sesuai ritme dan potensinya.

Hal ini terlihat jelas dalam sistem pendidikan mereka. Di tingkat sekolah dasar, tidak ada tuntutan akademik yang ketat. Anak-anak tidak didorong untuk mengejar ranking, nilai tinggi, atau kompetisi sejak dini. Fokus pendidikan adalah membangun rasa percaya diri, keterampilan sosial, dan kegembiraan belajar.

Konsep ini sejalan dengan gagasan golden mean (jalan tengah) dari Aristoteles yang diadopsi dalam budaya Belanda. Menghindari ekstrem, menjaga keseimbangan, dan menempatkan “cukup” sebagai standar sehat.

Ahli sejarah budaya Herman Pleij menyebut bahwa sistem pendidikan Belanda lebih berfokus pada kelompok berkemampuan menengah yang jumlahnya paling besar dibanding hanya mengejar anak-anak berprestasi tinggi.

Filosofinya sederhana: meluluskan sebanyak mungkin anak dengan kualitas hidup yang baik lebih penting daripada mencetak segelintir elite akademik. Prinsip ini dirangkum dalam pepatah terkenal Belanda: “Doe maar gewoon, dan doe je al gek genoeg” bersikaplah normal, itu saja sudah cukup luar biasa.

Rahasia lain yang menarik adalah kebebasan bermain anak di luar rumah tanpa pengawasan berlebihan. Anak-anak Belanda terbiasa bersepeda sendiri, bermain di lingkungan sekitar, dan menjelajah ruang publik sejak dini.

Ini bukan bentuk kelalaian orang tua, melainkan kepercayaan terhadap anak dan sistem sosial yang aman. Hasilnya, anak tumbuh mandiri, percaya diri, dan memiliki regulasi diri yang baik.

Dalam keluarga, komunikasi juga menjadi fondasi penting. Orang tua Belanda menerapkan dua waktu utama untuk berkomunikasi dengan anak, biasanya saat makan dan sebelum tidur.

Dua momen ini digunakan untuk membangun kedekatan emosional, mendengar cerita anak, serta menciptakan ruang aman bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan.

Konsep kebahagiaan Belanda juga sangat dipengaruhi oleh nilai budaya gezellig, sebuah istilah yang sulit diterjemahkan secara literal, tetapi mencakup rasa hangat, nyaman, kebersamaan, aman, cinta, persahabatan, dan kepuasan hidup.

Gezellig tidak tentang kemewahan, tetapi tentang kualitas relasi dan suasana emosional dalam kehidupan sehari-hari.

Gaya hidup orang Belanda pun mencerminkan filosofi ini. Liburan dan waktu bersama keluarga bukan kemewahan, melainkan kebutuhan. Keluarga kelas menengah Belanda rata-rata berlibur beberapa kali setahun, bahkan memanfaatkan akhir pekan panjang untuk bepergian. Ini mencerminkan prinsip hidup bahwa manusia tidak hidup untuk bekerja, tetapi bekerja untuk hidup.

Buku ini juga menegaskan bahwa kebahagiaan masa kecil memiliki dampak jangka panjang terhadap perkembangan fisik, emosional, sosial, dan kognitif anak. Anak yang bahagia cenderung lebih resilien terhadap stres, memiliki kepercayaan diri yang baik, serta pandangan hidup yang positif hingga dewasa.

Bagi orang tua Indonesia, The Happiest Kids in the World bukan sekadar bacaan inspiratif, tetapi referensi reflektif. Buku ini mengajak kita meninjau ulang pola asuh yang terlalu menekankan prestasi, kompetisi, dan standar sosial, sekaligus menawarkan perspektif bahwa kebahagiaan anak adalah fondasi utama bagi tumbuh kembang yang sehat. Karena pada akhirnya, anak yang bahagia hari ini adalah orang dewasa yang utuh esok hari.

Identitas Buku

  • Judul: The Happiest Kids in the World
  • Penulis: Rina Mae Acosta dan Michele Hutchison
  • Penerjemah: Aswita R. Fitriani
  • Tahun Terbit: November 2023
  • ISBN: 9786-2360-836-5-9
  • Tebal: 316 Halaman
  • Genre Buku: Parenting, Non Fiksi

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS