Sekar Anindyah Lamase | Leonardus Aji Wibowo
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. [Dok. Kemenkeu]
Leonardus Aji Wibowo

Fenomena gaji habis di tengah bulan masih menjadi masalah yang banyak dialami anak muda, baik pelajar, mahasiswa, maupun pekerja pemula. Pola konsumsi impulsif dan gaya hidup berlebihan membuat penghasilan sering habis tanpa perencanaan yang jelas.

Isu ini kembali menguat setelah beredarnya video percakapan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan sejumlah pelajar yang viral di media sosial. Video tersebut diunggah melalui akun TikTok @zain.aldy.ahmad dan menuai respons luas dari warganet.

Dalam video itu, seorang siswa SMA bernama Ahmad Ziad menyampaikan keresahannya soal kebiasaan boros. 

“Supaya enggak boros, Pak. Saya enggak suka flexing juga orangnya, Pak. Kan kata Bapak enggak boleh flexing,” ungkap Ahmad Ziad, dikutip pada Jumat (13/02/2026).

Ia menjelaskan bahwa dirinya masih berstatus pelajar namun sudah bekerja lepas. 

“Jadi, kan saya kan masih SMA, Pak. Nama saya Ahmad Ziad,” ujarnya memperkenalkan diri.

Ia kemudian menambahkan bahwa dirinya masih berstatus sebagai siswa SMA dan saat ini menjalani pekerjaan freelance. Ahmad kemudian menyampaikan pertanyaan inti terkait pengelolaan uang.

“Nah, jadi gimana tuh, Pak, cara memanage uang buat anak SMA, Pak, yang baik dan benar supaya enggak boros, Pak,” ujarnya.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Purbaya memberikan jawaban sederhana terkait pola hidup.

“Ya lu makan secukupnya, uangnya tabungin. Udah, Pak,” jawab Purbaya.

Jawaban tersebut menegaskan bahwa kontrol konsumsi menjadi kunci utama agar penghasilan tidak cepat habis. Prinsip hidup sederhana dinilai sebagai langkah awal dalam membangun pengelolaan keuangan yang sehat sejak usia muda.

Bagi anak muda yang sudah memiliki penghasilan, pengelolaan uang dimulai dari kebiasaan harian yang disiplin. Purbaya kemudian menjelaskan tahapan lanjutan dalam pengelolaan keuangan. 

“Jadi manage dengan baik. Nanti udah ditabungin, kalau sudah mulai cukup banyak coba lihat pasang modal, coba lihat reksadana dulu,” ucap Purbaya.

Ia menjelaskan bahwa langkah awal investasi sebaiknya dimulai dari instrumen yang relatif stabil sebelum beralih ke pilihan lain.

Ia juga menekankan pentingnya proses bertahap dalam investasi. Dalam percakapan tersebut, Purbaya juga menjelaskan pembagian tabungan. 

“Sudah kenal produknya mulai beli saham dikit-dikitlah tapi bertahap gitu. Separuh tabungan saya punya 10 juta tabungan 50% lu pisahin ke pasar modal,” tambah Purbaya.

Saat siswa menyebut keterbatasan dana awal, Purbaya memberikan respons yang membangun. “Rp100.000 juga bisa loh. Rp100.000 lu tuh udah bisa sekarang main saham,” sambungnya.

Namun, ia tetap mengingatkan risiko investasi tanpa pemahaman.

“Tapi bagusnya beli reksadana biar kamu ngerti. Kalau kamu pasti rugi kalau main saham nanti masuk saham gorengan lagi,” ucapnya.

Pesan tersebut memperkuat bahwa persoalan gaji habis di tengah bulan bukan semata soal kecilnya penghasilan. Pola hidup sederhana, kebiasaan menabung, dan perencanaan jangka panjang menjadi fondasi agar keuangan anak muda lebih stabil dan berkelanjutan.

Mengelola uang secara sadar juga membantu anak muda membangun kontrol diri terhadap keinginan konsumtif yang sering muncul akibat tren media sosial. Tanpa perencanaan, gaji dan penghasilan tambahan akan mudah habis hanya untuk kebutuhan sesaat.

Disiplin finansial membuat anak muda tidak hanya bertahan sampai akhir bulan, tetapi juga memiliki ruang untuk menabung, berinvestasi, dan merancang masa depan. Penghasilan bukan lagi sekadar alat konsumsi, melainkan instrumen untuk membangun stabilitas hidup jangka panjang.

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS