Kebiasaan rebahan, layar gawai, dan minim gerak bukan lagi sekadar gaya hidup anak muda, tapi sudah berubah menjadi ancaman serius bagi masa depan generasi Indonesia.
Rendahnya aktivitas fisik, meningkatnya remaja yang jarang bergerak, serta lonjakan obesitas anak dalam dua dekade terakhir menunjukkan bahwa masalah ini bukan hal sepele, melainkan persoalan kesehatan, kecerdasan, dan kualitas hidup jangka panjang yang bisa berdampak permanen jika terus dibiarkan.
Isu tersebut diangkat dalam episode ke-3 Sangkil Mangkus di kanal YouTube Malaka Project yang menghadirkan Ferry Irwandi bersama Dea Anugrah dan Cania Citta. Dalam diskusi itu, mereka membahas pentingnya pendidikan psikomotorik sebagai pilar utama perkembangan anak, sejajar dengan aspek kognitif dan sosial emosional.
Melalui contoh praktik di pendidikan usia dini hingga jenjang berikutnya, video tersebut memperlihatkan bagaimana aktivitas gerak yang terarah dapat membentuk koordinasi tubuh, daya konsentrasi, karakter, serta kemampuan berpikir anak sejak usia dini.
Cania Citta membuka pembahasan dengan merujuk studi Stanford University tahun 2017 yang sempat menyebut Indonesia sebagai negara dengan tingkat berjalan kaki terendah di dunia.
“Indonesia sempat jadi headline sebagai negara paling malas gerak di dunia. Studi Stanford University tahun 2017 mencatat warga Indonesia paling sedikit jalan kaki,” ujar Cania Citta.
Ia juga menyinggung data nasional terbaru yang menunjukkan kondisi tersebut masih relevan hingga sekarang.
“Lebih dari 50 persen remaja Indonesia usia di bawah 19 tahun tergolong kurang gerak menurut survei kesehatan Indonesia tahun 2025. Indonesia sudah masuk zona merah, ini bisa disebut sebagai epidemi ‘remaja jompo’,” lanjutnya.
Dampak kurang gerak tidak hanya berkaitan dengan fisik, tetapi juga perkembangan mental dan kecerdasan.
“Dalam 20 tahun terakhir, laporan UNICEF mencatat angka obesitas anak dan remaja di Indonesia naik sampai tiga kali lipat. Kurang gerak juga bisa mengganggu perkembangan otak dan kecerdasan,” ucap Cania Citta.
Dalam video tersebut, Malaka Project juga menghadirkan praktisi pendidikan anak usia dini, Lailatum, guru PAUD Terpadu Kalirejo, yang menekankan pentingnya pendidikan psikomotorik sejak dini.
“Stimulasi kognitif, psikomotorik, dan sosial emosional itu tidak distimulasi secara terpisah, tapi bisa menyatu dalam satu kegiatan,” jelas Lailatum.
Ia menjelaskan konsep olahraga komputasional sebagai pendekatan yang menggabungkan aktivitas fisik dengan proses berpikir anak.
“Ketika anak berolahraga, bukan cuma fisiknya yang terstimulasi, tapi juga berpikir komputasional, kerja sama, dan sosial emosionalnya,” katanya.
Cania Citta menegaskan bahwa pendidikan gerak sering disalahpahami hanya sebagai pelajaran olahraga semata.
“Sering kali penekanannya jadi bagaimana anak jago olahraga tertentu, padahal inti psikomotorik adalah kemampuan mengatur tubuh dan mengoordinasikan gerakan dengan baik,” ujarnya.
Menurut Cania Citta, aktivitas fisik berkaitan langsung dengan kemampuan berpikir dan pengambilan keputusan anak.
“Anak yang aktif secara fisik punya konsentrasi lebih baik, memori meningkat, dan fungsi berpikir logis serta pengambilan keputusan juga berkembang,” jelasnya.
Malaka Project menilai budaya hidup aktif harus dibangun sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari, bukan sekadar program tambahan di sekolah.
“Pendidikan itu bukan untuk sekadar bisa melakukan, tapi melakukan dengan benar, tepat, dan efektif termasuk dalam bergerak,” kata Ferry Irwandi.
Isu ini dinilai relevan dengan kehidupan remaja saat ini yang semakin dekat dengan gawai, minim aktivitas fisik, dan ruang geraknya semakin terbatas.
Melalui konten ini, Malaka Project mengajak generasi muda dan orang tua untuk melihat ulang makna bergerak sebagai fondasi kesehatan, kecerdasan, dan kualitas hidup jangka panjang.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
WHOOP Bukan Sekadar Gelang, Saat Data Tubuh Jadi Bagian Gaya Hidup Modern
-
Film Mortal Kombat II dan Nostalgia Era Rental PS2 yang Sulit Dilupakan
-
Verstappen Effect? Nrburgring 24H Ludes untuk Pertama Kali dalam Sejarah
-
Smartwatch Kini Bisa Baca Risiko Diabetes? Ini Fitur Huawei Watch Fit 5 Pro
-
Makna Lagu Ancika Ariel NOAH, OST Dilan ITB 1997 yang Bikin Nostalgia
Artikel Terkait
-
4 Rekomendasi Sepeda Lipat Ukuran 20 Inci untuk Remaja hingga Dewasa
-
Siram Air Keras Secara Acak, Tiga Pelajar di Jakpus Ditangkap, Dua Masih di Bawah Umur
-
Insekuritas dan NCII Remaja dalam Novelet Yang Kulihat di Cermin (Topless)
-
Merosotnya Moral Remaja: Benarkah Korban Zaman atau Bukti Kelalaian Kita?
-
Antara Ego dan Rasa: Belajar Menghargai Manusia melalui Novel Prince
News
-
Membawa Ruh Yogyakarta ke Bandung: Sinergi Budaya dan Bisnis LBC Hotels Group
-
Upacara Adat Majemukan Desa Glagahan: Merajut Syukur dan Menjaga Warisan Leluhur
-
Mahasiswa UBSI Gelar Penyuluhan Toleransi Beragama di TPQ Aulia
-
Living Walls: Saat Dinding Hotel di Yogyakarta Berubah Jadi Galeri Seni dengan Sentuhan Naive Art
-
Delegasi Terbaik MEYS 2026 Diumumkan, Ini Dia Jajaran Pemenangnya!
Terkini
-
Novel Belajar di Mikrolet: Mengejar Mimpi dari Balik Jendela Mikrolet
-
4 Serum Kandungan Kunyit Kaya Antioksidan, Rahasia Kulit Auto Cerah Merata
-
Keyakinan yang Mengubah Realitas dalam Buku Spontaneus Healing of Belief
-
Suka Filing for Love? 6 Drama Perselingkuhan Kantor yang Bikin Geregetan!
-
Di Balik Kisah Fantasi Big Fish: Mengubah Cara Pandang Kita Pada Kematian