Hayuning Ratri Hapsari | Sherly Azizah
Ilustrasi mahasiswa (Pexels/Ivan Samkov)
Sherly Azizah

Melansir laporan dari Journal of Nutrition and Metabolism mengenai fisiologi puasa, penurunan kadar glukosa darah yang drastis akibat pemilihan menu sahur yang salah dapat memicu pelepasan hormon kortisol (hormon stres) yang membuat seseorang menjadi lebih reaktif, sulit berkonsentrasi, dan secara emosional merasa "terkuras".

Fenomena ini sering saya sebut sebagai "Mokel Emosional"—kondisi di mana raga masih berpuasa, tapi jiwa sudah menyerah pada rasa malas dan emosi yang tidak stabil.

Sebagai mahasiswa yang setiap hari harus menghadapi tumpukan tugas sekaligus mengoreksi pekerjaan mahasiswa lain sebagai asisten dosen, saya menyadari bahwa bijak berkonsumsi bukan hanya soal menahan diri dari belanja barang, melainkan tentang bagaimana saya "mengonsumsi" nutrisi secara strategis.

Saya berhenti melakukan "balas dendam" saat berbuka dan mulai memperlakukan piring makan saya sebagai bahan bakar untuk profesionalitas dan ibadah saya.

Keputusan saya untuk menerapkan pola makan "Karbohidrat Kompleks & Serat Tinggi" saat sahur adalah bentuk nyata dari kemandirian manajemen energi. Dulu, saya sering terjebak dalam konsumsi nasi putih berlebih atau mi instan karena praktis, namun hasilnya saya justru mengalami sugar crash dan lemas luar biasa saat jam kuliah siang hari.

Di sini, bijak berkonsumsi versi saya adalah dengan mengganti porsi karbohidrat sederhana menjadi lebih banyak serat, seperti buah-buahan dan protein yang tahan lama di perut. Dengan cara ini, saya telah melakukan investasi energi yang stabil; saya tidak lagi merasa seperti zombi di depan kelas saat membantu dosen, dan emosi saya tetap terjaga stabil meski tenggorokan terasa kering. Saya belajar bahwa menjadi asisten dosen yang kompeten dimulai dari apa yang saya taruh di piring sahur saya pukul empat pagi.

Keresahan yang sering saya jumpai di lingkungan kampus adalah budaya "lapar mata" saat berburu takjil yang didominasi gorengan dan gula. Banyak teman sebaya saya mengonsumsi gula secara berlebihan saat berbuka, yang mengakibatkan rasa kantuk luar biasa saat jam tarawih atau saat harus lembur mengerjakan tugas dosen.

Namun, saya memilih jalan berbeda. Saya mempraktikkan "Aturan Setengah Piring" sayur dan buah bahkan saat berbuka puasa. Inilah gaya hidup bijak yang sesungguhnya: kita menghargai tubuh kita sebagai aset untuk mencapai cita-cita (valuing our body as an asset) daripada sekadar memanjakan lidah sesaat. Dengan tubuh yang bugar, saya tidak perlu lagi mengambil "jatah bolos" kuliah atau meminta izin tidak masuk asistensi hanya karena alasan lemas berpuasa.

Selain soal kebugaran, manajemen pola makan ini adalah bentuk rasa syukur saya atas amanah yang sedang saya jalankan. Sebagai asisten dosen di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, saya dituntut untuk tetap tajam dalam berpikir dan berkomunikasi.

Menjaga pola makan agar tidak "mokel emosional" adalah cara saya menghormati profesi dan tanggung jawab saya. Saya merasa jauh lebih berwibawa saat berdiri di depan mahasiswa dengan energi yang positif, bukan dengan wajah pucat dan aura malas. Inilah bentuk konsumsi yang bertanggung jawab; memastikan input yang masuk ke tubuh menghasilkan output prestasi yang maksimal. Ternyata, saat kita bijak mengatur isi piring, puasa tidak lagi menjadi beban, melainkan menjadi pemicu untuk menjadi versi diri yang lebih disiplin dan berdaya.

Kemenangan Ramadan bukan hanya soal menahan haus sampai maghrib, tapi soal bagaimana kita tetap bermanfaat dan produktif selama belasan jam tersebut. Bijak berkonsumsi nutrisi adalah kunci agar kita tidak terjebak dalam lingkaran setan lemas dan emosi yang tidak stabil.

Saya merasa jauh lebih siap menghadapi ujian tengah semester maupun tugas dosen yang menumpuk dengan tubuh yang ternutrisi dengan benar. Bagaimana dengan teman-teman mahasiswa lainnya? Masih hobi sahur "asal kenyang" yang bikin ngantuk di kelas, atau sudah mulai cerdas mengatur gizi agar tetap slay selama puasa?

Yuk, kita saling berbagi menu sahur anti-lemas favorit kalian di kolom komentar!