M. Reza Sulaiman | Aryo Akhmad Maulana
Ilustrasi memotong bawang merah (pexels.com/Los Muertos Crew)
Aryo Akhmad Maulana

Di antara semua bahan masakan, mungkin keluarga bawang menjadi salah satu jagoannya. Mereka hadir tidak hanya sebagai rempah pelengkap, tetapi juga inti dari bumbu masakan. Maka dari itu, tidak heran jika bawang seolah tidak pernah absen dari masakan asli Nusantara.

Namun, di balik takhta agungnya, bawang—terutama bawang merah—juga punya sisi impostor. Saat mengiris bawang merah, kita sering meneteskan air mata karena ulahnya. Reaksi ini bukan karena bawang merah itu jahat seperti di cerita Cinderella, melainkan karena ia memiliki mekanisme untuk melindungi dirinya.

Dilansir Healthline, bawang merah mengandung enzim allinase dan asam amino sulfoksida. Saat kamu mengirisnya, mereka akan memecah dan mengalami reaksi kimia. Hasilnya adalah propanethial S-oxide sebagai agen lakrimatori—gas penyebab iritasi mata.

Tidak hanya bawang merah, mata kita juga mempunyai mekanisme pertahanan diri. Saat ada yang mengiritasinya, baik debu maupun gas, saraf di mata akan merangsang pengeluaran cairan untuk membersihkannya. Oleh sebab itu, kita menangis saat sedang memotong bawang.

1. Dinginkan Bawang Merah Selama 15–30 Menit di Dalam Kulkas

Enzim allinase dalam bawang merah memiliki suhu optimal untuk bereaksi. Suhu yang terlalu dingin akan memperlambat aktivitas enzim allinase. Lain halnya jika suhunya terlalu panas, ia akan mengalami denaturasi alias rusak permanen.

Dilansir The Conversation, suhu dingin dari kulkas berfungsi mencegah reaksi enzim saat dinding sel bawang merah dipotong. Namun, mendinginkannya terlalu lama justru bisa merusak cita rasanya. Agar hasilnya maksimal, disarankan hanya melakukannya dengan durasi 15–30 menit dan bukan menggunakan freezer.

2. Oleskan Perasan Lemon pada Pisau Tajam

Dilansir The Kitchn, perasan lemon bisa mengurangi efek mata ingin menangis saat mengiris bawang. Meski hasilnya efektif, cara ini kurang efisien. Pisau yang kamu gunakan harus selalu terlapisi oleh perasan lemon. Dengan kata lain, kamu perlu bolak-balik menggesekkan mata pisau setelah menggunakannya beberapa kali. Cukup rumit, bukan?

3. Gunakan Kipas Angin untuk Mengusir Gas dari Bawang Merah

Cara ini memang tidak menghilangkan gas penyebab mata menangis, tetapi bisa mengusirnya. Dengan memposisikan arah angin dari kipas, kita berharap gas lakrimatori akan menjauhi mata kita. Dengan begitu, kita bisa terhindar dari drama menangis karena bawang.

Cara lain yang jauh lebih praktis ialah dengan memotong bawang di dekat sirkulasi udara—pintu atau jendela. Kamu tidak perlu alat sebab dengan sendirinya angin akan membawa gas itu pergi. Namun, kamu perlu berdoa agar angin tidak mengarah ke tempatmu. Alih-alih membantu, kamu justru mendapat serangan kombo—gas dari bawang dan debu dari angin.

4. Gunakan Kacamata Renang: Sedikit Repot, tetapi Ampuh Mencegah Mata Menangis

Kacamata renang dipercaya paling ampuh menahan serangan gas lakrimatori dari bawang. Benda ini akan mencegah gas penyebab iritasi—dan mungkin juga debu—agar tidak mengenai mata. Jika tidak memiliki kacamata renang, beberapa orang menyarankan untuk menggunakan face shield atau kacamata biasa. Meskipun tingkat efektivitasnya tidak sebaik kacamata renang, dua benda itu tetap bisa dipertimbangkan.

5. Mau Lebih Praktis? Pakai Alat Khusus Pemotong Bawang

Kini muncul beragam peralatan dapur yang membuat proses memasak menjadi makin praktis. Salah satunya yaitu chopper, alat pemotong bawang dan bumbu dapur lainnya. Bentuknya sekilas mirip blender. Cara kerjanya pun hampir sama.

Dengan menggunakan chopper, tidak perlu memotong bawang merah menggunakan pisau konvensional. Kita hanya perlu memasukkannya dan menekan beberapa tombol. Lalu, tunggu sampai chopper selesai melakukan tugasnya.

Seperti kata pepatah, ada banyak jalan menuju Roma, sebanyak itu pula cara praktis agar terhindar dari drama air mata saat memotong bawang. Masih belum praktis juga? Mintalah orang lain memotongnya untukmu. Selamat memasak!