Sobat, Yoursay! Sejak kecil, kita sudah akrab dengan wejangan yang berbunyi, “Kalau mau cepat selesai, kerjakan tugas yang mudah dulu!”
Strategi ini diharapkan menjadi momentum yang memicu efek domino, sehingga kita lebih bersemangat untuk mengerjakan tugas-tugas lain yang lebih berat. Namun, bagaimana jika ada sebuah konsep yang membantah itu semua?
Eat the Frog alias makan kataknya. Eitss... ini bukan ritual sesat, melainkan metafora yang menganjurkan kita untuk melakukan tugas-tugas berat di waktu emas—yang dalam konteks ini berarti saat pagi hari. Dengan kata lain, Eat the Frog mendobrak cara berpikir mayoritas yang lama melekat di kepala kita. Namun, apakah strategi ini nyata efektif?
1. Bagaimana Eat the Frog menulis ulang prioritas kita?
Jangan salah paham! Katak di sini bukan berarti hewan amfibi berkaki empat, melainkan tugas-tugas penting yang menyita banyak waktu saat kita mengerjakannya. Berangkat dari hal ini, Brian Tracy, melalui bukunya yang berjudul Eat That Frog! 21 Great ways to Stop Procrastinating and Get More Done in Less Time, memopulerkan strategi Eat the Frog untuk menghentikan kebiasaan menunda-nunda sekaligus mempercepat penyelesaian tugas.
Eat the Frog mengajak kita untuk mengatur ulang prioritas pengerjaan tugas. Menurut konsep ini, tugas-tugas yang lebih berat harus dikerjakan di pagi hari. Cara ini dipercaya lebih efektif untuk menghindari menunda-nunda aktivitas dan meningkatkan produktivitas.
Bayangkan jika kamu akan mengisi gelas dengan beberapa butir kelereng dan puluhan manik-manik kecil. Jika kamu mendahulukan kelereng—yang memiliki ukuran lebih besar—manik-manik masih bisa mengisi gelas melalui celah kecil di antara kelereng. Sebaliknya, kalau kamu mendahulukan manik-manik daripada kelereng, hanya sedikit kelereng—ibarat tugas berat—yang bisa menempati gelas.
Lebih kurang seperti itulah Eat the Frog bekerja. Ia menantang kita untuk mendahulukan tugas penting yang menghabiskan banyak waktu. Harapannya, ketika sore hari—di mana energi kita tersisa sedikit—kita bisa menuntaskan pekerjaan ringan yang hanya butuh sedikit energi tanpa takut burn out. Pun dengan memastikan agenda prioritas sudah selesai, kita bisa lebih tenang di malam hari.
2. Alasan pagi hari menjadi pertimbangan untuk melakukan tugas-tugas berat
Saat pagi hari, kita masih mempunyai banyak energi untuk melakukan aktivitas berat. Sangat disayangkan jika energi ini habis karena kita mendahulukan tugas-tugas ringan. Padahal, tugas itu bisa dikerjakan saat sore hari atau mungkin didelegasikan saja. Lebih buruk lagi, jika kelimpahan energi ini justru kita pakai untuk scrolling media sosial atau maraton series 12 episode.
Selain itu, biasanya suasana mood kita masih baik di pagi hari. Belum ada tanda-tanda invasi dari drama kehidupan yang bisa merusaknya. Dengan begitu, fokus kita tetap terjaga tanpa takut terkena distraksi emosional.
3. Tidak asal makan, ini cara pilih "katak" yang benar
Langkah pertama saat memilih "katak" ialah dengan memetakan tugas. Urutkan tugas dari yang berat ke yang mudah. Selain itu, kamu juga bisa memecahnya lagi: mana saja tugas yang harus dilakukan sendiri dan mana saja yang bisa didelegasikan ke orang lain.
Selanjutnya, tentukan estimasi waktu pengerjaan untuk setiap tugas. Terkadang ada tugas yang memerlukan waktu lebih lama dari estimasi awal. Oleh sebab itu, beri mereka sedikit kelonggaran waktu untuk menyiasati masalah ini. Tidak hanya hanya itu, kamu juga bisa memecah tugas berat menjadi tugas-tugas kecil agar mudah dikerjakan.
Terakhir dan tidak kalah penting, persiapkan dirimu satu malam sebelum mengerjakan tugas tersebut. Persiapan, baik mental, fisik, maupun perlengkapan, perlu dipikirkan matang-matang. Sebagai contoh, ketika kamu akan melakukan presentasi esok hari, pastikan baterai laptopmu sudah terisi dan semua peralatan penunjang sudah tersedia.
Eat the Frog mendobrak ulang cara berpikir kita terkait urutan pengerjaan tugas. Efektifitas strategi ini bergantung pada cara kita memilih "katak" dan mempersiapkannya. Jadi, apa kamu sudah siap mencentang banyak to-do-list pakai cara ini?
Baca Juga
-
Bau Badan Wassalam! 5 Siasat Wangi Paripurna Meski Panas-panasan di Jalan
-
Bosen Nangis Pas Masak? Ini 5 Siasat Ngiris Bawang Biar Mata Gak Kelilipan Air Mata
-
Rahasia Meredam Pikiran Berisik: Ganti Scrolling dengan Ritual 15 Menit Ini
-
Mengenal Post-truth: Ketika Fakta Dikendalikan Rasa
-
Menyingkap 4 Alasan Matematika Menjadi Momok bagi Siswa
Artikel Terkait
-
Lebaran Ala Mahasiswa: Antara Silaturahmi sama Saudara dan Salaman sama Tugas
-
Pendampingan dan Pelatihan Dongkrak Produktivitas Petani Sawit
-
Belajar Melepaskan: Bagaimana Proses Decluttering Mengajarkan Kita Hidup Lebih Ringan
-
Review Karier 12 Shio: Kamu Tikus yang Boros atau Naga yang Ambisius tapi Keras Kepala?
-
Apa Pekerjaan Chuando Tan? Wajah Bak Umur 30-an padahal Sudah Ulang Tahun ke-60
News
-
Aplikasi GPS vs Realita: Ketika Google Maps Anggap Jalur Sapi sebagai Jalan Tol
-
Review Hambalang 6,5 Jam: Ketika Najwa Shihab dan Chatib Basri Diskusi Maraton Bareng Presiden
-
Gak Harus Putar Balik! Ini 4 Solusi Jitu Jika Kartu e-Toll Ketinggalan saat Mudik
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Perut Begah tapi Segan Tolak Suguhan Lebaran? Ini Seni Diplomasi Makan Tanpa Kekenyangan
Terkini
-
Xdinary Heroes Umumkan Comeback, Mini Album ke-8 DEAD AND Siap Rilis April
-
Pelajaran Kehidupan dan Pencarian Jati Diri di Drama Our Unwritten Seoul
-
Jangan Sampai Kelewatan! 7 Judul Terbaik Steam Spring Sale yang Harganya Hampir Gratis
-
Tetapkan Skuat Final, Ini 3 Titik Kelemahan Pasukan Garuda di FIFA Series 2026 Era John Herdman
-
XO, Kitty Season 3 Tayang 2 April, Jadi Penutup Kisah Cinta Kitty di KISS