Perjuangan meraih cita-cita tidak semudah rebahan sambil scrolling medsos. Setiap orang memiliki target dan rintangannya masing-masing. Namun, hanya mereka yang konsisten dengan mimpinya yang bisa memilikinya.
Dalam album Monokrom, Tulus kembali mengeluarkan suara emasnya lewat lagu berjudul “Manusia Kuat”. Lagu ini terasa dekat dengan kehidupan, terutama bagi mereka yang menyandang gelar sebagai pejuang cita-cita. Liriknya menangkap gambaran para pejuang yang tetap berjalan meski tertatih-tatih.
1. Lirik yang Sarat Nuansa Majas
Kau bisa patahkan kakiku / Tapi tidak mimpi-mimpiku
Kau bisa lumpuhkan tanganku / Tapi tidak mimpi-mimpiku
Kau bisa merebut senyumku / Tapi sungguh tak akan lama
Kau bisa merobek hatiku / Tapi aku tahu obatnya
Tulus sukses menyulap metafora dan pengulangan menjadi lirik yang apik. Tidak hanya itu, ia juga menyandingkan majas pertentangan yang dekat dengan kehidupan. Hal ini menyiratkan bahwa "Manusia Kuat" secara keindahan sastra penuh dengan gaya bahasa.
Bait di atas mewakili mereka yang tetap bangkit meski tidak hanya jatuh sekali. Setiap rintangan yang menghalau bisa disingkirkan, meskipun tidak harus selesai pada hari itu juga. Selama mau berproses, meskipun sesekali lelah, yakinlah impian itu bisa menjadi milikmu.
2. Ternyata, Pejuang Cita-Cita yang Kuat Itu Adalah Kita
Manusia-manusia kuat, itu kita / Jiwa-jiwa yang kuat, itu kita
Dulu, saat masih di bangku sekolah dasar, cita-cita menjadi ajang pertunjukan idealisme. Namun, saat anomali bernama kehidupan dewasa datang mengetuk pintu, timbul perasaan ragu untuk tetap mengejanya. Bukan karena lemah, melainkan karena realitas tidak selalu berpihak pada isi hati kita.
Di sinilah kegetiran itu kian terasa nyata. Tentang betapa tangguhnya pejuang cita-cita dalam mewujudkan impian masa kecilnya. Oleh karena itu, tidak heran jika Tulus menyematkan kita satu gelar baru: manusia berjiwa kuat. Menariknya, Tulus mengemas kegetiran ini dengan musik up-beat yang penuh semangat, sehingga pendengar tidak hanya merasa relate, tetapi juga menyalakan kembali api kecil yang sebentar lagi padam.
3. Menemukan Jalan Terang di Tengah Kebuntuan
Kau bisa hitamkan putihku / Kau takkan gelapkan apa pun
Kau bisa runtuhkan jalanku / 'Kan kutemukan jalan yang lain
Kontras antara 'hitamkan putihku' dan 'takkan gelapkan apa pun' menunjukkan majas antitesis yang mempertegas eksistensi gangguan luar saat meraih mimpi. Dalam setiap perjalanan, ada fase di mana kita merasa dikhianati oleh lingkungan, bahkan oleh teman sendiri. Jika hari ini terasa lebih berat dari kemarin, itu artinya kita sedang berproses menjadi lebih baik. Lelah itu manusiawi, namun merelakan impian adalah pilihan yang harus dipikirkan risikonya matang-matang.
4. Perlindungan Tuhan di Atas Segalanya
Bila bukan kehendak-Nya, / Tidak satu pun culasmu akan bawa bahaya
Kali ini, Tulus menonjolkan kuasa Tuhan. Seteratur apa pun rencana jahat manusia, jika Tuhan tidak berkehendak, maka tidak akan terjadi. Dan kalaupun kita harus mengalami kepahitan, Tuhan pasti memberi penawarnya. Memang menyakitkan, tetapi jangan sampai nyaman dengan rasa sakit itu. Bukankah ini perjalanan menuju hidup ideal di mana kita harus keluar dari zona nyaman untuk menciptakan zona nyaman baru—yang lebih luas, lebih aman, dan lebih nyaman?
Hidup tidak akan bertambah mudah; sebaliknya, kitalah yang harus bertambah kuat. Ada satu adagium yang saya ingat sampai sekarang: jika kamu minta ikan, Tuhan memberimu alat pancing. Tidak instan, tidak mudah, namun impian itu tetap bisa menjadi milikmu.
Baca Juga
-
Membaca dan Melawan Overthinking: Pikiran yang Bikin Khawatir
-
Nggak Cuma Plastik! 7 Daun Ini Bisa untuk Membungkus Masakan
-
Lebih Empuk! 5 Cara Mengolah Daging Sapi agar Tidak Alot
-
Awas Terjebak Tren! 5 Mitos Less Waste yang Telanjur Dipercaya
-
Sisi Lain Kehidupan Bu Lira dalam Novel 'Kami (Bukan) Fakir Asmara'
Artikel Terkait
-
Lirik Lagu Erika oleh OSD HMT ITB yang Berisi Pelecehan Seksual
-
Belajar Sabar Lewat Klakson dan Bayang Gedung Megah: Surat Cinta Seorang Perantau untuk Jakarta
-
Bedah Lirik Kuharap Duka Ini Selamanya dari Raisa: Kadang Kita Tidak Perlu 'Sembuh' dari Duka
-
Makna Lagu Multo dari Cup of Joe: Kisah Kenangan yang Menghantui
-
Bedah Makna Lagu Bernadya "Kita Buat Menyenangkan": Seni Memaafkan Hal Kecil
Ulasan
-
Novel Salvation of a Saint: Tragedi Domestik dalam Bingkai Trik Mustahil
-
Filosofi Hidup Oreki dan Misteri yang Tak Bisa Ia Hindari di Novel Hyouka
-
Jojo Rabbit: Ketika Komedi Gelap Membedah Kengerian Perang Dunia II
-
Membaca dan Melawan Overthinking: Pikiran yang Bikin Khawatir
-
The Great Flood: Film Bencana yang Dahsyat dengan Sentuhan Drama Keluarga
Terkini
-
Beralih dari Tisu ke Kain Lap, Solusi Simpel Menuju Gaya Hidup Minim Sampah
-
Nadiem Makarim di Sidang Pleidoi: Saya Tak Menyesal Mengabdi!
-
BTS Rayakan 13 Tahun Debut dengan Vinyl Spesial ARIRANG, Berisikan 16 Trek
-
Less Waste, More Awareness: Cara Gen Z Melihat Masa Depan Lingkungan
-
Drama Korea Teach You a Lesson: Kala Pendidikan Butuh Reformasi Ekstrem