Menjadi dewasa sering diartikan sebagai kemahiran memakai topeng. Bukan dalam arti properti pertunjukan, melainkan keahlian bersandiwara bahwa semuanya tampak baik-baik saja. Meskipun, kita tahu, hidup tidak pernah kehabisan cara untuk memberi lelucon yang tidak masuk akal.
Hindia, melalui lagu "Kita Ke Sana", berhasil mengabadikan kegetiran fase hidup ini. Liriknya tidak hanya dekat dengan realitas, tetapi juga menyentuh ketakutan yang sering kali dirasakan: momen kebersamaan yang sebentar lagi habis masanya.
1. Paradoks kebahagiaan: merayakan hari ini karena esok sisa sengsara
Rayakan hari ini
Besok sisa sengsara
Belum pulan kau pun di sini
Temani diriku
Dewasa tidak pernah habis memberi kejutan. Dulu, saat masih anak-anak, kita bisa melihat pencuri di layar-layar televisi. Bisa juga dari warisan mulut ke mulut tetangga. Namun, kini sudah berubah. Hampir setiap malam kita harus bertarung dengan satu anomali pencuri ulung: overthinking.
Ia sama hebatnya dengan pencuri kelas kakap. Bedanya, ia tidak menjarah uang yang dikumpulkan dari kompensasi lembur, tetapi merampas ketenangan di kepala sesaat sebelum tidur. Tentang skenario buruk yang mungkin terjadi di esok hari. Padahal, peluang terjadinya hanya 0,01%.
Di sinilah Hindia datang menyapa. Rayakan saja hari ini. Seandainya esok sisa sengsara, paling tidak sekarang masih bisa tersenyum dan tertawa. Kebahagiaan adalah bisa hidup di masa kini dengan tenang, tanpa perlu cemas berlebihan terhadap masa depan.
2. Sandiwara bukan lagi sebatas seni, melainkan upaya untuk menutupi realitas pahit
Kita bersandiwara
Bicara tak semestinya
Walau kita tahu nyatanya
Semua tak baik saja
Di bait kedua, Hindia seolah menampar pendengar dengan liriknya. Betapa banyak kepura-puraan yang dilakukan manusia. Hanya saja, ada yang pura-pura menjadi orang baik, ada juga yang pura-pura sedang baik-baik saja.
3. Nikmatilah selagi masih bersama karena semua pasti akan berlalu
Ada masanya kita
Mencuri ruang dan waktu
Walau pasti berlalu
Biarkan saja kita ke sana
Selagi masih bisa bersama
Tidak ada yang abadi di hidup ini. Termasuk penderitaan yang kita alami, bahkan momen hangat bersama orang yang kita sebut teman. Bercanda di bawah atap yang sama. Tertawa, terluka, bahkan terjatuh bersama.
Hindia tidak menolak momen ini. Tetapi, juga tidak memvalidasi penuh perasaan itu. Semua akan berlalu. Itu bukan pilihan, melainkan kepastian. Namun, menghargai setiap kehadiran mereka adalah pilihan. Karena pahitnya, semua yang pernah hadir tidak bisa terus menetap.
Saat masa itu sudah habis, kita tidak bisa lagi mengulangnya. Tidak ada mesin waktu, kecuali ingatan yang tersimpan di kepala kita. Paling tidak, kelak ada kehangatan yang bisa diceritakan. Lagi-lagi, hidup mengajarkan satu hal penting: tidak semua yang pergi layak untuk dilupakan.
4. Dunia luar mungkin sedang kacau, tetapi sudah saatnya kita mengambil kendali
Semuanya sementara
Kita di ujung cerita
Untuk lima menit coba kau
Mengambil alih dunia
Terkadang, merancang masa depan terasa lebih menyenangkan dibanding menghadapi realitas di masa kini. Namun, lagi-lagi Hindia menyadarkan pendengarnya. Jika hanya fokus dengan apa yang belum terjadi, kita akan kehabisan energi untuk bertarung hari ini.
Di bait keempat, Hindia mengajak kita untuk mengambil alih dunia. Sederhananya revolusi. Namun, bukan dalam skala besar seperti aksi massa. Melainkan keberanian untuk bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan, termasuk apa yang sudah kita cita-citakan saat masih kecil.
Seperti biasa, Hindia seolah tidak kehabisan akal menyihir telinga pendengarnya. Di balik kepopulerannya, "Kita Ke Sana" menyimpan banyak pelajaran hidup. Meskipun preferensi musik setiap orang pasti berbeda, tidak dosa jika kita merenungi pesan yang mereka sampaikan.
Baca Juga
-
Eat the Frog: Agar Pekerjaan Berat Cepat Selesai, Makan 'Kataknya' Dulu!
-
Bau Badan Wassalam! 5 Siasat Wangi Paripurna Meski Panas-panasan di Jalan
-
Bosen Nangis Pas Masak? Ini 5 Siasat Ngiris Bawang Biar Mata Gak Kelilipan Air Mata
-
Rahasia Meredam Pikiran Berisik: Ganti Scrolling dengan Ritual 15 Menit Ini
-
Mengenal Post-truth: Ketika Fakta Dikendalikan Rasa
Artikel Terkait
-
Menari dengan Bayangan Album Hindia Diangkat ke Film, Baskara Putra Jadi Produser Eksekutif
-
7 Film Baru dari Palari Films, Gandeng Iqbaal Ramadhan hingga Hindia
-
Bertabur Visual, Review Lagu BTS '2.0': Manifesto dan Transformasi Diri
-
Belajar Memaknai Kamis Putih lewat Lagu Membasuh dari Hindia
-
Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya
Ulasan
-
Menaklukkan Gunung Malabar: Dari Sabana Indah hingga Tanjakan Mematikan
-
Membaca Realitas Cinta Dengan Titik: Ketika Perasaan Tak Pernah Sederhana
-
Novel Pasta Kacang Merah: Menebus Luka Masa Lalu
-
Emosional, Menyentuh, dan Relatable! Film Ini Bakal Bikin Kamu Ingin Langsung Peluk Orang Tua
-
Review Lovely Runner: Ketika Cinta Memaksa Seseorang Melawan Takdir
Terkini
-
Studi: Perluasan Ruang Hijau Kota Hanya Redam Sebagian Kecil Kenaikan Suhu, Bagaimana Solusinya
-
Upah Beda, Perjuangan Sama: Siasat Bertahan dengan Gaji UMK
-
ASUS V600 All-in-One, Solusi PC Ringkas dengan Performa Tak Main-Main
-
3 Motor Touring Segala Medan Paling Canggih, Siap Taklukkan Jalan Apa Pun
-
Birokrasi Komunikasi Lewat Satu Huruf: Kenapa Chat "P" Itu Egois Banget?