M. Reza Sulaiman | Aryo Akhmad Maulana
Tangkapan layar video Kita ke Sana (youtube.com/Hindia)
Aryo Akhmad Maulana

Menjadi dewasa sering diartikan sebagai kemahiran memakai topeng. Bukan dalam arti properti pertunjukan, melainkan keahlian bersandiwara bahwa semuanya tampak baik-baik saja. Meskipun, kita tahu, hidup tidak pernah kehabisan cara untuk memberi lelucon yang tidak masuk akal.

Hindia, melalui lagu "Kita Ke Sana", berhasil mengabadikan kegetiran fase hidup ini. Liriknya tidak hanya dekat dengan realitas, tetapi juga menyentuh ketakutan yang sering kali dirasakan: momen kebersamaan yang sebentar lagi habis masanya.

1. Paradoks kebahagiaan: merayakan hari ini karena esok sisa sengsara

Rayakan hari ini

Besok sisa sengsara

Belum pulan kau pun di sini

Temani diriku

Dewasa tidak pernah habis memberi kejutan. Dulu, saat masih anak-anak, kita bisa melihat pencuri di layar-layar televisi. Bisa juga dari warisan mulut ke mulut tetangga. Namun, kini sudah berubah. Hampir setiap malam kita harus bertarung dengan satu anomali pencuri ulung: overthinking.

Ia sama hebatnya dengan pencuri kelas kakap. Bedanya, ia tidak menjarah uang yang dikumpulkan dari kompensasi lembur, tetapi merampas ketenangan di kepala sesaat sebelum tidur. Tentang skenario buruk yang mungkin terjadi di esok hari. Padahal, peluang terjadinya hanya 0,01%.

Di sinilah Hindia datang menyapa. Rayakan saja hari ini. Seandainya esok sisa sengsara, paling tidak sekarang masih bisa tersenyum dan tertawa. Kebahagiaan adalah bisa hidup di masa kini dengan tenang, tanpa perlu cemas berlebihan terhadap masa depan.

2. Sandiwara bukan lagi sebatas seni, melainkan upaya untuk menutupi realitas pahit

Kita bersandiwara

Bicara tak semestinya

Walau kita tahu nyatanya

Semua tak baik saja

Di bait kedua, Hindia seolah menampar pendengar dengan liriknya. Betapa banyak kepura-puraan yang dilakukan manusia. Hanya saja, ada yang pura-pura menjadi orang baik, ada juga yang pura-pura sedang baik-baik saja.

3. Nikmatilah selagi masih bersama karena semua pasti akan berlalu

Ada masanya kita

Mencuri ruang dan waktu

Walau pasti berlalu

Biarkan saja kita ke sana

Selagi masih bisa bersama

Tidak ada yang abadi di hidup ini. Termasuk penderitaan yang kita alami, bahkan momen hangat bersama orang yang kita sebut teman. Bercanda di bawah atap yang sama. Tertawa, terluka, bahkan terjatuh bersama.

Hindia tidak menolak momen ini. Tetapi, juga tidak memvalidasi penuh perasaan itu. Semua akan berlalu. Itu bukan pilihan, melainkan kepastian. Namun, menghargai setiap kehadiran mereka adalah pilihan. Karena pahitnya, semua yang pernah hadir tidak bisa terus menetap.

Saat masa itu sudah habis, kita tidak bisa lagi mengulangnya. Tidak ada mesin waktu, kecuali ingatan yang tersimpan di kepala kita. Paling tidak, kelak ada kehangatan yang bisa diceritakan. Lagi-lagi, hidup mengajarkan satu hal penting: tidak semua yang pergi layak untuk dilupakan.

4. Dunia luar mungkin sedang kacau, tetapi sudah saatnya kita mengambil kendali

Semuanya sementara

Kita di ujung cerita

Untuk lima menit coba kau

Mengambil alih dunia

Terkadang, merancang masa depan terasa lebih menyenangkan dibanding menghadapi realitas di masa kini. Namun, lagi-lagi Hindia menyadarkan pendengarnya. Jika hanya fokus dengan apa yang belum terjadi, kita akan kehabisan energi untuk bertarung hari ini.

Di bait keempat, Hindia mengajak kita untuk mengambil alih dunia. Sederhananya revolusi. Namun, bukan dalam skala besar seperti aksi massa. Melainkan keberanian untuk bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan, termasuk apa yang sudah kita cita-citakan saat masih kecil.

Seperti biasa, Hindia seolah tidak kehabisan akal menyihir telinga pendengarnya. Di balik kepopulerannya, "Kita Ke Sana" menyimpan banyak pelajaran hidup. Meskipun preferensi musik setiap orang pasti berbeda, tidak dosa jika kita merenungi pesan yang mereka sampaikan.