M. Reza Sulaiman | Fairus Farizki
Seorang perempuan muda berkacamata sedang bekerja di dalam ruangan menggunakan laptop dan kamera, tersenyum sembari mencatat. (Pexels/Alena Darmel)
Fairus Farizki

Punya pekerjaan utama bukan berarti seseorang tidak boleh memiliki sumber penghasilan lain. Bagi sebagian anak muda, pekerjaan sampingan justru menjadi cara untuk menambah pemasukan sekaligus mengembangkan keterampilan di luar aktivitas utama.

Fenomena ini ternyata bukan hanya tren di media sosial saja. Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Pemuda Indonesia 2024 mencatat jumlah pemuda Indonesia mencapai 64,22 juta jiwa pada 2024. Pemuda dalam statistik tersebut merujuk pada penduduk berusia 16 sampai 30 tahun.

Dalam kajian khusus mengenai side hustle, BPS juga menemukan bahwa 11,5 persen pekerja formal dan 18,1 persen pekerja informal memiliki pekerjaan tambahan. Kajian tersebut menggunakan data Sakernas Februari 2023.

Artinya, pekerjaan sampingan bukan sesuatu yang sepenuhnya asing dalam dunia kerja Indonesia. Bagi mahasiswa, pemasukan tambahan dapat digunakan untuk uang saku atau kebutuhan kuliah. Sementara bagi pekerja muda, penghasilan tambahan dapat dialihkan untuk tabungan, dana darurat, investasi, atau kebutuhan lainnya.

Menariknya, side hustle tidak selalu harus dimulai dengan modal besar. Ada pekerjaan yang bisa dimulai dengan skill yang sudah dimiliki, bahkan cukup menggunakan laptop atau smartphone saja. Lantas, apa saja side hustle yang bisa dicoba anak muda di sela-sela kuliah atau pekerjaan utama?

Menjadi Content Creator

Seorang pemuda yang mengenakan headphone merekam video di suasana rumah yang nyaman dengan properti gitar. (Pexels/Vitaly Gariev)

Menjadi content creator dapat menjadi pintu masuk untuk berbagai peluang penghasilan sekaligus membangun portofolio pribadi. Tidak harus langsung memiliki jutaan pengikut. Seseorang bisa memulainya dengan memilih satu spesifik niche yang memang dikuasai atau diminati, kemudian dokumentasikan proses belajar dan pekerjaan yang dilakukan.

Misalnya, mahasiswa humaniora dapat membuat konten tentang kehidupan kampus, budaya, atau isu sosial. Seorang desainer dapat membagikan proses membuat desain. Pekerja di bidang pemasaran dapat membagikan pengetahuan tentang strategi media sosial.

Prinsipnya adalah “Show your Work”, sebagaimana dijelaskan dalam bukunya Austin Kleon. Daripada pengetahuan dan pengalaman hanya tersimpan di kepala saja, dokumentasikan sebagian di media sosial. Konsistensi tersebut secara perlahan dapat membentuk personal branding dan portofolio.

Ketika audiens mulai terbentuk, peluang monetisasi juga semakin terbuka, mulai dari endorsement, paid promote, kerja sama dengan brand, hingga undangan menjadi pembicara atau pengisi webinar. Namun, jangan menjadikan jumlah pengikut sebagai satu-satunya ukuran. Niche yang jelas dan portofolio yang relevan sering kali lebih berguna daripada sekadar angka pengikut.

Menjual Produk Digital

Ruang kerja yang ramping dengan perangkat dan template penyuntingan video dalam suasana profesional. (Pexels/I'm Zion)

Punya kemampuan membuat desain, template, tulisan, atau sistem kerja tertentu? Jangan biarkan semuanya hanya tersimpan di laptop. Produk digital dapat menjadi salah satu cara mengubah keterampilan tersebut menjadi produk yang bisa dijual berulang kali. Contohnya adalah digital planner, habit tracker, book tracker, student life planner, template presentasi, template desain, template spreadsheet, hingga template Notion, dan lain-lainnya.

Seorang mahasiswa yang terbiasa membuat sistem pencatatan tugas, misalnya, dapat mengubah sistem tersebut menjadi template yang bisa digunakan mahasiswa lain. Begitu pula seorang desainer. Template yang awalnya dibuat untuk kebutuhan pribadi atau pekerjaan dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai jual.

Berbeda dengan barang konvensional, produk digital sama sekali tidak membutuhkan biaya produksi fisik ataupun gudang penyimpanan. Keuntungan terbesarnya? Kamu bisa memulainya dengan modal yang sangat minim, bahkan hampir tanpa pengeluaran sama sekali, cukup buat produknya sekali, dan kamu bisa menjualnya berkali-kali tanpa batas!

Karena itu, anggap produk digital sebagai cara untuk mengemas keterampilan menjadi aset, bukan sebagai sumber uang pasif yang otomatis menghasilkan tanpa usaha.

Mencoba Affiliate Marketing

Rapat kantor yang dinamis bersama rekan kerja dengan uang yang berhamburan, menggambarkan kesepakatan kerja. (Pexels/Tima Miroshnichenko)

Tidak punya produk sendiri? Affiliate marketing dapat menjadi alternatif. Secara sederhana, affiliate marketing memungkinkan seseorang mendapatkan komisi dengan mempromosikan produk atau layanan melalui tautan khusus. Ketika orang lain melakukan pembelian melalui tautan tersebut sesuai ketentuan program, kreator dapat memperoleh komisi.

Model ini cocok bagi seseorang yang sudah membangun konten dengan niche tertentu. Misalnya, seseorang yang rutin membuat konten tentang buku dapat membagikan tautan buku yang memang relevan dengan pembacanya. Kreator teknologi dapat membahas perangkat yang digunakannya. Sementara kreator kecantikan dapat membuat konten mengenai produk yang memang digunakan.

Tapi, kuncinya bukan sekadar membagikan sebanyak mungkin tautan. Kalau seluruh konten berubah menjadi katalog iklan, audiens justru dapat kehilangan kepercayaan. Affiliate marketing lebih masuk akal ketika produk yang ditawarkan memang berkaitan dengan niche dan memberikan manfaat bagi audiens. Dengan kata lain, bangun kepercayaan terlebih dahulu, kemudian monetisasi.

Menjadi Freelancer

Seorang pria yang tampak ceria sedang duduk di bawah pohon sambil bekerja menggunakan laptop di tengah suasana pedesaan yang tenang. (Pexels/Matheus Bertelli)

Punya keterampilan tertentu? Menjual jasa sebagai freelance bisa menjadi pilihan yang lebih langsung untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Jenisnya sangat beragam. Ada desain grafis, ilustrasi, fotografi, editing video, penerjemahan, penulisan artikel, copywriting, proofreading, hingga pengelolaan media sosial.

Mahasiswa yang memiliki kemampuan desain dapat menawarkan jasa membuat poster atau materi promosi. Sementara seseorang yang memiliki kemampuan menulis dapat menawarkan jasa penulisan artikel atau copywriting. Di sinilah portofolio menjadi penting.

Daripada hanya mengatakan “saya sangat mahir membuat desain super estetik”, tunjukkan saja hasil desain yang pernah dibuat. Daripada hanya mengatakan “saya sangat jago menulis berpuluh-puluh rima”, tunjukkan saja tulisan yang pernah dipublikasikan. Portofolio membuat calon klien dapat melihat kemampuan sebelum menggunakan jasa.

Bagi anak muda yang sedang membangun karier, freelance juga memiliki keuntungan lain. Pekerjaan tersebut dapat menjadi rekam jejak tambahan di luar pekerjaan utama. Jadi, side hustle tidak hanya menghasilkan uang, tetapi juga dapat memperluas pengalaman kerja.

Menjadi Clipper

Tampilan close-up software interface editing video yang memperlihatkan timeline dan kontrol. (Pexels/Abdulkadir Emirolu)

Bagi yang tertarik dengan dunia konten tetapi belum percaya diri tampil sebagai kreator, menjadi clipper dapat menjadi pilihan. Clipper bekerja dengan mengambil bagian menarik dari video berdurasi panjang, seperti podcast, wawancara, diskusi, atau konten edukasi, kemudian mengolahnya menjadi video pendek yang lebih mudah dikonsumsi.

Keterampilan yang dibutuhkan relatif spesifik. Kemampuan memilih bagian paling menarik, memahami konteks, melakukan editing, memberikan subtitle, dan membuat potongan video yang memiliki daya tarik menjadi modal penting. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh dilupakan, yaitu “hak penggunaan konten”.

Jangan sembarangan mengambil dan mengunggah ulang video orang lain tanpa izin. Model kerja yang lebih aman adalah bekerja langsung dengan pemilik konten atau menggunakan materi yang memang memberikan izin penggunaan.

Bagi mereka yang tertarik pada industri kreator, keterampilan clipping juga dapat menjadi portofolio untuk masuk ke bidang video editing dan content production.

Side Hustle Bukan Berarti Harus Bekerja Tanpa Henti

Side hustle memang dapat menjadi cara untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Namun, jangan sampai keinginan mencari pemasukan tambahan justru membuat pekerjaan utama, kuliah, kesehatan, dan kehidupan pribadi terbengkalai.

BPS dalam kajiannya mengenai side hustle juga menemukan adanya perbedaan jam kerja antara pekerja yang memiliki pekerjaan tambahan dan mereka yang tidak. Fenomena pekerjaan tambahan perlu dilihat juga dari beban kerja dan keseimbangan hidup.

Karena itu, tidak perlu memaksakan diri mencoba lima hal sekaligus. Pilih satu keterampilan yang sudah dimiliki, dokumentasikan pekerjaan tersebut, bangun portofolio, kemudian cari cara untuk mengubahnya menjadi sumber penghasilan.

Pada akhirnya, side hustle yang baik adalah pekerjaan yang bisa menjadi ruang untuk mencoba sesuatu yang baru, berbeda, membangun portofolio, memperluas jaringan, dan perlahan menciptakan sumber pendapatan tambahan di luar pekerjaan utama.