Punya IQ tinggi katanya bikin masa depan lebih cerah. Tapi kalau begitu, hidup seharusnya gampang saja dijalani, tinggal tes IQ sekali, lihat angkanya, lalu tahu akan jadi apa kita nanti. Tapi, pada kenyataannya tentu tidak sesederhana itu.
Ada cerita menarik datang dari Reza Arap yang cukup menggelitik. Dalam tayangan “Marapthon The Last Tale” pada 6 Maret 2026, anggota AAA Clan mengikuti tes IQ dan Arap mendapat skor 85, paling rendah di antara teman-temannya yang lain. Bravy justru mendapat skor tertinggi, yakni 112. Hasil ini kemudian ramai dibicarakan karena sebelumnya Arap pernah mengaku memiliki IQ tinggi.
Namun, apakah skor 85 berarti seseorang tidak bisa sukses? Tentu tidak. IQ memang berkaitan dengan sejumlah capaian akademik dan pekerjaan, tetapi penelitian menunjukkan bahwa kehidupan seseorang dibentuk oleh jauh lebih banyak hal. Kalau begitu, apa saja faktor yang ikut menentukan kesuksesan?
1. Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu faktor penting yang menjembatani kemampuan seseorang dengan kehidupan profesional. Penelitian longitudinal terhadap ribuan partisipan di Jerman menunjukkan bahwa kecerdasan memang berkaitan dengan pendapatan dan status pekerjaan, tetapi pendidikan menjadi prediktor yang sangat kuat terhadap keduanya. Artinya, punya kemampuan kognitif saja belum cukup. Kemampuan tersebut perlu diterjemahkan menjadi pengetahuan dan keterampilan yang bisa digunakan di dunia nyata.
2. Kepribadian
Orang pintar belum tentu menyenangkan diajak bekerja sama. Penelitian terhadap lebih dari 12.000 orang dalam UK Household Longitudinal Study menemukan bahwa intelligence dan personality sama-sama berhubungan dengan pendapatan. Studi lain juga menunjukkan bahwa conscientiousness, emotional stability, dan extraversion berkaitan dengan berbagai capaian karier. Jadi, kemampuan berpikir memang penting, tetapi bagaimana seseorang mengatur dirinya, bekerja, berkomunikasi, dan menghadapi tekanan juga ikut menentukan.
3. Habit/Kebiasaan
Kesuksesan ternyata juga bisa lahir dari suatu rutinitas yang sangat membosankan, yaitu habit atau kebiasaan. Studi longitudinal terhadap 745 orang yang diikuti sejak masa kanak-kanak hingga usia 52 tahun menemukan bahwa karakteristik dan perilaku ketika masih sekolah dapat memprediksi keberhasilan pekerjaan dan pendapatan puluhan tahun kemudian, bahkan setelah IQ dan status sosial-ekonomi diperhitungkan. Kadang masalahnya bukan kita kurang pintar, tetapi kita terlalu jago menunda.
IQ tidak mengukur seluruh kemampuan manusia. Kemampuan memahami dan mengelola emosi juga memiliki kaitan dengan pencapaian seseorang. Meta-analisis Carolyn MacCann dan kolega terhadap 42.529 siswa dari 27 negara menemukan hubungan positif antara emotional intelligence dan performa akademik. Bukan berarti EQ lebih penting daripada IQ. Poinnya sederhana, yaitu kemampuan memahami diri sendiri dan orang lain merupakan modal yang tidak tercermin sepenuhnya dalam angka IQ.
5. Kesempatan dan lingkungan
Ini bagian yang sering dilupakan ketika orang membicarakan kesuksesan. Tidak semua orang memulai dari garis yang sama. Kondisi keluarga, pendidikan, lingkungan sosial, akses terhadap kesempatan, bahkan pekerjaan yang tersedia dapat mempengaruhi hasil akhir seseorang. Karena itu, mengatakan bahwa orang sukses semata-mata sukses karena “lebih pintar” juga terlalu menyederhanakan persoalan. Kemampuan seseorang harus bertemu dengan kesempatan agar dapat menghasilkan sesuatu.
Pada akhirnya, skor IQ Reza Arap dalam sebuah tayangan hiburan tidak banyak memberi tahu kita mengenai keseluruhan dirinya. Angka 85 tidak otomatis berarti masa depannya buruk, sebagaimana IQ tinggi juga tidak otomatis membuat seseorang kaya, terkenal, atau berhasil.
IQ tetap penting. Kemampuan kognitif membantu kita belajar, memecahkan masalah, dan memahami sesuatu. Tetapi manusia bukan angka pada lembar tes. Ada pendidikan, kepribadian, kebiasaan, kecerdasan emosional, lingkungan, dan kesempatan yang ikut menentukan ke mana seseorang akan berjalan.
Jadi, kalau hari ini IQ-mu tidak setinggi yang kamu harapkan, mungkin tidak perlu buru-buru panik. Hidup bukan ujian IQ dengan satu jawaban benar. Untungnya, kalau memang begitu, Reza Arap mungkin sudah harus menyerah sejak hasil tes itu keluar.
Baca Juga
-
Menjaga Daya Kritis Gen Z, Suara.com dan Bulaksumur UGM Gelar Gen Z Impact
-
Di Era AI dan Digital, Mengapa Belajar Filsafat Justru Semakin Penting?
-
Gengsi di Atas Fungsi, Mengapa Kita Terobsesi dengan iPhone?
-
Vredeburg Game On, Arena Edukasi Anak Panti oleh Loka Bestari
-
Pentingnya Mengurai Benang Kusut Pikiran lewat Journaling
Artikel Terkait
-
Ulasan Captain Fantastic dan Ilusi Hidup di Luar Sistem
-
Review Film Harusnya Horror: Ketika Geng Kreator Digital Masuk Layar Lebar, Berhasil atau Cringe?
-
Sekolah Multikultural dengan 35 Kebangsaan, Ketika Perbedaan Jadi Bagian dari Pengalaman Belajar
-
Demi Kuota Bimbel Tahun Depan, Orang Tua di Yogyakarta Rela Antre sejak Dini Hari hingga Menginap
-
Ikuti Putusan MK, Purbaya Akan Pisahkan MBG dari Dana Pendidikan Mulai 2028
Lifestyle
-
5 Pilihan Serum Anti-Aging Pria untuk Raih Wajah Segar dan Bebas Kerutan
-
5 Parfum Floral-Musk Terbaik untuk Wanita, Wangi Lembut tapi Memikat!
-
Samsung Galaxy A07s Resmi Meluncur, Bawa Helio G99+, Baterai 5.000 mAh dan Update OS 6 Tahun
-
Tidur Sekasur tapi Rasanya Seperti Teman Sekamar? Kenali 5 Tanda Pernikahan Sedang Sekarat
-
Ingin Beli Galaxy S26 FE Lebih Hemat? Ini Cara Dapat Potongan Rp500 Ribu
Terkini
-
Drama A Bona Fide Killer: Pembunuh Legendaris yang Hidup Normal sebagai Ibu
-
Karhutla Jadi Sorotan Dunia, Mengapa Respons Pemerintah Masih Santai?
-
Hotel Inhumans Rilis Lagu Tema untuk Musim Kedua, Tayang Perdana 4 Oktober
-
Suicide Awareness Month: 5 Novel yang Mengajarkan Pentingnya Support System
-
Menjaga Daya Kritis Gen Z, Suara.com dan Bulaksumur UGM Gelar Gen Z Impact