Pernah dengar kacang benguk atau tempe benguk? Kalau belum, kamu harus banyak main-main ke daerah Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di sana, tempe tak hanya dibuat dari fermentasi kacang kedelai. Masyarakat setempat mengolah kacang benguk untuk dijadikan tempe benguk.
Kalau kamu familiar dengan Ibu Kimpul atau Ibu Tin lewat akun Tiktoknya di black.sheep8208, kacang benguk ini kerap dimanfaatkan secara kreatif dalam olahannya untuk mengenalkan jenis kacang ini. Lantas, kenapa kacang benguk tidak sepopuler kedelai? Berikut ini lima faktanya!
1. Pembuatan Tempe Benguk yang Lebih Rumit
Sebelum diolah, kacang benguk memiliki beberapa kandungan senyawa yang beracun, seperti sianida. Untuk mengatasinya, kacang benguk perlu dikukus berulang kali dan direndam dalam waktu yang lama. Bahkan, untuk memastikan racunnya hilang, perendaman bisa terjadi selama 3 hari. Setelah itu, barulah kacang benguk bisa ditaburi ragi tempe.
Meskipun persiapannya lebih panjang, durasi fermentasi kacang hingga menjadi tempe hampir sama dengan kedelai. Dalam kurun waktu 48 jam saja, tempe benguk sudah siap dimasak.
Tetap saja, waktu keseluruhan pembuatan tempe benguk lebih lama, bahkan bisa mencapai 6 hari hingga siap dikonsumsi.
2. Tekstur dan Rasa yang Kurang Familiar
Biji koro benguk memiliki perbedaan signifikan secara fisik dibanding kedelai. Biji yang lebih besar dan tebal terasa lebih keras dan kasar daripada tempe biasa. Apalagi, kalau kacangnya tidak diolah dengan benar, tempe benguk akan menghasilkan sedikit rasa pahit. Orang yang tidak terbiasa dengan ini akan lebih memilih tempe kedelai yang lebih lembut dengan rasa yang cenderung netral.
3. Ketersediaan Lebih Langka
Karena tempe benguk jarang dikonsumsi secara luas, budidaya tanamannya pun tidak semasif kacang kedelai. Tanaman kacang koro benguk secara alami tumbuh di wilayah lahan yang kering, seperti di Kulon Progo. Ini menjadikan olahan kacang dan tempe benguk hanya dinikmati oleh masyarakat lokal.
4. Pendamping Setia Camilan Lokal, Geblek
Masyarakat Kulon Progo memiliki kuliner khas bernama geblek, camilan berbahan tapioka dan pati singkong yang diolah dengan cara digoreng. Namun, geblek biasanya tidak disajikan sendirian. Camilan ini kerap dinikmati bersama sepiring tempe benguk yang dimasak dengan santan.
Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa tempe benguk bukan sekadar olahan makanan, tetapi sudah menjadi bagian dari budaya dan kebiasaan kuliner masyarakat setempat.
5. Tinggi Protein, Rendah Lemak
Di balik penggunaannya sebagai bahan makanan tradisional, kacang benguk ternyata memiliki kandungan protein yang cukup tinggi, 24 - 27%. Menariknya, kandungan protein tersebut hadir dengan kadar lemak yang relatif rendah dibanding kedelai.
Kandungan tersebut membuat kacang benguk berpotensi menjadi salah satu alternatif sumber protein nabati. Tak heran jika sejak dulu bahan pangan ini dimanfaatkan untuk berbagai olahan, salah satunya tempe benguk yang masih dapat ditemukan di wilayah Kulon Progo hingga sebagian Jawa Tengah.
Kacang benguk memang tidak sepopuler kedelai untuk dibuat tempe. Mulai dari pengolahannya yang lebih lama hingga ketersediaan bahannya yang terbatas. Meski begitu, kacang benguk tetap memiliki tempat tersendiri bagi masyarakat lokal yang masih melestarikan. Penasaran dengan rasanya?
Baca Juga
-
Awas Keracunan, Perhatikan 5 Ciri Penting Ini Sebelum Menjadikan Tanaman Liar Sebagai Makanan
-
Tren Joki Baca Buku: Melorotnya Literasi atau Jadi Ladang Cuan Kutu Buku?
-
5 Rekomendasi Drakor Komedi dengan Humor Absurd, Dijamin Bikin Ngakak!
-
5 Bahan Makanan Tradisional yang Kini Mendunia, Ada Matcha hingga Ube!
-
Rasisme di Like a Winding Sheet: Siapa yang Salah, Siapa yang Kena Marah?
Artikel Terkait
Lifestyle
-
Kulit Auto Adem! 5 Calming Moisturizer Buat Redakan Kemerahan Saat Breakout
-
Hempas Jerawat Punggung, 5 Sabun Batang Ini Bikin Kulit Halus dan Sehat
-
4 Sunscreen Beta Glucan Kunci Kulit Terhidrasi dan Skin Barrier Anti-Rusak
-
Awas Keracunan, Perhatikan 5 Ciri Penting Ini Sebelum Menjadikan Tanaman Liar Sebagai Makanan
-
4 Pore Clear Pad Eksfoliasi Wajah agar Pori-Pori Bersih dan Lawan Bruntusan
Terkini
-
Ulasan 'Monster Manners A to Z', 26 Monster yang Ternyata Jago Tata Krama
-
Susah Fokus Bukan Cuma karena 'Gadget': Memahami Mitos Attention Span di Era Digital
-
Michelle Yeoh Sebut Ingin Bintangi Film Korea dari 3 Sutradara Ternama Ini
-
Sinopsis Beneath the Lies, Drama Terbaru Yaya Urassaya dan Kao Noppakao
-
Jerat "Child Grooming" Makin Berbahaya, Orang Tua Harus Menyelamatkan Anak