Kawan-kawan pernah makan nasi pecel? Atau mungkin berdomisili dekat dengan produsen sambal pecel?
Nah, di beberapa daerah seperti Kediri atau Solo, rupanya ada sambal lain yang mendampingi atau bahkan dicampurkan dalam nasi pecel. Sambal itu berjuluk sambal tumpang.
Sambal tumpang sendiri merupakan olahan makanan yang dibuat dari tempe bosok alias tempe semangit, yakni tempe yang sudah mengalami fermentasi lanjutan sehingga warna dan aromanya agak berubah. Namun, tentu saja fisiknya harus yang masih bagus dan layak konsumsi ya.
Setahuku, resepnya cukup sederhana. Yakni cabai rawit, bawang merah, bawang putih, garam, kencur, penyedap rasa, santan, daun jeruk purut, lengkuas, dan daun salam. Walau pada beberapa versi ada campuran ebi kering yang semakin menambah cita rasa.
Namun, eksistensi sambal tumpang rupanya nggak sekadar kekayaan kuliner Nusantara saja lho!
Kesederhanaan dan Pemanfaatan Bahan yang Tersedia
Sambal tumpang secara logika saja sebenarnya menakjubkan, ketika masyarakat pandai memanfaatkan tempe bosok yang nyaris nggak selamat. Umumnya, tempe bakal mengalami proses fermentasi lanjutan setelah tiga hari atau semingguan. Kalau jumlahnya sedikit, tentu bisa digunakan sebagai penyedap masakan saja. Lha kalau jumlahnya banyak?
Oleh sebab itulah, masyarakat memberdayakannya sebagai menu yang murah meriah. Aku lantas berpikir panjang mengenai hal ini. Bahwasanya sambal tumpang bukan cuma sebagai entitas kesederhanaan sikap, tetapi pelajaran untuk memberikan kesempatan kepada yang lain. Tentu dengan catatan ‘masih bisa diselamatkan’ ya.
Kemudian, budaya kulinernya yang kadung melekat pada mayoritas masyarakat Jawa, tentu mampu memunculkan kerinduan bagi yang merantau jauh. Sekadar kenangan dan nostalgia era lampau adalah bonus yang mengikuti juga.
Konsep Yin dan Yang Mengakumulasi Prosesnya
Kendati secara kasar sambal tumpang dimasak dengan mengolah tempe bosok, tetapi ada teknik yang bakal mempengaruhi citarasanya. Yakni mencampur rasio tempe bosok dengan tempe standar. Ibarat kata, konsep Yin dan Yang diperlukan juga dalam memasak menu olahan ini.
Melansir laman World History, Yin dan Yang sendiri adalah paham Tionghoa mengenai segala sesuatu di semesta yang bertolak belakang, tetapi saling terikat dan melengkapi. Ying disimbolkan dengan sisi hitam bertitik putih, dan Yang disimbolkan dengan sisi putih bertitik hitam.
Dalam hal ini, rasio tempe bosok yang terlalu banyak bakal menimbulkan rasa pahit dan semangit ke dalam masakan. Kalau rasio tempe standar kelebihan, rasanya bakal sedikit hambar, dan jadi nggak memiliki esensi sambal tumpang.
Namun, kalau lebih menyukai kesan light tapi esensinya masih ada, kita bisa menggunakan rasio tempe standar, tempe medem (fermentasi lanjutan tapi belum membusuk dan warna belum terlalu pekat), juga tempe bosok bersamaan.
Dimakan dengan Sayuran Bikin Nafsu Makan Meroket
Aku sendiri prefer sambal tumpang tipe light, daripada yang bold karena murni tempe bosok saja. Namun, citarasanya lebih nendang dengan pedas dan asin gurih yang menonjol. Bagiku, rasanya lebih mantul untuk sambal siram sayuran rebus, dimakan pakai nasi anget-anget, dan lauk kerupuk renyah.
Kendati praktik di daerahku adalah mencampurkan sambal tumpang dengan nasi pecel, tetapi aku kurang suka. Rasa otentiknya jadi bercampur dan malah aneh. Namun, semua balik ke selera masing-masing ya.
Pun pada tambahan rempah seperti ebi kering (urang dawu) juga bisa menjadi pilihan praktis. Selain fungsinya sebagai penyedap rasa alami, ebi juga turut menyumbang rasa klasik dan otentik khasnya. Namun kalau stok ebi sedang habis, cukup menggunakan kaldu bubuk saja sudah maknyus kok.
So, kawan-kawan sekalian sudah pernah mencoba sambal tumpang?
Baca Juga
-
Menilik Bakso: Antara Sejarah, Akulturasi Budaya, dan Momen Bareng Keluarga
-
Viral Audio 'Bare Minimum' dan Manga Veil: Benarkah Ekspektasi Hubungan Gen Z Ketinggian?
-
Review Drama Thailand Hua Jai Sila: Plot Balas Dendam dan Dark Romance yang Brutal
-
Rahasia Bumbu Aromatik Masakan Nusantara dan Segudang Manfaat Kemangi
-
Ulasan The Early Spring: Akting Kece dan Puppy Eyes Gemas ala Jing Bo Ran
Artikel Terkait
-
Jangan Dibuang! Ternyata Tempe "Bosok" adalah Rahasia Kelezatan Masakan Jawa
-
Bukan Sekadar Tren, Ini Bukti Kuliner Nusantara Kini Jadi 'Raja' di Negeri Sendiri
-
Tetap Aktif di Usia Senja, Para Oma Ini Jadi Sosok Hangat di "Uma Oma Heritage"
-
Nikmati Sambal Seruit Khas Lampung di Jambi, Tempat Nyaman Rasa Juara!
-
Mencicipi Autentisitas Jambi, Sensasi Asam Pedas Tempoyak Ikan
Ulasan
-
Review Pirunduk: Budaya Banjar Jangan Cuma Jadi Hiasan Horor Lokal di Layar
-
Insidious: Out of the Further, Petualangan Baru Melintasi Dua Dimensi
-
Beautiful Pain: Kisah Nyata Perjuangan Perempuan Bangkit dari Luka KDRT
-
Mengapa Pikiran Memengaruhi Keadaan Kita? Review Buku The Law of Attraction
-
Review Film Henry's First Date: Misteri Ingatan yang Tereset Setiap Pagi
Terkini
-
Bingung Mulai Investasi? New BIONS by BNI Sekuritas Bikin Semua Jadi Mudah
-
Mencegah Kriminalisasi Kebijakan Tanpa Meloloskan Korupsi
-
Romantis! Alpha Drive One Bahas Koneksi Emosional di Lagu Baru, Talk To Me
-
Pemerintah Gemar Solusi Instan, Siapa yang Menyelesaikan Akar Masalah?
-
Sisi Gelap Tren Thrifting: Niat Kurangi Limbah, Malah Nimbun Baju Bekas